Mandhasiya, Tradisi Masyarakat Karanganyar Agar Terhindar dari Malapetaka

Rabu, Juni 29, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti didampingi Bupati Demak M Nasir dalam acara sedekah bumi dan laut di Desa Betahwalang, Kabupaten Demak, Senin (29/7). Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
Terdiri dari berbagai suku dan budaya, Indonesia memiliki banyak tradisi leluhur yang masih dilakukan sampai saat ini. Mulai dari yang ekstrem hingga yang unik, semuanya bertujuan untuk memperoleh kebaikan.
Dari sekian banyak tradisi yang ada, salah satunya bisa kamu temukan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, yang terkenal dengan Tradisi Mandhasiya. Apa itu, ya?

Kamu tentu pernah mendengar upacara sedekah bumi bukan? Ya, Mandhasiya merupakan tradisi upacara sedekah bumi yang dilakukan agar terhindar dari malapetaka seperti wabah penyakit atau hama tanaman yang susah ditanggulangi.
Upacara ini dilakukan setiap 7 bulan sekali pada Selasa Kliwon. Pelaksanaan upacara Tradisi Mandhasiya terdiri dari 2 tahap, pertama tahap pra upacara dan kedua tahap prosesi upacara.

Prosesi Tradisi Mandhasiya

Pada tahap pra upacara dimulai dari musyawarah menentukan panitia upacara, setelah terbentuk, pada Hari Minggu Pon Wuku masyarakat akan mengumpulkan beras dan uang di rumah Kepala Desa untuk keperluan upacara.
Beras dan uang tersebut akan dibelanjakan untuk keperluan sesaji seperti membuat Gandhik. Gandhik adalah beras yang direndam dan ditumbuk hingga menjadi tepung kemudian dibumbui dengan garam, kelapa dan bumbu lainnya lalu di cetak dan dikukus.
Ketika memasak Gandhik terdapat pantangan yang tidak boleh dilakukan yaitu tidak boleh mencicipinya.
Setelah menyiapkan keperluan sesaji, pada proses pra upacara masyarakat juga akan melakukan tradisi menabuh Bendhe dan Tirakatan pada malam Selasa Kliwon.
Bendhe merupakan perangkat gamelan yang akan dimainkan sambil mengelilingi desa dan berakhir di tempat-tempat yang dianggap keramat di Desa Pancot. Menabuh Bendhe juga disimbolkan sebagai penanda bahwa upacara Mandhasiya telah dimulai.
Lalu, pada malam hari dilanjutkan tirakatan atau pertapaan di rumah adat setempat.
Selanjutnya, prosesi upacara puncak Tradisi Mandhasiya dilaksanakan pada hari Selasa Kliwon.
Pada proses puncak ini kerap kali menarik wisatawan untuk melihatnya, berbagai acara atau pertunjukan dipertontonkan di antara masyarakat dan wisatawan yang hadir.

Daya Tarik Tradisi Mandhasiya

Warga menari bersama penari tayub yang diyakini membawa berkah saat pentas dalam tradisi sedekah bumi di Bale Panjang. Foto: Aji Styawan/Antara Foto
Beberapa acara dari Tradisi Mandhasiya yang menarik untuk disaksikan antara lain pertunjukan reog dan penari jathil yang diiringi gamelan.
Para penari reog tersebut akan berjalan menuju Punden Balai Pathokan atau tempat pemujaan sejauh 200 meter dan mengelilingi pasar tiban sebanyak tiga kali.
Kemudian dilanjutkan dengan penyiraman Air Badheg, yaitu air fermentasi tape ketan.
Penyiraman ini merupakan simbol peringatan bahwa masyarakat tidak boleh meminum minuman beralkohol. Selain itu terdapat kegiatan nazar yaitu melempar ayam ke atap yang kemudian akan diperebutkan oleh warga dan wisatawan yang hadir.
Tradisi Mandhasiya ini memiliki keunikan dan nilai budaya yang menjadi daya tarik utama sasaran kunjungan wisatawan.
Menyaksikan upacara Tradisi Mandhasiya memiliki elemen daya tarik wisata seperti seni dan musik, tradisi, kerajinan hingga makna lokal dan tradisional yang diyakininya.

Sumber : kumparan.com

0 comments: