5 Pengusaha Sukses di RI yang Dulu Hidupnya Susah, Nomor 3 Pembuat Mi

Rabu, Juli 27, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

https: img.okezone.com content 2022 07 27 455 2636963 5-pengusaha-sukses-di-ri-yang-dulu-hidupnya-susah-nomor-3-pembuat-mi-Fu5nFVlln4.jpgIlustrasi Pengusaha Sukses (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Ada 5 pengusaha sukses di RI yang dulu hidupnya susah ini bisa dijadikan kisah inspiratif. Menjadi pengusaha sukses pasti mengetahui akan pentingnya mengukur terlebih dahulu kemampuan diri, memahami sifat-sifat dan kemampuan yang diperlukan sebagai bekal untuk menjadi seorang pengusaha.

Dan yang lebih penting juga harus dimiliki oleh seorang pengusaha adalah inovasi dan keberanian untuk mengambil risiko. Hal inilah, yang membuat pengusaha selalu tampil dengan gagasan-gagasan baru yang segar dan kreatif.

Berikut 5 pengusaha sukses di RI yang dulu hidupnya susah yang dirangkum Okezone dari berbagai sumber: 

1. Chairul Tanjung

Pria kelahiran Jakarta, 16 Juni 1962 adalah pemilik sekaligus Komisaris Utama Para Group. Bidang bisnisnya yaitu keuangan, properti, dan multimedia. Majalah Warta Ekonomi menganugerahi Chairul Tanjung sebagai salah seorang tokoh bisnis paling berpengaruh di 2005.

Namun,siapa yang menduga jika pemilik Bank Mega ini ternyata seorang calon dokter gigi. Selepas menuntut ilmu di SMA Boedi Oetomo Jakarta, CT menapaki kuiah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada periode 1980-an.

Meski terlahir dari keluarga yang cukup berada, karena perubahan keadaan politik, keluarganya terpaksa menjalani kehidupan seadanya. Dari rumah yang tergolong besar, mereka harus menjualnya, dan menyewa sebuah losmen sempit.

CT pun mulai berdagang, dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, dia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman, usaha itu bangkrut.

Walau bangkrut, CT muda malah semakin terpacu, dia melirik bidang kontraktor sebagai sasaran bisnisnya. Meski kurang berhasil, dia merasa mendapat pelajaran banyak hal dari bisnis-bisnis yang pernah ditanganinya. Dari bekal pengetahuan itu, ia memberanikan mendirikan CV pertamanya pada 1984 dan menjadikannya PT pada 1987.

Dari PT bernama Pariarti Shindutama itu, ia berkongsi dengan dua rekannya mendirikan pabrik sepatu. Kepiawaiannya menjaring hubungan bisnis langsung membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160 ribu pasang dari pengusaha Italia. Dari kesuksesan ini, bisnisnya merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah kesuksesan itu, rupanya ia mengalami perbedaan visi dengan kedua rekannya. Maka, ia pun memilih menjalankan sendiri usahanya.

Lompatan besar bermula ketika dia memutuskan untuk mengambil alih kepemilikan Bank Mega pada 1996 lalu. Berkat tangan dinginnya, bank kecil dan sedang sakit-sakitan yang sebelumnya dikelola oleh kelompok Bappindo itu kemudian disulap menjadi bank besar dan disegani. Pada akhirnya bank ini pun menjadi pilar penting dalam menopang bangunan Para Group. Sementara, Dua pilar lain adalah Trans TV dan Bandung Supermall.

2. Ciputra

Taipan di bidang Properti, Ciputra, mengungkapkan bila ingin menjadi seorang pengusaha (entrepreneur) bukanlah suatu hal yang mudah. Ibaratnya, selalu ada kondisi di mana ada kebangkitan dan penurunan.Ciputra dikenal sebagai salah satu contoh enterpreneur tersukses di Indonesia. Konglomerat properti ini dikenal dengan nama lengkap Dr (HC) Ir. Ciputra dan merupakan pendiri asosiasi perusahaan properti terbesar di Indonesia yakni Realestat Indonesia (REI).

Pria kelahiran kota kecil Parigi, Sulawesi Tengah pada 24 Agustus 1931 ini memiliki nama lain Tjie Tjin Hoan. Dia merupakan anak ketiga dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio yang berlatar belakang keluarga sederhana.

Pak Ci, demikian dia akrab dipanggil memulai usahanya dari nol, melewati jalan terjal berliku, dan bukan warisan orang tua.Di usia yang sangat muda, dia pun harus berjuang untuk menghidupi keluarganya. Sering kali dia bertelanjang kaki pergi berburu ke hutan sekadar untuk mendapat uang saku tambahan.

Berbagai hinaan dari orang lain juga kerap diterima keluarganya karena kondisi ekonomi yang susah. Namun, luka itulah yang menjadi pembakar semangatnya untuk melawan keadaan.

3. Sudono Salim

Indomie adalah salah satu merek mi instan yang populer di Indonesia. Mi ini berada di bawah naungan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

Namun, Indofood tidak hanya memproduksi Indomie. Banyak produk-produk tenar lainnya yang muncul dari perusahaan ini seperti Pop Mie, Chitato, Indomilk dan masih banyak lagi.

Kesuksesan Indofood berasal dari pendirinya bernama Sudono Salim yang telah wafat pada 10 Juni 2012 silam. Hingga usianya mencapai 96 tahun, Sudono Salim terbilang sukses sebagai pendiri dari salah satu grup usaha terbesar dalam sejarah Indonesia.

Sudono Salim mendirikan Indofood pada tahun 1990 yang merupakan produsen berbagai jenis makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Dirinya berhasil membawa produk Indofood hingga ke mancanegara mencapai pasar Eropa.

Dimulai dari titik nol, Salim tidak serta merta meraih kesuksesan dalam perjalanan usahanya. Sejak pindah dari China (Tiongkok) ke Indonesia, Salim pada awalnya mencoba usaha perdagangan tembakau dan cengkeh di Kudus, Jawa Tengah pada usia 25 tahun. Setelah sempat berjaya, pada 1942 bisnisnya bangkrut lantaran kedatangan Jepang yang menghentikan semua kegiatan ekonomi masyarakat.

Namun, setelah Jepang hengkang, Salim kemudian mencoba peruntungan lain dengan berpindah ke Jakarta dan berbisnis penyediaan logistik untuk tentara. Sukses dalam bisnis itu, Salim kemudian mendirikan Central Bank Asia pada 1957 bersama orang kepercayaannya, Mochtar Riady.

Tidak hanya itu, Salim juga berhasil membangun sebuah perusahaan tepung terigu terbesar di Indonesia yaitu, PT Bogasari. Perusahaan ini pun berhasil memonopoli pasar terigu di Indonesia dengan menyuplai dua per tiga dari seluruh kebutuhan terigu nasional.

Setelah mencoba membuat berbagai jenis produk, akhirnya pada 1982, Liem menciptakan produk mie instan dengan merk Indomie. Selain Indomie, Grup Salim juga memproduksi berbagai jenis makanan lainnya.

Kemudian pada 1990, Grup Salim mendirikan perusahaan makanan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma, yang di tahun 1994 berubah nama menjadi PT Indofood Sukses Makmur. Seluruh usaha makanan milik Grup Salim termasuk Indomie kemudian diletakkan dibawah perusahaan baru ini, termasuk juga Bogasari yang diakuisisi pada tahun 1996.

Kehidupan Salim ibarat roda yang berputar. Saat krisis moneter pada tahun 1997 menghantam Indonesia, bisnis miliknya sempat goyah.

Beberapa saham unit bisnisnya seperti PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA dan PT Indomobil Sukses Internasional harus dilepas untuk menutup hutang perusahaan yang disebut mencapai Rp52 triliun.

Namun, Salim berhasil membangkitkan kembali usaha-usaha yang dipegangnya. Salah satunya adalah melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang menghasilkan produk Indomie yang dikenal hingga seantero dunia.

4. Bob Sadino

Pengusaha nyentrik Indonesia yang kerap tampil dengan menggunakan celana pendek, Bob Sadino, rupanya tidak menamatkan pendidikannya di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia. Melansir Okezone, Bob kehilangan sang ayah saat usianya menginjak 19 tahun.

Tanpa ia sangka, ayahnya melimpahkan seluruh warisannya kepada Bob. Akhirnya, Bob menggunakan warisan itu untuk berkeliling dunia, termasuk Belanda dan Jerman. Di Belanda, Bob bekerja di Djakarta Llyod yang berlokasi di Amsterdam dan Hamburg. Saat itu pula, ia bertemu dengan istrinya, Soelami Soejoed.

Bob dan keluarganya memutuskan kembali ke Indonesia pada 1967. Bermodalkan 2 mobil hasil kerja kerasnya di negeri orang, Bob mulai merintis usaha. Ia memiliki tekad untuk menjadi pengusaha, bukan lagi seorang karyawan.

Bob memutuskan untuk menjual satu mobilnya dan membeli lahan di daerah Kemang. Sementara itu, mobil satunya lagi ia sewakan dan Bob sendiri yang menjadi sopirnya. Nahas, mobil itu mengalami kecelakaan dan rusak cukup parah. Lepas dari usaha itu, Bob menjadi kuli bangunan. Pada masa itulah, ia sempat dilanda stres karena merasa tidak kuat menjalani hidupnya.

Namun, Bob tetap optimis dan mencoba peruntungan lain di dunia ternak ayam petelur. Perlahan namun pasti, usahanya itu berkembang pesat dan dikenal masyarakat luas. Baik dalam maupun luar negeri. Lelaki yang wafat pada 2015 ini selalu mengungkapkan bahwa kegigihan adalah kunci utama keberhasilan.

5. Eka Tjipta Widjaja

Pendiri Sinar Mas Group Eka Tjipta Widjaja merambah usahanya dimulai saat usia 15 tahun. Tak heran, bila Eka Tjipta menduduki posisi ketiga orang terkaya di Indonesia.

Beragam bisnis telah digeluti pria ini. Salah satunya menjajakan biskuit dan permen dengan mengendarai sepeda ke penjuru kota Makassar, Sulawesi Selatan, 3 Oktober 1938.

Pasca-Eka Tjipta meninggal dunia, pria yang memiliki harta kekayaan versi Forbes sebesar USD8,6 miliar atau senilai Rp120,4 triliun ini juga harus 'rela' meninggalkan kerajaan bisnis yang sudah dibangunnya.

Sumber : okezone

0 comments: