Mengenal Budaya Sikerei yang Hampir Punah di Pulau Mentawai, Indonesia

Rabu, Juni 29, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Aman Lepon seorang Sikerei sedang mencari Ulat Sagu makanan khas Mentawai. Kredit foto: Luthfi Ridzki Fakhrian/pribadi
Mentawai adalah kabupaten kepulauan yang terletak dalam wilayah Sumatera Barat, meskipun berada di Sumatera Barat orang mentawai sangatlah berbeda secara keseluruhan dengan orang Sumatera Barat yang biasanya beretnis Minang dan beragama Islam, J.R Logan dalam Kebudayaan Suku Mentawai (1986: 2-3) menyebut bahwa orang Mentawai adalah orang dengan perawakan menarik, berwarna kulit cokelat kekuningan, sangat jarang didapati cacat fisik, karena mereka hidup menurut keadaan yang sesungguhnya dari alam (yaitu hasil seleksi proses natural). Biasanya, karakter dari orang Mentawai itu berhati baik, ramah, senang menghargai/menghormati orang lain, tidak suka berperang, dan senang terhadap hiasan, sehingga tidak mengherankan jika tubuh mereka dipenuhi dengan tato.

Apa itu Sikerei ?

Di pedalaman Butui, Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, hidup orang mentawai yang disebut sebagai sikerei atau seorang yang mempunyai keahlian dalam pengobatan tradisional sehingga memiliki kemampuan dalam meracik berbagai tumbuhan obat, untuk mengobati berbagai penyakit hanya dengan menggunakan banyak jenis tumbuhan. Seorang sikerei juga memiliki kekuatan supranatural sehingga mampu berkomunikasi dengan roh-roh.
Luthfi Ridzki Fakhrian bersama Aman Lepon seorang Sikerei di Pedalaman Butui, Mentawai, Kredit foto: Luthfi Ridzki Fakhrian/pribadi
Secara hipotesis, dengan adanya sikerei kita dapat melihat bahwasannya mereka memiliki peran yang sangat besar sekaligus penting dalam menjaga dan melestarikan budaya asli Indonesia khususnya budaya asli orang Mentawai.

Budaya yang Kini Terancah Punah

Namun, saat ini mereka menghadapi masalah yang besar karena sikerei yang menjadi budaya asli Mentawai saat ini seperti mulai kehilangan arti pentingnya dan bahkan terancam punah di tanah Mentawai sendiri.
Hal ini terjadi karena adanya modernisasi, saat ini kita dapat melihat masyarakat Mentawai telah banyak mengalami beberapa perubahan signifikan dalam kehidupan sosial dan budaya mereka sehari-hari. Dengan diperkenalkannya Pancasila dan arus transmigrasi yang ada, mayoritas orang Mentawai asli semakin kehilangan hubungan dengan leluhurnya.
Dari semua jumlah orang Mentawai saat ini secara tradisional, hanya mereka yang menjadi sikerei yang masih tinggal dalam unit keluarga yang berpusat di rumah panjang atau uma, yang tersebar di seluruh hutan di mana mereka masih aktif mengamalkan adat budaya asli mentawai yang telah banyak ditinggalkan dan hanya menjadi 1 persen dari populasi orang asli Mentawai, yang lokasinya juga terisolir di selatan Siberut.
Tetapi bukan hanya karena adanya modernisasi yang sudah mulai masuk ke wilayah Mentawai. Melainkan ada faktor lain yang juga mempengaruhi mulai sedikitnya orang mentawai yang ingin menjadi seorang sikerei, hal ini terjadi karena proses menjadi seorang sikerei sendiri yang bisa dibilang tidaklah sembarangan dan sangatlah sulit sehingga tidak mudah bagi orang mentawai yang sudah mengenal modernisasi untuk melalui proses itu dan menjadi seorang sikerei.
Luthfi Ridzki Fakhrian bersama delegasi Sekebun Aksi 2 lainnya dalam FGD bersama Aman Lepon di Uma Mentawai, Kredit foto: Luthfi Ridzki Fakhrian/pribadi

Proses Menjadi Sikerei

Aman Lepon seorang Kepala Suku Sikerei dari Butui, Siberut Selatan, Pedalaman Kepulauan Mentawai, dalam Forum Group Discussion bersama delegasi Sekebun Aksi 2 (2022) di Bumi Sikerei, menceritakan tentang bagaimana proses seorang menjadi sikerei, Pertama dalam penjelasannya hal yang paling sering terjadi sebelum seserang memilih menjadi seorang sikerei adalah karena telah ditandai dengan adanya penyakit. Orang Mentawai mempunyai kepercayaan jika seseorang diberi suatu tanda misalnya menderita suatu penyakit dalam durasi waktu yang lama, dan bahkan tidak bisa disembuhkan walaupun telah diobati, maka hal itu menjadi suatu pertanda kalau orang itu sudah dipanggil oleh alam dan leluhur agar menjadi seorang sikerei. Di banyak kasus ketika seseorang bersedia menjadi seorang sikerei maka penyakit yang tadinya tidak bisa disembuhkan akan hilang dan sembuh dengan sendirinya. Argumen lain dari mereka yang memilih untuk menjadi seorang sikerei ialah karena terdapat satu dorongan dari dalam dirinya sendiri. Keinginan itu umumnya timbul dalam dirinya setelah memiliki ketertarikan akan sikerei.
Setelah itu mereka yang memutuskan menjadi sikerei diharuskan melalui berbagai tahapan lainnya salah satunya adalah melakukan Tadek yaitu upacara untuk pengangkatan seseorang menjadi sikerei. Nantinya seluruh rangkaian dari Tadek itu harus disiapkan oleh keluarga calon sikerei, upacara Tadek sendiri juga memiliki berbagai persyaratan yang harus dipenuhi. Karena upacara ini adalah momen yang sakral di mana menjadi suatu pemberitahuan bahwa akan ada seorang sikerei baru, sekaligus menunjukkan bahwa menjadi seorang sikerei haruslah belajar dulu kepada guru atau orang yang lebih dahulu menjadi sikerei. Calon sikerei baru ini umumnya berasal dari anak laki-laki dari seorang sikerei atau orang biasa yang ingin menjadi sikerei.

Hubungan dengan Leluhur melalui Kepercayaan Arat Sabulungan

Dalam masyarakat mentawai sendiri menjadi sikerei berarti kembali kepada leluhur dan kepercayaannya yaitu Arat Sabulungan di mana kepercayaan ini memandang bahwa religi menurut pandangan orang Mentawai adalah segala sesuatu yang ada sebutan memiliki jiwa atau roh (kina, simagere, kecat dan pitok), contohnya adalah manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda bahkan fenomena yang tampak dalam beberapa waktu saja, seperti pelangi, dan langit tak berawan, ujar Reima Schefold terkait Arat Sabulungan, dikutip dari Mainan Bagi Roh (1991)
Biasanya setelah menjadi seorang sikerei mereka akan memberi tato pada tubuh mereka, tradisi pembuatan tato itu sendiri disebut dengan nama Titi, dan dilakukan dengan pewarna rotan dan arang kelapa, paku, jarum, dan dua potong kayu yang dibentuk menjadi tongkat mirip palu oleh seorang sikerei.
Namun yang perlu digaris bawahi adalah seni tato mentawai sendiri juga berbeda dengan seni tato modern saat ini, karena dapat dikatakan bahwa tato mentawai sendiri adalah salah satu seni tato tertua yang ada di dunia ini di mana proses pembuatannya masih menggunakan bahan-bahan alami dan dikerjakan dengan cara sederhana dengan alat tradisional mentawai, bagi mereka tato adalah pakaian, lambang identitas, dan bagian dari dari hidup seorang sikerei sehingga tidak heran bentuk tato di tubuh mereka ada yang menyerupai seperti baju, hasil buruan, hingga matahari yang semuanya menggambarkan kesatuan tubuh mereka dengan alam.
Mereka biasanya tinggal di rumah tradisional yang disebut Uma yang merupakan rumah panjang dan dibuat dengan menganyam bilah bambu untuk membuat dinding dan atap jerami dengan rumput, lantainya di atas panggung dan terbuat dari papan kayu. Setiap Uma dihiasi dengan tengkorak berbagai binatang yang pernah mereka buru.
Pakaian utama untuk pria sikerei adalah kain pinggang yang terbuat dari kulit pohon karet mereka juga menghiasi diri mereka dengan kalung dan bunga di rambut dan telinga mereka. Sedangkan wanita sikerei memakai kain lilit di pinggang dan rompi kecil tanpa lengan yang terbuat dari daun lontar atau pisang, mereka juga biasanya mengasah gigi mereka dengan pahat untuk alasan estetika.

Masalah Lingkungan untuk masyarakat Mentawai

Grace Dungey dan Nicholas Rodway dalam tulisan Oleh Mentawai untuk Mentawai: Bagaimana pendidikan berbasis masyarakat dapat menyelamatkan sebuah suku (2017), mengatakan bahwa salah satu masalah utama bagi masyarakat Mentawai adalah masalah lingkungan yaitu penggundulan hutan karena hutan hujan mereka mengandung banyak kayu.

Pada 2015 saja, terdapat 20.000 hektar hutan disisihkan sebagai kawasan perkebunan kelapa sawit di Siberut. LSM lokal sudah banyak berusaha untuk menekan pihak berwenang Indonesia untuk membatalkan izin, termasuk tanah adat Mentawai. Namun, bahkan dengan keberhasilan ini, kemungkinan penebangan tetap menjadi ancaman konstan di pulau-pulau tersebut.
Saat ini lebih dari 80 persen Kepulauan Mentawai dimiliki dan dikelola oleh negara, sehingga menyulitkan masyarakat Mentawai untuk mengelola tanah dan sumber daya alamnya sendiri. Tanpa adanya suara kolektif dari masyarakat Mentawai, hak-hak mereka dan perlindungan sumber daya alam Siberut akan sepenuhnya dikuasai oleh negara.
Dengan demikian, sejak tahun 2009 hingga sekarang banyak dari masyarakat Mentawai yang mulai menyadari perlunya melestarikan tradisi dan budaya mereka sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dan kualitas hidup mereka.

Sumber : kumparan.com

0 comments: