Mengenal Ritual Fenomenal di Tana Toraja

Rabu, Juni 22, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Gua Londa, Toraja, Sulawesi Selatan. (Sumber: Nahla Izdihar)
Tana Toraja, sudah tidak asing lagi di telinga. Salah satu daerah di Indonesia, tepatnya Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki warisan budaya dan kekayaan alam yang melimpah ruah.
Apa hal yang terlintas saat pertama kali mendengar Tana Toraja? Sebagian besar akan menjawab tradisi-tradisi yang cukup unik dan menarik. Begitupun dengan Nahla Izdihar, gadis yang memiliki garis keturunan Toraja dari kakeknya.
“Di sana (Toraja) masih kental dengan budaya dan ritual tradisional nenek moyang,” ujar Nahla, setelah kembali dari Toraja.
Budaya Toraja yang paling terkenal salah satunya adalah ritual pemakaman yang unik, Rambu Solo. Orang meninggal tidak akan dimakamkan seperti pada umumnya, tetapi akan dilakukan ritual-ritual, kemudian disimpan dalam tebing gua.
“Semakin tinggi kasta seseorang, semakin tinggi juga lokasi tebing guanya,” ucap Nahla.
Salah satu lokasi makam penyimpanan jenazah terdapat pada Gua Londa. Disinilah para leluhur Toraja dan keturunannya disimpan pada gua dan sisi-sisi tebing batu.
Di Gua Londa, banyak ditemukan peti jenazah yang terbuka, tengkorak, dan tulang yang berserakan. Wajar saja, karena makam ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Namun, hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
“Menurut kepercayaan orang Toraja, sebelum ditaruh di sini (Gua Londa), keluarganya harus kurban 24 kerbau dulu.”
Tak heran jika di Toraja, banyak warganya yang memelihara kerbau dan memajang kepala kerbau di dalam rumah. Di sana, kerbau dianggap sebagai hewan yang mahal dan berharga.
Selain ritual pemakaman, Toraja juga terkenal akan kopi. Kopi Toraja menjadi oleh-oleh andalan wisatawan, karena rasanya yang khas dan enak.
Budaya di Tana Toraja wajib dijaga dan dilestarikan keberadaanya, di tengah era globalisasi yang deras ini. Ritual tradisional yang masih eksis menjadi bukti bahwa Indonesia benar-benar diberikan warisan kekayaan yang tidak terhitung harganya.
Sumber : kumparan.com

0 comments: