Pertahankan Batik sebagai Jati Diri Bangsa Indonesia

Rabu, Juli 06, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Foto bersama menggunakan Dresscode Batik By Nuril Fathiyah

Batik adalah salah satu budaya yang dimiliki Indonesia. Mengingat budaya berpakaian masa kini cenderung kebarat-baratan, tak jarang penulis mendapati buah mulut, “Pakai batik terlihat kuno.” Ujaran ini, penulis dapatkan melalui observasi terhadap lingkungan remaja zaman sekarang, yang umumnya mengenakan pakaian batik hanya pada perayaan tertentu saja.

Seiring berjalannya waktu, memang batik itu perlu dipertahankan, dilestarikan dan diperkenalkan di kancah Internasional.
Bicara tentang Identitas Nasional, apakah batik termasuk Identitas Nasional Indonesia? Tentu iya, Identitas Nasional merupakan ciri khas, karakteristik yang dimiliki oleh sebuah negara, sehingga menjadikannya berbeda dengan negara lain dan batik adalah ciri khas negara Indonesia. Untuk dapat mempertahankan identitas yang melekat ini, maka perlu menanamkan cinta tanah air yang diwujudkan melalui ketaatan dan kepatuhan serta mengamalkan nilai pancasila sebagai falsafah dan pedoman hidup bangsa.

Problematik Batik

Perjalanan batik sampai pada titik ini melalui beberapa problematik, Di tahun 2008 batik pernah akan diakui sebagai budaya negeri Jiran, kemudian ditahun yang sama, Indonesia mendaftarkan budaya batik sebagai warisan budaya kepada UNESCO. Berawal dari proses nominasi batik pada UNESCO pada (3/9/2008) kemudian diterima secara resmi dan diproses lebih lanjut oleh UNESCO pada tanggal (9/1/2009). Dan puncaknya di tanggal 2 Oktober 2009, Pengukuhan Batik Indonesia ke dalam daftar representatif budaya tak benda warisan manusia, di Uni Emirat Arab. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan pengakuan batik sebagai budaya murni Indonesia, dan negara lain tidak berhak merebut atau mengakuinya secara sepihak.
Kemudian pada Minggu, (17/10/2021), digencarkan dengan unggahan pada sosial media Lavanya Sivaji, Miss World Malaysia 2021 yang dianggap mengklaim batik secara sepihak sebagai kekayaan budaya asal negaranya. Pasalnya dalam unggahan tersebut ia mencantumkan keterangan yang terbilang kontroversial sehingga memicu kemarahan publik, terutama warganet Indonesia. Insiden ini berakhir dengan diunggahnya permintaan maaf Lavanya di akun instragam miliknya pada 22 Oktober 2021.

Upaya Pertahanan Batik

Mengingat kembali tentang problematik batik sebelumnya, sangat disayangkan bukan? jika perjuangan pembelaan batik pada titik ini disia-siakan. Jika dilihat dari kebiasaan anak muda zaman sekarang, mereka cenderung menggunakan batik hanya diwaktu-waktu tertentu saja sisanya mereka mengikuti trend masa kini. Sebenarnya tidak ada larangan akan hal itu, akan tetapi alangkah baiknya jika hal itu dipikirkan kembali dengan mengembangkan dan mempertahankan kebudayaan batik agar tetap mengental di wilayah Indonesia.
Pencapaian batik saat ini memang perlu diapresiasi, jika anda seorang konsumen pakaian, hal ini bisa dimulai dengan tidak terlalu bergantung pada pakaian barat, dan jika anda adalah seorang desainer ataupun kreator alangkah baiknya disetiap desain yang dibuat, sisipkan secolek nilai-nilai batik.
Bagaimana jika kebudayaan ini pupus dan luntur? Penulis yakin seluruh warga negara Indonesia tidak menginginkan hal itu terjadi. Akan tetapi, jika kita bicarakan kembali, apakah sikap seluruh warga negara selaras dengan keinginan itu? Jawabannya, ada pada tingkat kesadaran masing-masing masyarakat.
Maka dari itu seharusnya seluruh warga negara Indonesia khususnya kita, barisan muda penerus bangsa, perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya identitas negara kita, pengaruh identitas tersebut terhadap intensitas dan citra negara, serta arti identitas tersebut terhadap kesatuan dan persatuan bangsa kita.
Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mempertahankan keberadaan batik ini, misalnya cara mendesain ulang batik sesuai perkembangan zaman, tanpa membuang unsur-unsur nilai batik yang ada. Disisi lain kita juga bisa memanfaatkan sosial media ataupun digital platform untuk memperkenalkan kebudayaan batik secara global.

Sumber : kumparan.com

0 comments: