Unik! Penduduk Desa Ini Pakai Siulan untuk Berkomunikasi, Mirip Bahasa Burung

Selasa, Juli 26, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Desa Kuskoy, Turki Foto: Shutter stock
Sebuah desa di Turki punya cara unik untuk berkomunikasi antara satu sama lain. Kalau umumnya komunikasi digunakan melalui bahasa pertuturan yang terdiri atas kata-kata, sekelompok penduduk di Desa Kuskoy justru menggunakan siulan layaknya bahasa burung.
Dilansir Xinhua, kebiasaan unik ini diperkirakan sudah ada sejak 500 tahun lalu, tepatnya sejak zaman Kekaisaran Ottoman yang tersebar luas di seluruh wilayah Laut Hitam. Ada alasan, kenapa para penduduk desa ini menggunakan bahasa seperti burung.
Ilustrasi desa di Turki. Foto: muratart/Shutterstock
Hal ini dikarenakan letak desa yang berada di pegunungan terpencil dan jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya yang lumayan jauh. Karena hal itulah, para penduduk memilih berkomunikasi dengan bersiul karena jarak mereka yang terpaut jauh dan tak bisa saling berkunjung ke rumah satu sama lain setiap waktu.
Sekelompok penduduk di Desa Kuskoy yang terletak di pegunungan di atas pantai Laut Hitam Turki, masih berkomunikasi dengan cara bersiul seperti burung. Bentuk komunikasi ini dimulai sejak 500 tahun lalu, saat zaman Kekaisaran Ottoman, yang tersebar luas di seluruh wilayah Laut Hitam.

Bahasa Sehari-hari Penduduk Desa Kuskoy

Menurut National Public Radio (NPR), warga Desa Kuskoy kebanyakan berprofesi sebagai petani teh, jagung, dan juga peternak.
Setidaknya terdapat sekitar 10.000 orang yang menggunakan bahasa burung di antara warga Desa Kuskoy. Salah seorang penduduk yang bernama Nazmiye Cakir, mengatakan bahwa meski hanya berupa siulan, di dalamnya menyimpan banyak makna.
Cakir mengatakan bahwa siulan tersebut digunakan sebagai bahasa sehari-hari para penduduk Desa Kuskok.
"Jika kamu perlu bertanya ke tetanggamu 'dapatkah kamu membantuku untuk memanen jagung besok?' atau hal lainnya. Jika ada pemakaman, keluarga akan menyiulkan berita di seluruh lembah," ucap Cakir.
Meski demikian, Cakir mengatakan bahwa ada satu hal yang tidak bisa dibicarakan saat bersiul.
"Satu-satunya hal yang Anda tidak pernah bersiul adalah pembicaraan cinta Anda," katanya sambil tertawa.
"Karena kamu akan ketahuan!," lanjutnya.
Cakir pun mendemonstrasikan suara siulannya dengan beberapa frasa yang rumit, dua penduduk desa lainnya untuk menunjukkan bahwa ini bukan semacam kode yang sudah diatur sebelumnya, tetapi nyatanya, bahasa tersebut memang benar-benar dipahami penduduk setempat.

Misteri Bahasa Penduduk Kuskoy

Karena keunikannya, seorang ahli bipsikologi, Onur Gunturkun pun pernah mencoba mempelajari bahasa para penduduk Desa Kuskoy.
"Saya benar-benar terpesona saat pertama kali mendengarnya," katanya. "Dan saya langsung melihat relevansi bahasa ini untuk sains," ujarnya.
Gunturkun menemukan fakta bahwa disebutkan kalau para penduduk desa menggunakan siulan dan juga suku kata untuk sebuah percakapan. Para penduduk desa cenderung mendengar keduanya.
Ia juga melakukan pengujian penduduk desa menggunakan headphone dengan rekaman bicara bahasa Turki suku kata, maupun siulan.
Ia pun menduga bahwa warga Desa Kuskoy menggunakan kedua belahan otak mereka ke tingkat yang jauh lebih besar.
"Ada kontribusi seimbang dari kedua belahan otak. Jadi memang, tergantung cara kita berbicara, belahan otak memiliki pekerjaan yang berbeda dalam pemrosesan bahasa," katanya.

Terancam Punah

Namun, sekitar 50 tahun yang lalu bahasa yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kuskoy ini mulai terkikis oleh perkembangan teknologi yang masuk ke wilayah tersebut. Adanya sistem seluler membuat warisan budaya tersebut di bawah ancaman serius.
Teknologi membuat komunikasi bahasa burung digantikan oleh pesan teks yang lebih mudah dijamah oleh penduduk desa Kuskoy. Setelah berabad-abad, bahasa yang diturunkan oleh nenek moyang itu tidak lagi digunakan.
Kepala desa Kuskoy, Muhtar Kocek, mengatakan bahwa telepon seluler memiliki dampak tertentu pada tradisi bersiul di Desa kuskoy. Ia pun mengungkapkan 80 persen warga Kuskoy sampai saat ini masih berusaha mempertahankan budaya tersebut tetap hidup, dengan memperkenalkannya dengan keturunan mereka.
Kini, bahasa burung yang digunakan oleh penduduk Desa Kuskoy telah masuk ke daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pada 2017, Badan Budaya PBB telah menerima bahasa burung penduduk desa Laut Hitam sebagai bagian dari warisan dunia yang terancam punah yang membutuhkan perlindungan.

Sumber : kumparan.com

0 comments: