Mengenal Mayunan, Tradisi Para Gadis Desa Tenganan yang Belum Menikah

Jumat, Juli 22, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

\
Sejumlah remaja perempuan mengikuti tradisi ayunan jantra di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, Kamis (23/6/2022). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto
Bicara soal Bali pasti salah satu hal yang terlintas di benak traveler adalah ragam tradisi dan budayanya yang khas. Ya, Pulau Seribu Pura memang menyimpan banyak keberagaman tradisi, salah satunya Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Bali satu ini.
Selain Desa Trunyan dan Sembiran, Tenganan merupakan salah satu dari desa di Bali yang masih mempertahankan pola hidup dan tatanan masyarakat warisan nenek moyang.

Ilustrasi desa wisata di Bali. Foto: SantiPhotoSS/Shutterstock
Bagi yang sudah pernah ke Desa Tenganan, kamu tentu merasakan bahwa desa ini seakan menolak modernitas dengan tetap mempertahankan hidup tradisional. Seperti contohnya, mereka juga memiliki tradisi unik yang biasa dilakukan para gadis yang beranjak dewasa.
Kamu tentu sudah tidak asing lagi dengan permainan ayunan, bukan? Ya, permainan tradisional ini bisa kamu temukan di berbagai daerah di Indonesia.
Hanya saja yang menjadi pembeda, kalau di daerah lain ayunan hanyalah sebuah permainan semata, di Tenganan, ayunan memiliki makna lain yang menjadi bagian dari salah satu tradisi.

Tradisi yang Dilakukan Para Gadis Tenganan

Dikutip dari akun Instagram @kamerahani_, tradisi ini merupakan sebuah rangkaian Usaba Sambah Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
Usaba Sambah adalah sebuah ritual yang menandai sebuah babak dalam kehidupan masyarakat Tenganan Pegringsingan.
Ritual ini dimaknai sebagai sebuah aktivitas budaya mengenai kehidupan dewa yang memasuki usia dewasa.
Bagi laki-laki, mereka akan menjalani tradisi berperang dengan pandan berduri. Sedangkan para perempuannya, yaitu gadis Tenganan yang beranjak dewasa akan menjalani tradisi menaiki ayunan besar yang terbuat dari kayu.

Ilustrasi perempuan Bali yang sedang menari. Foto: LeStudio/Shutterstock
Delapan gadis Desa Tenganan yang disebut daha duduk di atas ayunan, dengan mengenakan kain tradisional berwarna keemasan. Ayunan yang diletakkan di halaman desa tersebut digerakkan oleh dua orang pemuda.
Ayunan tradisional di Desa Tenganan, Bali, ini juga unik, karena memiliki bentuk yang tak seperti ayunan pada umumnya. Bentuknya justru lebih mirip dengan bianglala yang terbuat dari kayu.
Walau demikian, ayunan besar yang digunakan dalam prosesi tersebut adalah warisan nenek moyang yang tak boleh sembarangan dimainkan. Sebab, ayunan-ayunan tersebut harus diupacarakan terlebih dahulu.
Meski begitu, tradisi ini memiliki makna yang cukup dalam. Tradisi Mayunan melambangkan roda kehidupan yang terus berputar, kadang di atas, kadang di bawah.

Tradisi Perang Pandan

Dua warga saling menyerang dengan daun pandan berduri saat tradisi Mekare atau perang pandan di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, Kamis (23/6/2022). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto
Adapun, prosesi ayunan biasanya diselenggarakan setelah prosesi Perang Pandan.
Berbeda dengan Mayunan, Tradisi Perang Pandan biasanya dilakukan oleh remaja laki-laki. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan penduduk Desa Tenganan kepada Dewa Perang.
Menariknya, kedua tradisi tersebut masih terus dilestarikan sampai sekarang oleh masyarakat desa setempat.
Buatmu yang ingin melihat langsung dua tradisi ini, kamu bisa mengunjungi Desa Tenganan pada bulan Mei atau Juni. Sebab, menurut kalender Tenganan, tradisi tersebut biasanya dilakukan pada bulan ke-5.

Sumber : kumparan.com

0 comments: