Kisah Barong dan Rangda di Bali

Sabtu, Juli 23, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi - Barong dan rangda merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Bali. Bagaimana kisahnya? (Foto: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali)

Denpasar - Barong dan rangda merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Bali. Sebenarnya ada banyak jenis barong di Bali, mulai barong bangkung, barong macan, barong brutuk, barong landing, dan lainnya. Tetapi, yang paling umum dan biasanya dipentaskan bersamaan rangda adalah barong ket.
Barong dan rangda awalnya adalah dua wujud kesenian yang disakralkan oleh orang Bali. Barong dan rangda biasanya disimpan di gedong pura dan hanya dipentaskan saat hari-hari tertentu.


Barong dan rangda dianggap sakral jika telah melalui proses sakralisasi melalui prosesi pasupati. Penarinya pun harus melalui upacara pembersihan terlebih dahulu.


Namun, seiring berkembangnya pariwisata, pertunjukan barong dan rangda di Bali berubah dari sakral menjadi sekular. Pertunjukan barong dipentaskan tak hanya di pura, tetapi juga untuk sekadar hiburan untuk wisatawan.


Barong dan Rangda

Barong ket ditarikan oleh dua orang yang disebut sebagai bapang. Dilansir dari laman ISI Denpasar, ada yang menyebut barong ket sebagai adaptasi barong sae Tiongkok yang bentuknya telah disesuaikan dengan budaya Bali.

Menurut cerita yang diwariskan oleh orang Bali, barong diidentikkan sebagai kekuatan baik (dharma), sedangkan rangda diidentikkan dengan kekuatan jahat (adharma).

Dalam pertunjukan dramatari Calonarang, barong biasanya muncul melawan kemurkaan Rangda. Saat momen ini, sejumlah penari mengalami kesurupan, lalu tersadarkan setelah didekati Barong. karena kesaktiannya.

Pertunjukan Barong Swari
Salah satu lakon yang sering digunakan saat pertunjukan adalah Barong Swari. Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, lakon ini mengisahkan pertemuan antara Dewa Siwa dengan Dewi Uma. Pertemuan keduanya melahirkan seorang putra bernama Sang Rare Kumara. Ketika Rare Kumara besar, ia lebih dekat pada dekat dengan ayah Dewa Siwa.

Suatu hari, Dewi Uma menyusui putra Sang Rare Kumara. Namun, kelakuan Sang Rare Kumara sering membuat ibunya jengkel. Lama-lama, Dewi Uma menjadi marah hingga membuatnya berubah menjadi sosok yang menyeramkan.

Kajadian itu dilihat Dewa Siwa, membuatnya marah. Dewi Uma lalu dihukum dan dikutuk menjadi Dewi Durga dan turun ke dunia mendiami Setra Agung. Tak hanya itu, Dewi Durga dan para pengikutnya menciptakan wabah hingga banyak manusia yang sakit hingga meninggal.

Melihat musibah yang terjadi di dunia, Dewa Brahma, Wisnu dan Dewa Iswara kemudian menyelamatkan dunia dari kegeringan (wabah) itu. Ketiga Dewa itu secara bersama-sama menyelamatkan manusia di dunia dengan menciptakan Barong Swari.

Dewa Brahma menjadi Topeng Bang (merah), Dewa Wisnu menjadi Telek dan Dewa Iswara menjadi Barong. Ketiga Dewa itu menari untuk menciptakan kesejahtraan didunia serta bisa mengembalikan Dewi Durga menjadi Dewi Uma lalu ke Kahyangan.



Sumber : detik.com

0 comments: