Wahana NASA Tangkap Gerhana Matahari Unik, Tak Kelihatan dari Bumi CNN Indonesia

Sabtu, Juli 02, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

llustrasi gerhana Matahari. Wahana SDO milik NASA menangkap gerhana Matahari pada Rabu (29/6)Foto: REUTERS/STRINGER

Pesawat pemantau matahari milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menangkap pemandangan gerhana Matahari pada Rabu (29/6). Uniknya, pemandangan ini hanya bisa dinikmati dari luar angkasa.

Mengutip Space, pesawat bernama Solar Dynamic Observatory itu menangkap gerhana Matahari dari sudut pandang uniknya di luar angkasa. Hanya di sana lah gerhana tersebut dapat dilihat.

"Pada puncak gerhana, Bulan menutupi 67 persen Matahari dan pegunungan Bulan diterangi oleh lidah api Matahari," demikian keterangan di Spaceweather.com.

SDO biasanya mengamati Matahari sebagai sumber cuaca antariksa, atau radiasi di luar angkasa yang mempengaruhi Bumi. Aspek yang dipelajarinya meliputi medan magnet Matahari, bintik Matahari, dan aspek lain yang memengaruhi aktivitas selama siklus reguler 11 tahun Matahari.

"SDO mempelajari bagaimana aktivitas Matahari dibuat dan mendorong cuaca luar angkasa. Pengukuran interior Matahari, atmosfer, medan magnet, dan keluaran energi oleh pesawat ruang angkasa semuanya bekerja untuk membantu kita memahami bintang yang kita tinggali," tulis NASA dalam laporan misi ini.

SDO sendiri diluncurkan pada Februari 2010 dan merupakan bagian dari jaringan pesawat antariksa surya dari NASA dan mitranya, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Lebih lanjut, para ilmuwan tertarik untuk mengikuti penyebab suar Matahari dan Lontaran Massa Koronal (CME) yang mengandung partikel bermuatan dan dapat menciptakan aurora berwarna-warni di atmosfer Bumi jika CME diarahkan ke planet kita.

CME adalah lontaran plasma dan medan magnet dari atmosfer Matahari yang disebut korona. Dibandingkan lidah api matahari, radiasi elektromagnetik CME lebih lambat sampai ke Bumi.

Kecepatan tertinggi yang bisa dicapainya untuk sampai ke Bumi adalah 3.000 km per detik. Sementara, di kecepatan terlambatnya radiasi elektromagnetik CME ada di angka 250 km/detik.

Biasanya CME tidak berbahaya, tetapi ledakan yang kuat dapat mengganggu satelit, saluran listrik, dan infrastruktur lainnya.

Melansir Forbes, ini bukan kali pertama gerhana Matahari hanya bisa dilihat dari angkasa. Selama tahun 1960 hingga 1970an, para astronot dalam misi Apollo melihat Matahari dihalangi oleh Bulan ketika mereka sedang dalam misinya.

Neil Armstrong bahkan mengatakan, daripada tercatat sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di Bulan, pengalaman dalam perjalanannya justru adalah yang paling berkesan selama misi Apollo 11. 

Lebih lanjut, Bulan bukan hanya satu-satunya satelit yang bisa menyebabkan gerhana Matahari. Pada awal tahun ini, satelit Mars yakni Phobos juga bisa menyebabkan pemandangan serupa, seperti terekam dalam kamera milik wahana NASA, Perserverance.


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: