Ngaras dan Siraman, Prosesi dan Maknanya dalam Pernikahan Adat Sunda

Kamis, Juni 23, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Prosesi Ngaras dan Siraman Pengantin Adat Sunda (Foto: Instagram @mywedding organizer)

Pangandaran - Prosesi upacara ngaras dan siraman pengantin adat Sunda seringkali dilakukan biasanya satu hari sebelum akad resepsi pernikahan calon pengantin.

Pada prosesi ini calon pengantin pria ataupun wanita memberikan pengabdiannya kepada kedua orang tua dengan mencuci kakinya.

Namun prosesi ngaras biasanya hanya dilakukan calon pengantin wanita. Dalam prosesi sakral ini, biasanya dilanjutkan dengan siraman pengantin, dimana calon pengantin wanita dimandikan oleh kedua orang tuanya disambung sesepuh (orang yang dituakan) di keluarganya.


Lalu seperti apa prosesi dan makna dalam upacara Ngaras dan Siraman pengantin adat Sunda?

Upacara ngaras dan siraman dalam pernikahan adat Sunda. Foto: Istimewa

Maestro MC Adat Sunda Jawa Barat Ceu Miming mengatakan, ditengah modernisasi prosesi pernikahan, diberbagai daerah upacara adat Ngaras dan Siraman masih dilakukan sebagian calon pengantin.

"Namun saat ini beberapa pengantin sudah mulai meninggalkan adat ini, padahal tersirat penuh arti dan makna yang tinggi," ucap Ceu Miming belum lama ini.

Secara bahasa Ngaras diambil dari bahasa Sunda yang artinya menyebrangi sungai yang tidak terlalu dalam. Di Jawa Barat Ngaras diartikan sebagai rangkaian prosesi pra nikah di tatar Sunda.

"Penghormatan anak kepada orang tua yang sudah mendidik, merawat, membesarkan dan menyayangi. Dalam prosesi ini anak berbakti kepada orang tua dengan membersihkan kaki kedua orang tua," katanya.

Rangkaian Prosesi Ngaras Pengantin dan Siraman

Prosesi Ngaras pengantin diawali dengan kedua orang tua calon pengantin wanita membawa puterinya menuju kursi Ngaras.

Kemudian calon pengantin wanita di ais menggunakan samping oleh ibu, dibagian depan ayah calon pengantin membawa lilin. Dengan makna ayah menerangi langkah anak, sementara ibu mengasuh dan membesarkan anak.

"Setelah sampai di kursi Ngaras, catin wanita sungkem atau memohon maaf kepada kedua orang tua diiringi kidung Ngaras dengan alunan musik adat Sunda kecapi-suling. Dilanjutkan dengan membasuh kaki ibu terlebih dahulu, dengan air bersih yang sudah disiapkan. Sama halnya dengan ke ayah," ucapnya.

Setelah dibasuh atau dibersihkan, kaki kedua orang tua diberikan harum-harum, ataupun semacam parfum biar wangi.

Sementara setelah itu catin meminta doa dan restu kepada orang tua. Prosesi adat pra nikah dilanjutkan dengan Siraman.

"Siraman artinya mengucurkan air, dalam prosesi ini catin wanita dicucurkan air dari 7 sumber air yang berbeda, bisa dari berbagai masjid suci ataupun sumber mata air," katanya.

Sebelum Siraman dilakukan catin ganti pakaian menggunakan pakaian layaknya seorang pengantin. Kemudian pengantin berjalan diatas sinjang atau samping

"Biasanya ada 7 sinjang yang digunakan untuk catin berjalan menuju kursi Siraman," kata Ceu Miming.

Ceu Miming menjelaskan makna 7 lembar samping yang digunakan sebagai karpet jalan. "7 samping artinya 7 dinten nu baris kalakonan ku panganten, corak sareng warna nu benten diartikeun sebagai jalan kahirupan nu baris disorang, bakal aya warna warni kehidupan," terangnya.

Adapun orang yang boleh memberikan siraman paling utama kedua orang. "Ibu, bapak, eyang, nenek, kake. Harus dari sesepuh istri. Tapi syaratnya orang yang menjadi contoh atau picontoheun. Jangan uwa atau bibi yang sudah cerai," kata Ceu Miming.

Setelah sampai di kursi Siraman catin kemudian duduk terlebih dahulu. Disamping pengantin terdapat kendi besar yang berisikan air dari 7 sumber.

Untuk susunan pemberian airnya berawal dari bapak catin terlebih dahulu, dengan mengucurkan air sebanyak 3 kali dari bagian atas kepala.

Dilanjutkan oleh Ibu, eyang, Kakek, Nenek, Uwa bibi ataupun pengasuh catin semasa kecil, dengan melakukan siraman air seperti yang dilakukan bapak catin.


Sumber : detik.com

0 comments: