Contoh Seni Kriya di Indonesia, Perkembangan dan Nilai Seninya

Rabu, Juli 20, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Kenali beragam seni kriya Indonesia. Foto: dok. Kemenparekraf

- Kriya berarti kagunan atau kegunaan. Karya-karya kriya sengaja dibuat untuk kegunaan atau dirancang untuk benda fungsi. Meski terdapat unsur keindahan yang ditimbulkan dari bentuk dan ornamennya, fungsi bendalah yang paling utama.

Seni kriya merupakan bagian dari aktivitas dalam bidang kesenian pada umumnya dengan menghasilkan benda-benda pakai untuk memenuhi kebutuhan manusia. Seni ini lebih berorientasi pada kegunaan dalam kehidupan manusia sehari-hari yang dibarengi dengan teknik pembuatan yang tinggi.


Asal muasal dari seni kriya sendiri adalah craft atau handy craft yang berarti keahlian, sementara orangnya disebut craftman yang berarti ahli atau seniman yang mempunyai keterampilan teknik. Pengertian craft identik dengan kegiatan yang dilakukan dengan rajin dan tekun tanpa mempermasalahkan karya-karyanya menyertakan keindahan atau tidak.



Perkembangan Seni Kriya di Indonesia
Menurut jurnal Seni Kriya Antara Tekhnik dan Ekspresi, dalam perkembangannya, seni kriya menunjukan perubahan-perubahan. Awalnya pembuatan kriya didorong atau didasarkan pada hasrat manusia atau kelompok untuk membuat alat-alat yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan primer, kemudian berkembang jadi pemenuhan kebutuhan sosial.

Seni kriya lalu berkembang menjadi pemenuhan kebutuhan budaya dalam hak penciptaan dan pemilikan karya seni yang berkualitas untuk kebanggaan serta martabat seseorang.

Kualitas dan kuantitas dalam pembuatan seni kriya pun berkembang seiring dengan tuntutan dan perubahan sumber daya alam, fisik dan lingkungan, serta perubahan dalam nilai-nilai budaya.

Kelompok Seni Kriya
Terdapat pengelompokkan seni kriya nusantara seperti dikutip dari 'Seni Kriya, Apresiasi Karya Seni Kriya Nusantara' karya Hery Santosa dan Tapip Bahtiar:

1. Seni Kriya Tradisional Klasik (Hindu-Buddha)
Dalam karya seni ini, kaidah dibakukan dalam pedoman seni oleh empu atau seniman. Sementara, mutu seni yang bersifat teknik maupun estetik dilandasi oleh pemikiran falsafah hidup, serta pandangan agama Hindu, Buddha, Islam.

Seni kriya di zaman ini adalah, bati, pandai emas dan perak, ukiran kayu, keris, wayang kulit, wayang golek dan kerajinan topeng.

2. Seni Kriya Tradisional Rakyat (Daerah)
Kelompok karya seni ini memiliki ciri-ciri menghasilkan corak kesenian tradisional. sesuai dengan watak masyarakat, adab kehidupan dan lingkungan alamnya. Pembuatan dan jenis kriya tradisional ditentukan oleh bahan yang tersedia di lingkungan tempat tinggal.

Contoh dari karya seni kriya tradisional di antaranya anyaman, gerabah, logam dan topeng.

3. Seni Kriya Indonesia Baru (Kolonial)
Seni Kriya Indonesia baru mementingkan nilai-nilai rasional dan kehidupan jasmaniah. Kesadaran nilai-nilai luhur terhadap nilai tradisional kriya menjadi lemah, baik klasik maupun kriya rakyat.

Adapun contoh dari kelompok seni kriya kolonial adalah beberapa karya kriya Indonesia baru yang dipadukan dengan seni tradisi dan bahan industri.

Tujuan Seni Kriya Indonesia
Menurut Jurnal Penelitian Guru Indonesia tentang Pengembangan Pembelajaran Seni Kriya Menggunakan Teknik Pemodelan Berbasis Pendekatan Saintifik karya Semfiwati, di samping menekankan aspek kegunaan atau fungsi praktis, produk dari seni kriya kini mulai diciptakan asal dorongan kriyawan dalam menghasilkan karya yang lebih kental akan ekspresi dalam pembuatannya. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan estetis bagi masyarakat.

Penciptaan seni kerajinan menghasilkan barang yang inovatif. Ini bisa dilihat dari beragam karya yang diciptakan sesuai dengan permintaan konsumen. Permintaan pasar yang besar membuat proses penciptaannya membutuhkan alat modern yang lebih efektif dan menghasilkan produk yang berkualitas dan dengan kuantitas baik. Sehingga seni ini diciptakan untuk memudahkan kegiatan dalam memenuhi kebutuhan.

Nilai Seni Kriya
Begitu banyak nilai-nilai yang terkandung dalam benda-benda kriya terutama pada karya-karya adiluhung, misalnya wayang keris, gamelan dan lain sebagainya. Menurut Jurnal Transnasional tentang Model Diplomasi Indonesia Terhadap UNESCO dalam Mematenkan Batik Sebagai Warisan Budaya Indonesia Tahun 2009, kompleksitas nilai tradisi tersebut berkaitan erat dengan paradigma seni kriya, di antaranya menyangkut nilai material, teknologi, proses, konseptual, filosofos/roh/spirit, estetik, dan fungsi -fungsi sosial kultural yang terangkum dalam fungsi personal, fungsi sosial dan fungsi fisik.

Nah, nilai pada seni kriya bisa bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Nilai intrinsik merupakan nilai teks karya yang ada pada bendanya, baik dilihat dari bentuk, struktur, dan lain sebagainya.

Sementara nilai ekstrinsik atau nilai konteks karya dilihat dari aspek di luar benda itu sendiri. Maksudnya benda dilihat dari fungsi maupun perannya sebagai bagian dari tema atau pun kegiatan.

Kerajinan Tangan Indonesia yang Mendapat Penghargaan UNESCO.

Berbagai contoh seni kriya Indonesia. Foto: dok. Kemenparekraf

1. Wayang
Mantan Menteri kebudayaan dan Pariwisata Indonesia Jero Wacik mengungkapkan, bahwa sejak tahun 2003, kebudayaan Indonesia sudah diakui oleh UNESCO.

Hal itu dibuktikan dengan diraihnya sertifikat wayang sebagai warisan adikarya budaya lisan atau yang bersifat non-bendawi dalam peradaban manusia (The Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) milik bangsa-bangsa.

Sebetulnya, pengakuan ini sudah dinyatakan pada 7 November 2003, akan tetapi baru diserahkan pada 21 April 2005.

2. Keris
Keris Indonesia dinominasi pada tahun 2004, lalu ditetapkan oleh UNESCO sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia pada tahun 2005.


3. Batik
Batik telah ditetapkan jadi Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu. Sehingga setiap tanggal 2 Oktober pun kini diperingati dengan Hari Batik Nasional.

Menurut situs Rupbasan Jakarta Utara Kemenkumham, batik diperkenalkan pertama kali dalam forum internasional oleh Presiden ke 2 Soeharto. Selain dalam konferensi, Presiden Soeharto kerap kali memberi batik sebagai cinderamata untuk tamu negara.


Seiring berjalannya waktu, batik didaftarkan untuk memperoleh Intangible Cultural Heritage di UNESCO pada 4 September 2008. Kemudian, pada setahun kemudian, batik diterima secara resmi oleh UNESCO dan dikukuhkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Pengukuhan dilakukan usai sidang ke 4 UNESCO di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009.

Sumber : okezone.com

0 comments: