Keren! Kerajinan Mendong Khas Tasik Tembus Pasar Amerika hingga Korea

Senin, Juli 04, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Tasikmalaya - Kerajinan berbahan mendong telah menjadi salah satu industri kreatif khas Tasikmalaya. Aneka kreasi produk kerajinan mendong itu menyebar ke berbagai daerah di tanah air. Bahkan hingga diekspor ke mancanegara.

"Setiap bulan rata-rata saya mengirim 2 kontainer produk kerajinan mendong ke Amerika Serikat," kata Zainal Muttaqin, pelaku usaha kerajinan mendong di Kampung Pagergunung, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya.

Meski ekspor produknya tak langsung atau melalui agen eksportir, Zaenal mengaku tak mempermasalahkan karena permintaannya rutin. "Memang tidak direct, tapi melalui agen. Tapi tak masalah, yang penting produk kita bisa masuk ke pasar global," kata Zainal.

Kreativitas pria yang akrab disapa Abah Eje dalam mengolah mendong tak terbatas hanya tikar saja. Lebih dari itu dia memiliki 100 item produk kerajinan berbahan mendong. Di antaranya berupa dekorasi rumah, pernak pernik perhotelan, stationary, keranjang, kotak penyimpanan dan lain-lain.

Selain wara-wiri di pasar dunia, produk Abah Eje ini cukup perkasa di pasar domestik. Selama ini dia menjadi pemasok kebutuhan pernak-pernik hotel berbintang.

Mulai dari sandal hotel, topi untuk tamu hingga tatakan gelas, semuanya berbahan mendong. Hotel-hotel berbintang yang menjadi mitra usaha Abah Eje tersebar di Bali, Bandung, Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

"Pasar domestik juga lumayan bagus, walau pun kalau untuk saya lebih besar untuk ekspor. Perbandingannya 80 persen ekspor, 20 persen pasar domestik," kata Abah Eje.

Di wilayah pinggiran Kota Tasikmalaya, dia membangun bisnis industri kreatifnya itu dari nol. Hingga saat ini dia mampu mempekerjakan setidaknya 120 pegawai di berbagai posisi. Mulai dari pengolahan mendong, menenun hingga bagian pemasaran.

"Kalau jumlah pegawai sekarang ada 120 orang, tapi kalau sedang dapat order banyak bisa bertambah sampai 250 orang," kata AbahEje.

Selain di workshop, Abah Eje juga melibatkan masyarakat sekitar untuk mengerjakan pesanan kerajinan mendong di rumah masing-masing. "Yang dikerjakan di rumah masyarakat juga ada, kami berikan alat tenunnya, jumlahnya ada 100 alat tenun yang disimpan di masyarakat atau mitra kami," kata Abah Eje.

Produksi kerajinan mendong ini juga menjadi mitra bagi puluhan petani mendong yang ada di wilayah tersebut. Setiap minggu dia mampu menyerap 1 ton mendong hasil panen petani. "Bahan baku aman, melimpah. Saya tampung seminggi 1 ton," kata Abah Eje.

Dalam dunia kerajinan Abah Eje dapat dibilang sudah makan asam garam. Meski resmi mendirikan usaha pada tahun 1995, namun jauh sebelum itu Abah Eje sendiri merupakan perajin atau penenun mendong.

"Di sini kan memang dari dulu usahanya kerajinan mendong. Saya juga dulunya ninun (menenun)," kata Abah Eje. Namun ketika itu Abah Eje muda mulai berpikir, karena jika hanya memproduksi tikar persaingannya berat. Dia kemudian berkreasi dengan membuat sandal spons yang dilapisi mendong. Rupanya kreativitasnya menemukan ceruk bisnis potensial.

"Saya ingat pertama dapat pesanan dari hotel Grand Preanger Bandung. Wah saya bersemangat sekali, kemudian dapat order tatakan gelas. Itu dulu waktu hotel berbintang di Bandung masih sedikit," kata Abah Eje.

Peluang emas itu tentu direspons oleh dia dengan memberikan yang terbaik. "Sampai sekarang saya selalu memperhatikan kepada yang namanya kualitas. Jangan sampai konsumen kecewa, karena sekali kecewa, mereka kabur cari yang lain. Saingan banyak," kata Abah Eje.

Nevi, anak perempuan Abah Eje mengatakan saat ini produk andalan yang sedang mereka garap adalah kotak penyimpanan dan keranjang. Kedua item itu sedang moncer di pasar luar negeri. Pihaknya pun terus menggenjot produksi untuk memenuhi permintaan.

"Sekarang yang lagi bagus, decorative box, storage sama basket (tas keranjang). Nah kalau sandal, topi dan tatakan itu rutin karena menjadi kebutuhan hotel," kata Nevi.

Menurut dia, produk kerajinan mendong seperti tas belanja sangat diminati di luar negeri. Karena, masyarakat di sana sudah terbiasa menggunakan produk yang berkelanjutan.

"Produk tas belanja dari mendong itu seperti tas plastik di kita, mereka terbiasa menggunakannya. Lantaran itu, permintaan akan produk kerajinan mendong tetap ada," jelasnya.

Selain itu Nevi juga mengaku sedang berusaha menembus pasar online atau marketplace. Dia mengaku penjualan onlinenya belum maksimal karena persaingan di algoritma mesin pencari.

"Pasar online kita sudah masuk, sudah lama. Tapi memang penjualannya belum maksimal, masih sulit jadi yang teratas di mesin pencari," kata Nevi.

Dia juga menambahkan poin pembeda dirinya dengan perajin lain adalah pada desain yang berbeda dan lebih menarik. Misalnya cermin yang justru terlihat lebih estetik ketika dibalut dengan ayaman mendong.

Nevi menambahkan belum lama ini pihaknya melakukan ekspor produk kerajinan mendong ke Korea Selatan. Produk yang diekspor di antaranya adalah sendal hotel. "Bulan lalu kami baru saja mengirimkan pesanan barang untuk di ekspor ke Korea Selatan. Kemarin itu hanya satu kontainer," kata Nevi.

Sumber : detik.com

0 comments: