Pro Kontra dalam Tradisi Pawang Hujan

Rabu, Juni 15, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Foto lapangan yang kotor dan becek pada konser musik Now Playing Festival Bandung pada 12 Juni, 2022 karena guyuran hujan. Foto: Syakilla Dwiana
Gelaran Moto GP Mandalika memang telah usai dan berhak mendapatkan tepuk tangan dari semua pihak atas keberhasilannya. Namun, apa kamu tahu? Cerita dan euforia di dalamnya masihlah belum selesai, dimulai dari rasa bangga akan keindahan sirkuit Mandalika sampai dengan munculnya The Rain Shaman Rara.
Keberhasilan Rara dalam menghentikan hujan yang terjadi telah membuat ia menjadi sorotan dunia. Akan tetapi, keberhasilan itu justru melahirkan sebuah kontroversi di kalangan masyarakat.
Pro dan kontra mulai timbul. Apakah itu adalah upaya pelestarian warna budaya atau kemerosotan ilmu pengetahuan?
Pertanyaan tersebut semakin sering kamu jumpai pada setiap pemberitaan, baik di media massa maupun media sosial. Puncaknya, aksi Rara dalam mengontrol cuaca pada hari ketiga gelaran konser musik Now Playing Festival di Bandung baru-baru ini ternyata gagal dan membuat para penonton kecewa.
“Banyak banget yang badmood. Ngerti ga sih kaya yang ngisi acaranya udah bagus banget, tapi jadi down gara-gara cuaca yang ga mendukung. Dan karena diiming-imingi ada Rara, jadi kesel ga jelas gitu loh. Maksudnya cuma buat eksis aja apa gimana nih,” ucap salah seorang penonton bernama Syakilla.
Perempuan tersebut menumpahkan kekesalannya lantaran konser yang ia hadiri bersama teman-temannya pada Minggu, 12 Juni 2022 tidak berjalan seperti yang ia harapkan.
Menurut Syakilla, kehadiran Rara sebagai pawang hujan di konser tersebut benar-benar tidak membantu. Hal ini dikarenakan di hari tersebut tetap saja turun hujan yang mengganggu kenyamanan para penonton. Penonton terpaksa harus membungkus pakaian mereka menggunakan jas hujan dan harus berdiri di atas kotor dan beceknya lapangan akibat hujan yang tidak bisa dikontrol.
Pada gelaran Moto GP Mandalika lalu, Rara menggunakan mangkok berwarna emas yang disebut “singing bowl” dan aksinya memang berhasil menghentikan hujan kala itu. Walaupun pihak BMKG sendiri sudah memprediksi bahwa hujan memang akan berhenti karena sudah waktunya.
Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Rara pada konser musik di Bandung berbeda. Konser tersebut tetap diguyur hujan meskipun Rara telah melakukan ritualnya. Entah apa yang berbeda, tetapi langit yang katanya berisi teman-teman Rara tidak bisa diajak bekerja sama pada konser tersebut.
Kegagalan ini tentu membuat banyak pihak kecewa dan mencibir aksi Rara yang tidak berpengaruh sama sekali. Hal ini dibuktikan dengan viralnya aksi kegagalan perempuan bernama lengkap Raden Rara Istiati Wulandari di berbagai media sosial.
Berbagai kritikan dan hujatanpun mulai berdatangan kepada perempuan kelahiran Jayapura tersebut dan seakan menjadi akhir dari kepercayaan sebagian masyarakat kepada dirinya. Ditambah lagi, dalam ajaran agama Islam mempercayai sesuatu selain kepada Allah Swt. adalah suatu tindakan syirik.

Pawang hujan sendiri merupakan sebuah tradisi yang tidak diketahui siapa yang memulainya. Namun, di beberapa daerah Indonesia, tradisi ini masih tetap eksis dan mempunyai sebutan khasnya masing-masing.
Pada dasarnya pawang hujan bertugas untuk memindahkan hujan dari satu tempat ke tempat lainnya, bukan memberhentikan hujan tersebut.
Terlepas dari berbagai kontroversi yang ditimbulkan dan membuat masyarakat semakin heran serta tidak mempercayai aksi Rara. Akan tetapi, jika dilihat dari sisi kearifan lokal maka kamu bisa melihatnya sebagai suatu anugerah yang diberikan karena terlahir di negara dengan beragam tradisi dan budaya, yaitu Indonesia.
Setiap tradisi dan budaya yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah memang akan membuat kamu mempertanyakan kebenaran dari fenomena yang terjadi. Namun, meskipun dengan zaman dan teknologi yang sudah canggih sekalipun, antara budaya dan sains memang sulit untuk berjalan di arah yang sama.
Dalam menyikapi setiap fenomena tersebut, sebagai masyarakat Indonesia kamu harus mempunyai sikap skeptis dan rasa saling menghargai yang tinggi. Tanyakan banyak hal, cari fakta dan kebenarannya, tetapi rasa saling menghargai dan menghormati perbedaan harus tetap tertanam karena itu merupakan implementasi dari dasar negara kita, yaitu Pancasila.

Sumber : kumparan.com

0 comments: