Gambang Kromong, Alat Musik Perpaduan Budaya Betawi dan Tionghoa

Jumat, Juli 15, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi Gambang Kromong. Foto: Website Jakarta.go.id
Betawi dan kekayaan budayanya memang selalu memukau. Kesenian di Betawi pun amat unik dan beragam, termasuk dalam alat musik. Jika kamu pernah melihat upacara adat Betawi yang berkaitan dengan lingkaran hidup seseorang, seperti perkawinan, nazar, dan sunatan, biasanya kamu akan menemukan peralatan musik sebagai bagian penyemarak dalam kegiatan tersebut.
Peralatan musik yang digunakan dalam upacara masyarakat Betawi adalah Gambang Kromong. Dikutip dari laman jakarta.go.id, Gambang Kromong pertama kali muncul dengan nama Gambang saja. Namun pada awal abad ke-20, Gambang ditambahkan instrumen Kromong sehingga berubah menjadi Gambang Kromong. Ide tersebut diprakarsai oleh Nie Hoe Kong.

Gambang dan Kromong

Dikutip dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, gambang adalah instrumen yang bentuk resonatornya menyerupai perahu dengan bagian atas dipasang bilah-bilah kayu manggarawan, suangking, atau huruf batu berbentuk empat persegi panjang.
Gambang memiliki 18 buah bilah dan dibagi dalam dua gembyang atau oktaf, nada terendah adalah liuh (a) dan nada tertinggi adalah siang (c). Ukuran dari bilah Gambang adalah 29-58 cm dan “dikunci” menggunakan paku pada bagian atas resonator agar tidak goyah. Gambang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan dua buah kayu.
Sementara kromong adalah instrumen yang mirip seperti bonang, yaitu kumpulan 10 buah gong “pecon” terbuat dari kuningan yang disusun dua baris dalam sebuah rak kayu.
Di dalam masing-masing rak terdapat kotak-kotak kecil untuk menaruh pecon dengan bagian bawah dipasang tali penyangga. Kromong dibunyikan bersamaan antara baris luar dan dalam, caranya dengan menabuh dengan dua buah kayu lonjong yang ujungnya berbalut kain atau benang.

Pementasan Gambang Kromong

Untuk mementaskan Gambang Kromong, diperlukan 8-25 panjak atau pemain untuk mempersembahkan musik ini. Ada yang berperan sebagai panjak gambang, panjak kromong, panjak teh-hian, panjak kong-a-hian, panjak su-kong, panjak gong dan kempul, panjak gong enam, panjak ningnong, panjak kecrek, panjak bangsing, penyanyi, penari, dan bahkan panjak lenong.

Ya, pementasan Gambang Kromong memang terdiri dari banyak alat musik, baik tradisional maupun modern. Sebenarnya penambahan alat musik modern menciptakan pro dan kontra di kalangan seniman. Banyak yang tidak setuju dan berpendapat bahwa alat musik modern akan menggeser aturan yang menjadi patokan dalam pola permainan Gambang Kromong.
Namun, banyak pula yang setuju asalkan alat musik asli Gambang Kromong yang terdiri dari gambang, kromong, teh-hian, kong-a-hian, dan sebagainya tetap dipertahankan, agar kesenian ini tidak kehilangan rohnya.
Meski begitu, pro kontra ini tidak membuat Gambang Kromong meredup eksistensinya. Bahkan hingga kini, musik perpaduan budaya Tionghoa dan Betawi ini masih kerap dijadikan sarana hiburan saat hajatan.

Fungsi dan Nilai-Nilai Gambang Kromong

Gambang Kromong sendiri memiliki banyak fungsi. Dikutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, jika dilihat dari sudut pandang seniman, maka fungsinya adalah:
  • Memainkan Gambang Kromong berarti ikut melestarikan kebudayaan Betawi.
  • Bangga mampu memainkan satu atau lebih alat musik Gambang Kromong.
  • Mengasah bakat dan menambah pengetahuan.
  • Menghibur masyarakat.
  • Menjalin silaturahim pemain, pimpinan, dan penonton.
  • Sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Adapun nilai-nilai yang tercermin dari Gambang Kromong ada banyak, tidak hanya dalam soal estetika, tapi bisa menjadi acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilainya adalah:
  • Ketekunan
  • Kesabaran
  • Kerja keras
  • Kerja sama
  • Kekompakan
  • Kreativitas
Nah, itu dia penjelasan panjang tentang Gambang Kromong yang merupakan kesenian asal Betawi. Semoga informasinya membantu, ya.
Sumber : kumparan.com

0 comments: