3 Baju Adat Paling Unik di Indonesia, Ada yang Tertua di Dunia, Lho!

Sabtu, Agustus 20, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi Baju Adat Paling Unik di Indonesia. Foto: Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Riau

Baju adat adalah eskpresi identitas sebuah wilayah yang berbicara tentang banyak hal, seperti budaya, iklim, status sosial, agama, dan sebagainya.
Karena itu, baju adat berbeda-beda di tiap daerah. Baju adat sendiri bukanlah pakaian sehari-hari, melainkan situasional.
Dikutip dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, baju adat dikenakan saat momen besar terjadi, misalnya kelahiran, pernikahan, kematian, dan hari besar keagamaan. Baju adat adalah tanda yang mencerminkan sikap dan juga doa.

3 Baju Adat Paling Unik di Indonesia

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, baju adat sangat beragam, dan masing-masing baju adat memiliki keunikan tersendiri. Tapi di bawah ini ada tiga baju adat paling unik di Indonesia, ditilik dari sejarah, bahan pembuatan, serta maknanya. Yuk, simak daftarnya!

1. Baju Bodo

Baju bodo adalah pakaian tradisional perempuan di suku Bugis, Sulawesi Selatan. Umumnya baju bodo dipakai dalam acara adat atau pernikahan.
Baju bodo dikenal juga sebagai salah satu baju adat tertua di dunia. Konon, masyarakat Bugis sudah menggunakannya sejak pertengahan abad ke-9. Hal tersebut diketahui dari kain yang digunakan dalam baju bodo, yakni tenunan kain muslin.
Kain muslin diyakini berasal dari Dhakeshwari (sekarang Dhaka), ibu kota Bangladesh dan telah ada sejak abad ke-9.
Baju bodo sendiri berbentuk segi empat dan berlengan pendek. Kainnya transparan dan dulu perempuan memakainya tanpa baju dalam.
Tapi seiring dengan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan, baju bodo akhirnya dimodifikasi dan dipasangkan dengan dalaman untuk menutupi payudara perempuan.

2. Baju Adat Paes Ageng

Ilustrasi Baju Adat Paes Ageng. Foto: Dok. Owlsome Project
Baju adat Paes Ageng kerap digunakan sebagai baju besar pernikahan dalam budaya Jawa. Dulunya, Paes Ageng hanya boleh dikenakan oleh Keraton Yogyakarta . Tapi, pada era Sultan Hamengku Buwono IX, peraturan tersebut diubah dan masyarakat di luar Keraton diperkenankan memakai Paes Ageng.
Paes Ageng sendiri adalah pakaian yang terbuat dari kain dodot dan kain cinde. Pakaian ini unik karena masing-masing kain memiliki filosofi tersendiri.
Kain dodot biasanya menggunakan motif semen raja, maknanya agar pengantin mempunyai hidup yang mulia seperti raja. Sementara kain cinde sendiri melambangkan penghormatan kepada dewi kemakmuran, yaitu Dewi Sri.
Tidak hanya kain, aksesori dalam pakaian adat ini pun memiliki makna tersendiri. Sebut saja sumping, hiasan di telinga mempelai pria yang bentuknya segitiga. Sumping adalah simbol pengharapan agar pengantin laki-laki lebih peka dengan kondisi sekitarnya.

3. Baju Adat Sangkarut

Ilustrasi Baju Adat Sangkarut. Foto: Pixabay
Baju adat sangkarut adalah salah satu simbol peradaban suku Dayak Ngaju. Baju ini sangat unik karena menggunakan bahan alami sebagai materialnya, yakni kulit siren atau nyamu dengan diberi warna dan corak.
Baju Sangkarut berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki, yang dipakai hanya rompi dan kain untuk menutupi bagian bawah hingga lutut. Kemudian para pria memakai ikat kepala berhiaskan bulu-bulu enggang, ikat pinggang, ornamen kalung manik-manik serta tameng kayu.
Sementara pada perempuan, baju adatnya berupa rompi, rok yang pendek, ikat kepala berhiaskan bulu-bulu enggang, gelang, ikat pinggang, juga oranamen kalung manik-manik.
Baju Sangkarut dahulu digunakan sebagai baju perang selain sebagai baju adat pernikahan. Hal tersebut karena baju ini diyakini dapat melindungi pemakainya dari pengaruh orang jahat.
Saat berperang, baju Sangkarut akan diberi ornamen bahan alami seperti kerang, uang logam, dan benda magis yang dipercaya membuat pemakai kebal dengan senjata tajam dan api.

Sumber : kumparan.com

0 comments: