Arkeolog Temukan 'Batman' Versi Suku Maya Kuno

Sabtu, Juli 16, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Camazotz, dewa kematian Suku Maya. (Foto: Chatsam via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-3.0))

Jakarta, CNN Indonesia -- Arkeolog menemukan "Batman" versi suku maya kuno bernama Camazotz yang merupakan patung kelelawar bertubuh manusia. Patung ini dianggap dewa dalam peradaban tersebut.

Batman merupakan tokoh superhero yang diluncurkan Detective Comics atau DC pada 1939. Tokoh Batman telah diadaptasi dalam berbagai karya mulai dari kartun hingga film yang memiliki beberapa pemeran berbeda.


Sementara itu, "leluhur Batman", Camazotz diakui memiliki gambaran yang berbeda dengan Batman versi DC. Camazotz dianggap sebagai dewa kematian karena dalam bahasa Kʼicheʼ (dieja Quiché), bahasa suku Maya yang berasal dari dataran tinggi tengah Guatemala, Camazotz berarti kelelawar kematian.

Dilansir Popular Mechanics, Camazotz tinggal di sebuah gua dan memiliki karakteristik seperti kelelawar yang memunculkan spekulasi makhluk ini berkaitan dengan Desmodus draculae, spesies kelelawar vampir berhidung daun dari Amerika Tengah dan Selatan yang punah selama zaman Pleistosen.

Beberapa ahli percaya suku maya kuno menciptakan mitos Camazotz berdasarkan D. draculae yang merupakan kelelawar terbesar dari jenisnya dengan lebar sayap hampir setengah meter.

Popol Vuh, sebuah teks mitologi suku maya kuno mengatakan Camazotz dipercaya memiliki kepala kelelawar dan membunuh korbannya dengan menyerang leher mereka dan lalu memenggal kepala mereka.


Camazotz juga disebut sebagai salah satu dari empat setan binatang yang bertanggung jawab untuk memusnahkan umat manusia selama zaman matahari pertama, seperti dikutip dari Ancient Origins.

Lebih lanjut, setan dan monster seperti kelelawar adalah hal yang cukup lumrah di Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Contoh lain dari cerita semacam itu adalah Chonchon di Peru dan Chili, yang disebut diciptakan ketika seorang penyihir bernama Kaku melakukan ritual magis yang menyebabkan kepalanya terpenggal, lalu menumbuhkan telinga dan cakar raksasa saat mati. Telinga raksasa ini kemudian menjadi sayap dari Choncon.

Di satu sisi, kelelawar dianggap sebagai makhluk yang berbahaya di banyak budaya. Mereka makhluk nokturnal sehingga berkaitan dengan malam hari yang kerap diasosiasikan dengan kematian. Selain itu, banyak spesies kelelawar memiliki penampilan relatif aneh yang membuat mereka semakin tidak disukai manusia.


Sumber :  okezone.com

0 comments: