Mengapa Penduduk Korea Selatan Meninggalkan Kota Seoul?

Jumat, Juni 17, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Eksodus massal penduduk Seoul antara lain disebabkan oleh lonjakan harga properti dan daya pikat lingkungan asri di kota kecil bagi keluarga dengan anak-anak.
Data statistik yang dirilis pemerintah Korea Selatan, Senin (13/06) lalu, menunjukkan 9,49 juta penduduk hidup di kawasan metropolitan Seoul pada 2022, turun dari sekitar 10,97 juta menurut sensus penduduk tahun 1992.

Anjloknya jumlah penduduk ibu kota sudah melampaui batas 10 juta sejak 2016 silam. Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri dan Keselamatan, jumlah penduduk di Seoul diprediksi berkisar hanya 7,2 juta orang pada 2050.


Fenomena itu tidak hanya menguras tenaga kerja handal di Seoul, tetapi juga dikhawatirkan bisa mempengaruhi pamor ibu kota Korea Selatan yang berusaha memikat tenaga kerja berkualitas dari Hong Kong dan Cina.

Sejak lama, ibu kota Korea Selatan berambisi menyaingi Tokyo atau Singapura sebagai pusat bisnis teknologi dan keuangan di Asia.

Tersulut panasnya pasar properti
Kim Hyun-jung termasuk yang mengikuti gelombang eksodus warga Seoul ke luar kota. Melalui kepindahannya itu, dia menukar kepadatan di ibu kota dengan lahan hijau terbuka di Provinsi Gangwon, sekitar 2,5 jam berkendara dari Seoul.

"Alasan utama kenapa orang pindah adalah harga rumah," katanya kepada DW. "Harga kini meningkat cepat dan tidak lagi bisa dijangkau banyak orang di Seoul," imbuhnya.

Pada Mei 2017, harga rata-rata rumah keluarga di wilayah metropolitan Seoul masih berkisar 341 juta won atau Rp3,7 miliar. Memasuki Maret 2022 lalu, angkanya melejit menjadi rata-rata Rp7,1 miliar.

Lonjakan harga properti ikut berimbas pada pasar sewa. Karena menurut sistem penyewaan rumah di Korea Selatan yang disebut "jeonse," penyewa tidak membayar sewa bulanan, melainkan membayar uang jaminan senilai hingga 80% dari nilai harga rumah.

Di dalam sistem ini, pemilik properti memetik keuntungan bulanan dari bunga deposito bank, sampai uangnya dikembalikan setelah berakhirnya masa sewa.

Tren urban dan kota satelit
Dan Pinkston, seorang guru besar di Universitas Troy, Seoul, mengakui adanya tren kepindahan penduduk. Menurutnya fenomena ini turut digerakkan oleh derasnya pembangunan oleh pemerintah.

"Pemerintah berinvestasi banyak untuk membangun infrastruktur transportasi, terutama menambah jalur kereta cepat dari kota-kota satelit supaya penduduk yang tinggal di kejauhan bisa berpergian ke pusat kota dengan lebih mudah," kata dia.

"Kebanyakan menyukai kota-kota baru ini karena dilengkapi fasilitas baru, sekolah dan rumah sakit modern, serta kualitas hidup yang lebih baik, tapi masih bisa bekerja di Seoul."

Studi yang dibuat ECA Internatonal, sebuah perusahaan konsultan mobilitas dan transportasi, menemukan Seoul sebagai kota kesepuluh paling mahal di dunia untuk kaum ekspatriat. Adapun Hong Kong masih berdiri di urutan teratas, diikuti Tokyo, Shanghai dan Guanghzhou di Cina.

Dampaknya, tidak sedikit perusahaan Korea yang mengaku kesulitan merekrut tenaga kerja berkualitas, terutama untuk bidang sains, teknologi, dan mesin.

Budaya bisnis baru
Pinkston mengakui, perusahaan yang mencari sentra bisnis alternatif di Asia Pasifik kemungkinan tidak akan melirik Seoul. Namun, hal ini lebih berkaitan dengan pergeseran tren bisnis yang menjauhi cara-cara "tradisional."

"Ada banyak perusahaan start-up teknologi yang didirikan oleh anak muda. Mereka biasanya tidak ingin menempuh jalur tradisional dengan berkuliah di sekolah elit dan manjutkan bekerja di perushaan besar di Korea," kata dia. "Kami mulai menjauhi model tersebut."

Menurutnya, salah satu keuntungan terbesar perekonomian modern berbasis teknologi adalah bahwa perusahaan tidak lagi harus mengahabiskan uang untuk menyewa kantor mahal di kompleks bisnis mewah. Namun, apa yang baik bagi pelaku usaha, belum tentu berdampak positif bagi kota seperti Seoul.



Sumber : detik.com

0 comments: