Kisah Mistis Alas Purwo Dijaga Wanita Cantik Bernama Gayatri

Kamis, Juli 21, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Kawasan selatan Banyuwangi, tak sekedar menyajikan bentang keindahan alam yang masih alami, namun juga menghadirkan banyak kisah mistis yang hingga kini masih menjadi misteri. Salah satunya kisah mistis di Alas Purwo. 

Alas Purwo merupakan taman nasional yang dilindungi, dan terletak di wilayah selatan Kabupaten Banyuwangi. Hutan lebat di ujung timur Pulau Jawa ini, secara administrasi masuk wilayah Kecamatan Tegaldlimo, dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi.

Hutan yang berbatasan langsung dengan pesisir selatan Pulau Jawa tersebut, sering dikaitkan dengan berbagai ritual mistis mencari kesaktian. Alas Purwo, juag selalu dikaitkan dengan sosok wanita cantik penunggunya, yakni Gayatri. 

Dilansir dari yukbanyuwangi.co.id, sosok Gayatri disebut sebagai wanita cantik penunggu Alas Purwo, yang tidak mengganggu manusia. Hanya orang-orang tertentu saja yang akan ditemui sosok wanita cantik berpakaian adat Jawa tersebut. 

Dalam situs pemandu wisata yukbanyuwangi.co.id tersebut, dijelaskan keberadaan Gayatri di Alas Purwo memiliki tugas untuk menjaga perilaku dan tutur kata seluruh penghuni alam semesta, dan menebarkan kedamaian. Keberadaannya disebut-sebut berada di Air Terjun Pancur yang lokasinya berada di tengah Alas Purwo, dan berdekatan dengan pantai. 

Cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, sosok Gayatri ini disebut ada keterkaitannya dengan Kerajaan Singasari, dan Kerajaan Majapahit. Apabila dikaitkan dengan Kerajaan Singasari, dan Kerajaan Majapahit, Gayatri merupakan putri bungsu terakhir Kerajaan Singasari, Kertanegara. Gayatri sebagai putri bungsu Kertanegara ini, juga dikisahkan oleh Earl Drake, dalam bukunya yang berjudul "Gayatri Rajapatni; Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit".

Apabila dikaitkan dengan Kerajaan Singasari, dan Kerajaan Majapahit, Gayatri merupakan putri bungsu terakhir Kerajaan Singasari, Kertanegara. Gayatri sebagai putri bungsu Kertanegara ini, juga dikisahkan oleh Earl Drake, dalam bukunya yang berjudul "Gayatri Rajapatni; Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit". Earl Drake mengisahkan, usai Kerajaan Singsari dihancurkan Kerajaan Kadiri, Gayatri bertekat untuk membangun kembali kejayaan Kerajaan Singasari yang sempat luluhlantak akibat serangan Jayakatwang. 

Bahkan, Gayatri juga menyusun berbagai strategi, untuk membangun tatanan pemerintahan di atas sisa kejayaan Kerajaan Singsari. 

Gayatri yang bergelar Rajapatni, merupakan bagian dari empat putri Kertanegara, yang dipersunting seluruhnya oleh Raden Wijaya, raja pertama dan pendiri Kerajaan Majapahit. Gayatri juga digambarkan sebagai sosok Prajnaparamita atau Dewi Kebijaksanaan Tertinggi. Peran Gayatri sangat penting untuk mendukung Raden Wijaya membangun Kerajaan Majapahit. 

Dari pernikahannya, Gayatri melahirkan seorang putri, Tribhuana Tunggadewi. Putri kesayangannya tersebut, sempat menjadi Raja Majapahit, sebelum akhirnya diteruskan oleh puteranya Raja Hayam Wuruk. Bahkan, Hayam Wuruk yang merupakan cucu Gayatri, membawa Kerajaan Majapahit berada pada masa keemasan, dan menjadi kerajaan terbesar di Nusantara. Bersama Mahapatih Gajahmada, Raja Hayam Wuruk membawa Majapahit sebagai kerajaan terkuat. 

Earl Drake dalam bukunya menyebut, sejak meninggalnya raja kedua Kerajaan Majapahit, Jayanegara, yang merupakan putre dari Raden Wijaya, Gayatri seharusnya diangkat menjadi Raja Majapahit, karena saat itu Jayanegara tidak memiliki anak. Namun, Gayatri memilih untuk tidak menjadi Raja Majapahit, karena sudah menjadi Bhiksuni. Kekuasaan Majapahit, diserahkan kepada putrinya, Tribhuwana Tunggadewi, untuk menggantikan Jayanegara yang telah mangkat. 

Gayatri memilih peran menjadi penjaga kedamaian, dan memastikan Kerajaan Majapahit berjalan di jalan yang tepat, dengan dipimpin orang-orang yang tepat pula. Dia tidak mengedepankan egonya untuk berkuasa, dan lebih memilih untuk memikirkan masa depan Kerajaan Majapahit. 

Gambaran sosok Gayatri putri bungsu Kertanegara itu, tentunya memiliki kemiripan sifat dengan sosok Gayatri penunggu Alas Purwo. Terlepas dari misteri sosok Gayatri, hingga kini Alas Purwo masih tetap terjaga dan lestari, dan menjadi tempat hidup bagi ribuan spesies satwa dan tanaman. Dilansir dari situs resmi Taman Nasional Alas Purwo, tnalaspurwo.go.id, kawasan Alas Purwo, sebelum menjadi taman nasional, semula berstatus Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan. Status tersebut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 stbl 456 tanggal 1 September 1939 dengan luas areal 62.000 hektare. 

Kemudian, diubah menjadi Taman Nasional Alas Purwo pada tahun 1992 dengan luas 43.420 hektare melalui SK Menhut No. 283/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992, dan pada tahun 2014 ditetapkan dengan luas 44.037,30 hekatera melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.3629 /Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 6 Mei 2014. 

Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan hutan yang mempunyai berbagai macam tipe ekosistem yang tergolong utuh di Pulau Jawa. Ekosistem yang dimiliki mulai dari pantai (hutan pantai) sampai hutan hujan dataran rendah, hutan mangrove, hutan bambu, savana buatan dan hutan tanaman. 

Keanekaragaman jenis flora darat di kawasan Taman Nasional Alas Purwo termasuk tinggi. Diketahui lebih dari 700 jenis tumbuhan mulai dari tingkat tumbuhan bawah sampai tumbuhan tingkat pohon dari berbagai tipe/formasi vegetasi. 

Tumbuhan khas pada taman nasional ini yaitu Sawo Kecik (Manilkara kauki), dan jenis yang dilindungi yaitu Sadeng (Livistoma rotundifolia). Di samping kaya akan jenis-jenis flora, Taman Nasional Alas Purwo juga kaya akan jenis-jenis fauna daratan, baik kelas mamalia, aves dan herpetofauna (reptil dan amfibi). 

Sampai saat ini teridentifikasi 45 jenis mamalia di Taman Nasional Alas Purwo. Beberapa jenis mamalia yang sering dijumpai di kawasan TN Alas Purwo diantaranya Banteng (Bos javanicus), Rusa Timor (Rusa timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Lutung Budeng (Tracypithecus auratus) dan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis). 

Untuk aves teridentifikasi lebih dari 250 jenis burung. Beberapa jenis burung yang sering dijumpai diantaranya Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Ayam Hutan Hijau (Galus varius), Ayam Hutan Merah (Gallus gallus), Kuntul Kecil (Egreta garzeta), Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), Merak Hijau Jawa (Pavo muticus muticus), Dara Laut Jambul (Sterna bergii) dan Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris). 

Herpetofauna terdiri dari kelas amfibi dan reptil. Sampai saat ini telah teridentifikasi 70 jenis herpetofauna yang terdiri 17 jenis amfibi, dan 53 jenis reptil. Di antara jenis yang ditemukan terdapat tujuh jenis reptil yang dilindungi yaitu Penyu Lekang/Abu-Abu (Lepidochelys olivacea), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Biawak Abu-Abu (Varanus nebulosus), Ular Sanca Bodo (Python bivittatus) dan Buaya Muara (Crocodylus porosus). 

Untuk menuju ke Alas Purwo, dibutuhkan waktu sekitar tiga jam perjalanan dari pusat Kabupaten Banyuwangi, dengan menempuh jarak sekitar 70 km. Saat ini, ifrastruktur untuk menuju ke kawasan wisata alam tersebut, sudah sangat baik. 

Alas Purwo masih diyakini oleh sebagian masyarakat, sebagai salah satu hutan angker di Nusantara. Layaknya hutan tua di wilayah Pulau Jawa, Alas Purwo juga memiliki juru kunci, yang akrab disapa Mbah Saminten. 

Mbah Saminten menjadi generasi penerus juru kunci Alas Purwo setelah suaminya, Mbah Mariono meninggal dunia. Mbah Saminten menuturkan, masih ada sejumlah orang yang datang ke Alas Purwo untuk melakukan ritual khusus, meskipun sudah sering kejadian orang hilang di dalam hutan tersebut. "Sudah sering (orang ilang). Saya setiap hari menjaga dan membersihkan situs Kawitan," ungkas Mbah Saminten. Selama ini banyak orang yang melakukan ritual di sekitar Sendang Lanang, yang sumber airnya berada di dalam goa terbesar di Alas Purwo, yakni Goa Istana. 

Selain situs Kawitan, Pura Luhur Giri Salaka yang berlokasi di pinggir jalan juga menjadi pusat perhatian pengunjung yang akan menjalankan ritual tertentu. "Tapi, tidak semua orang bisa masuk ke dalam Pura Giri Salaka. Sebab pura tersebut untuk peribadatan umat Hindu," katanya. 

Situs Kawitan merupakan pintu masuk dari segala tempat keramat di Alas Purwo. Salah satunya sendang putri atau kaputren, sendang pancuran atau Sendang Lanang yang dipercaya menjadi tempat semedi Prabu Siliwangi. Sendang Lanang ini berlokasi di bawah pohon besar, dan di bawahnya mengalir air yang sangat deras menuju laut lepas Samudera Indonesia.

 Bagi wisatawan biasa, hal tersebut kurang menjadi hal perhatian dan tak banyak orang berani menjamah pedalaman Alas Purwo. Namun bagi sebagian orang yang memiliki tujuan tertentu, Alas Purwo menjadi jujukannya. Mereka tidak bisa seenaknya masuk di dalam hutan yang terkenal angker ini. 

Mereka harus mengikuti persyaratan yang ada, yakni bersih diri dan izin kepada penghuni Alas Purwo yang kasat mata dengan menyinggahi situs Kawitan. Tak jarang, mereka yang melanggar saat berada di dalam Alas Purwo, mengalami hal-hal gaib seperti tidak tahu arah jalan pulang sehingga hanya berputar-putar di dalam hutan. 

Tidak jarang mereka juga ditemui makhluk-makhluk gaib. Terlepas dari semua cerita mistis tersebut, tentunya Alas Purwo harus tetap terjaga demi kelestarian hidup seluruh makhluk di dunia. Penghormatan terhadap alam, dan tindakan nyata menjaganya, menjadi modal besar untuk lestarinya bumi beserta seluruh isinya.


Sumber : sindonews

0 comments: