Polisi Hong Kong Bekuk Sejumlah Orang yang Peringati Tragedi Tiananmen

Senin, Juni 06, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi. Seorang demonstran diamankan polisi di Hong Kong pada 2019 silam. (AFP/Philip FONG)

Kepolisian Hong Kong menangkap sejumlah orang yang berupaya melakukan aksi memperingati 33 tahun tragedi Tiananmen.

Sebelumnya otoritas Hong Kong melarang, dan menghentikan semua kegiatan publik untuk memperingati tragedi berdarah di alun-alun Tiananmen, Beijing, China tersebut.

Sebagai informasi, selama bertahun-tahun Hong Kong menjadi salah satu wilayah yang warganya menggelar peringatan besar-besaran tragedi tersebut.

Tragedi yang terjadi pada 4 Juni 1989 itu menunjukkan ketika prajurit dan tank-tank militer China 'menggilas' para demonstran damai. Tragedi peringatan itu semula diketahui dilarang di daratan utama China.


Namun, peringatan itu dibatasi di Hong Kong setelah dua tahun lalu pemerintah China memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional.

Kepolisian memperingatkan warga Hong Kong yang ikut serta dalam peringatan Tiananmen terancam hukuman penjara maksimal lima tahun. Mereka juga menutup sebagian besar area Victoria Park yang selalu dipenuhi ribuan orang saat upacara penyalaan lilin saban 4 Juni. Terlihat pula ratusan polisi yang berpatroli bersama anjing pelacak.

Seperti dikutip dari AFP, setidaknya setengah lusin orang telah ditangkap polisi pada Sabtu ini, mayoritas dibekuk pada malam hari. Salah satu yang ditangkap adalah aktivis Yu Wai-pan dari Partai Liga Sosial Demokrat (LSD). Anggota LSD lainnya, Lau Shan-ching juga diamankan.

Polisi menyatakan Yu ditangkap karena dianggap mengganggu petugas keamanan, sementara Lau dibekuk karena memakai kaos bergambar aktivis demokrasi China, Li Wangyang dengan masker bertuliskan, 'Duka 4 Juni'.

"Hari ini sepertinya [polisi] menghadapi seorang musuh besar," kata pemimpin LSD, Chan Po-ying.

"Lilin-lilin tidak akan keluar [menyala di Victoria Park]; namun di hati para rakyat akan tetap menyala," imbuhnya.

Sebagai catatan, ini adalah kali ketiga beruntun peringatan Tiananmen di Victoria Park dilarang, dan taman tersebut ditutup sejak sehari sebelumnya.

Aktivis prodemokrasi Hong Kong, Chiu Yan-loy, mengatakan meskipun sepi nyala lilin di taman tersebut, masyarakat harus tetap optimistis. Chiu yakin banyak warga Hong Kong--seperti dirinya--akan menemukan cara untuk mengenang tragedi Tiananmen dengan caranya masing-masing.

"Selama kita mau mengingat dan menyebarkannya, kebenaran pada akhirnya akan terungkap suatu hari nanti," kata dia.

Mantan Konselor Distrik, Derek Chu, menggunakan cara dengan mengirim e-candles (lilin elektronik) dari kantornya sejak Jumat (3/6). Dia pun meyakini upaya memperingati Tragedi Tiananmen tak harus didefinisikan pada sebuah tempat spesifik.

"Dalam kontes antara rakyat dan pemerintah, itu bermuara pada kepercayaan dan ingatan, dan lokasi kurang penting," kata Chu.

"Bahkan pada titik terendah pergerakan [prodemokrasi], saya tak berpikir rakyat akan melupakan 4 Juni [Tragedi Tiananmen]," imbuhnya.

Di Hong Kong dan China boleh dilarang, namun di sejumlah tempat di dunia justru lilin-lilin berhasil menyala memperingati Tragedi Tiananmen. Salah satunya yang digalang organisasi Amnesty International di 20 kota dunia.

"Kami ingin semangat ini untuk dibawa selamanya," kata Frank Ruan, salah satu demonstran saat Tragedi Tiananmen baru-baru ini.

Ruan beruntung bisa selamat, dan sekarang menetap di Melbourne, Australia.

Di Tokyo, Jepang, Daikichi Wakiyama mengatakan peringatan Tragedi Tiananmen adalah bagian penting dalam mengadvokasi bagi demokrasi.

"Saya harus mengakui bahwa keadaan menjadi tidak lebih baik [di Hong Kong] ... Tapi yang bisa saya katakan adalah kita tidak boleh putus asa," katanya kepada AFP.

Peringatan pun digelar di Taiwan, salah satunya diikuti Connie Lui (65), yang meninggalkan Hong Kong satu setengah tahun lalu karena situasi politik.

"Saya di sini mewakili [peringatan tragedi Tiananmen yang digelar di Taiwan] mewakili semua kawan saya di Hong Kong yang tak bisa hadir [memperingati Tiananmen]," katanya.

Di Hong Kong dan China boleh dilarang, namun di sejumlah tempat di dunia justru lilin-lilin berhasil menyala memperingati Tragedi Tiananmen. Salah satunya yang digalang organisasi Amnesty International di 20 kota dunia.

"Kami ingin semangat ini untuk dibawa selamanya," kata Frank Ruan, salah satu demonstran saat Tragedi Tiananmen baru-baru ini.

Ruan beruntung bisa selamat, dan sekarang menetap di Melbourne, Australia.

Di Tokyo, Jepang, Daikichi Wakiyama mengatakan peringatan Tragedi Tiananmen adalah bagian penting dalam mengadvokasi bagi demokrasi.

"Saya harus mengakui bahwa keadaan menjadi tidak lebih baik [di Hong Kong] ... Tapi yang bisa saya katakan adalah kita tidak boleh putus asa," katanya kepada AFP.

Peringatan pun digelar di Taiwan, salah satunya diikuti Connie Lui (65), yang meninggalkan Hong Kong satu setengah tahun lalu karena situasi politik.

"Saya di sini mewakili [peringatan tragedi Tiananmen yang digelar di Taiwan] mewakili semua kawan saya di Hong Kong yang tak bisa hadir [memperingati Tiananmen]," katanya.


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: