8 Hal Tentang Suku Polahi yang Khas dengan Tradisi Kawin Sedarah

Senin, Agustus 29, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Tempat tinggal suku Polahi di Gorontalo. (Foto: ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

Makassar - Suku Polahi dikenal sebagai kelompok masyarakat yang berdiam di salah satu wilayah Gorontalo. Tradisi kawin sedarah menjadi ciri khas suku ini.

Antropolog dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Yowan Tamu mengatakan suku Polahi menggunakan bahasa asli Gorontalo zaman dahulu. Mereka juga disebut memakai bahasa tubuh yang hanya dimengerti oleh suku mereka.

Suku Polahi tidak menerima pendatang. Hal ini membuat masyarakat dari luar suku Polahi harus menggunakan pemandu yang sudah diterima oleh mereka.

"Mereka (masyarakat suku Polahi) tidak serta merta menerima orang asing. Karena bagi mereka orang asing itu adalah orang yang membahayakan. Jadi kalau ingin menemui mereka kita harus menggunakan guide (pemandu) yang memang mereka kenal," ujar Yowan Tamu saat berbincang dengan detikcom, Jumat (26/8/2022).


Berdasarkan sejumlah penelitian masyarakat suku Polahi tidak memiliki kepercayaan dan tidak mengenal agama apapun. Hal ini disebabkan mereka tidak menerima informasi dari luar lingkungannya.

Namun Yowan menggarisbawahi bahwa pengetahuan tentang kehidupan masyarakat suku Polahi masih sangat terbatas. Hal ini tak lain karena masyarakat yang sangat tertutup sehingga penelitian mendalam masih sangat sulit dilakukan.

berikut 8 hal tentang masyarakat suku Polahi di Gorontalo:

1. Sejarah Suku Polahi: Lari dari Penjajahan Belanda
Yowan menjelaskan suku Polahi awalnya masyarakat biasa yang tinggal di Gorontalo. Namun, pada masa penjajahan masyarakat Polahi melarikan diri jauh ke dalam hutan karena menolak dijajah dan membayar pajak.

Dia menyebut masyarakat suku Polahi sudah mengasingkan diri sejak masa pemerintahan Raja Eyato, tahun 1673 hingga 1679 masehi. Mereka lalu menciptakan peradaban sendiri yang kemudian terlanjur hidup dalam kondisi terisolasi.

"Jadi pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan hidup dalam kungkungan dari penjajahan. Makanya mereka lari mengasingkan diri. Akhirnya seperti itukan mereka karena sudah mengasingkan diri," jelas Yowan.

Yowan mengatakan dari hasil beberapa pengamatan, hingga kini suku Polahi masih hidup terisolasi dengan keadaan primitif. Menurutnya, suku Polahi hidup dengan mengkonsumsi isi hutan baik itu daun kering, daun hijau hingga hewan yang tersedia di sekeliling mereka.

"Mereka makan makanan dalam hutan. Mau daun-daun kering, daun-daun yang hijau, mereka makan. Karena mereka tidak memiliki beras, bahkan mereka memasak masih menggunakan rotan. Mereka memakan binatang-binatang yang mereka dapat di sekitar mereka," tuturnya.

2. Suku Polahi yang Nomaden
Yowan mengatakan suku Polahi adalah masyarakat yang Nomaden. Komunitas masyarakat ini memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari pada menetap di suatu tempat.

Menurut Yowan, suku Polahi bermukim jauh di dalam hutan Gunung Boliyohuto, Gorontalo. Mereka akan mulai mencari tempat tinggal lain di Gunung Boliyohuto jika salah satu anggota suku meninggal.

"Mereka tuh mengadopsi Nomaden. Misalnya kalau ada yang meninggal di satu lokasi, mereka harus pindah lokasi. Mereka tidak mau tinggal di situ karena dianggap itu adalah sakral buat mereka," jelasnya.

3. Klaster Suku Polahi
Suku Polahi ternyata juga menerapkan klaster masyarakat sesuai kedalaman bermukim mereka di dalam hutan di Gunung Boliyohuto. Berdasarkan identifikasi Departemen Sosial Kabupaten Gorontalo, diketahui suku Polahi terbagi dalam 4 klaster.

"Jadi ada nama-namanya. Itu klasternya ada yang disebut sebagai kelompok 9, kelompok 18, kelompok 21, dan kelompok 70. Jadi kalau kelompok 9 itu mereka ada 9 orang di situ. Kelompok 18 mereka 18 keluarga. Kelompok 21 ada 21 keluarga. Jadi nama-nama kelompok gitu. Kalau itu yang diidentifikasi oleh Departemen Sosial Kabupaten Gorontalo ya," terangnya.

Kelompok yang mendiami wilayah gunung tertinggi merupakan kelompok dengan keadaan paling primitif dan jumlah kelompok paling kecil, yakni klaster 9. Kelompok tersebut sangat sulit untuk ditemui, sebab mereka menganggap orang asing bagai sesuatu yang membahayakan atau penjajah.

Sementara, kelompok yang bermukim di wilayah kaki gunung Boliyohuto merupakan Suku Polahi yang dengan kelompok terbanyak, klaster 70. Mereka mulai beradaptasi dengan penduduk Gorontalo di sekitar kaki gunung dengan turun ke pasar dan belajar berpakaian layak.

4. Tidak Mengenal Mata Uang
Masyarakat suku Polahi tidak menerima apapun sehingga mereka tidak mengenal mata uang. Yowan mengatakan, masyarakat suku Polahi seringkali menjual hasil kebun di pasar, di wilayah kaki gunung.

Namun, mereka akan menjualnya dengan harga sangat murah, karena tidak mengenal mata uang yang berlaku. Yowan menuturkan beberapa suku Polahi akan terlihat pada hari-hari tertentu di pasar Muhiyolo.

"Mereka menerima uang tapi kan mereka nggak tahu itu jumlahnya berapa," cerita Yowan.

Adapun hasil perkebunan yang dijual oleh suku Polahi adalah cabai. Salah satu kebutuhan pokok ini kerap dibeli oleh masyarakat sekitar gunung dengan harga yang sangat murah dibandingkan harga normal.

5. Tradisi Perkawinan Sedarah
Selain dikenal menjalani kehidupan primitif, masyarakat suku Polahi juga memiliki tradisi yang tidak lazim. Yakni melakukan perkawinan sedarah atau incest.

Perkawinan sedarah ini dilakukan baik antar saudara, ibu dengan anak, maupun bapak dengan anak. Secara ilmu medis perkawinan sedarah akan melahirkan anak yang cacat, uniknya keturunan suku Polahi tetap normal.

Yowan mengatakan belum ada peneliti medis yang berhasil mengungkap rahasia di balik perkawinan sedarah di suku Polahi. Namun dari kacamata antropologi, Yowan mengatakan mungkin saja suku Polahi memiliki ritual khusus dalam kehidupan mereka sehingga anak yang dilahirkan tetap normal.

"Mungkin saja mereka memang ada ritual. Seperti mengonsumsi tumbuhan tertentu, kan mereka tinggal di jauh di dalam hutan, di gunung, jadi otomatis kan namanya di gunung pasti banyak tumbuhan-tumbuhan yang mungkin kita belum tau khasiatnya," jelas Yowan.

6. Masih Sulit Diteliti Antropolog
Yowan Tamu mengaku sangat sulit melakukan penelitian mendalam terhadap suku Polahi di Gorontalo. Termasuk untuk mengulik secara dalam tentang tradisi perkawinan sedarah yang dilakukan suku tersebut.

Masyarakat suku Polahi sangat tertutup dari dunia luar termasuk pendatang. Untuk mengunjungi masyarakat dari suku Polahi harus menggunakan pemandu yang sudah diterima oleh mereka.

"Mereka (masyarakat suku Polahi) tidak serta merta menerima orang asing. Karena bagi mereka orang asing itu adalah orang yang membahayakan. Jadi kalau ingin menemui mereka kita harus menggunakan guide (pemandu) yang memang mereka kenal," jelas Yowan kepada detikSulsel, Jumat (26/8/2022).


Yowan mengatakan, pengetahuan tentang kehidupan masyarakat suku Polahi masih sangat terbatas. Karena masyarakat yang sangat tertutup sehingga penelitian mendalam masih sangat sulit dilakukan.

7. Tradisi Perkawinan Sedarah Suku Polahi Masih Misteri
Yowan mengatakan masih banyak misteri tentang suku Polahi, termasuk tradisi perkawinan sedarah yang dilakukan mereka. Dia mengakui belum ada penelitian mendalam membuktikan semua tanda tanya tentang perkawinan sedarah tersebut.

"Ada sejumlah penelitian yang menyebutkan perkawinan incest (perkawinan sedarah), tetapi untuk detailnya itu belum ada," kata Yowan.

Menurut dia, penelitian-penelitian tentang suku Polahi hanya dilakukan pada masyarakat terluar di kaki pegunungan. Sehingga tidak ada penelitian rinci pada masyarakat primitif di kelompok terdalam tentang pernikahan sedarah ini.

8. Keturunan Kawin Sedarah yang Tidak Cacat Jadi Tanda Tanya
Yowan juga mengatakan hal yang paling menjadi tanda tanya bagi peneliti dan akademisi seperti dirinya adalah mengungkap tentang keturunan hasil perkawinan sedarah suku Polahi. Pasalnya, berbeda dengan keilmuan medis, keturunan suku Polahi tidak ada mengalami cacat.

Hal ini bertentangan dengan keilmuan yang ada bahwa anak hasil hubungan sedarah akan memiliki keragaman genetik yang sangat minim dari DNA-nya. Kurangnya variasi dari DNA dapat meningkatkan peluang terjadinya penyakit genetik langka atau cacat.

"Yang unik adalah hasil keturunan mereka tidak ada yang cacat. Mereka normal normal saja. Tidak seperti yang biasa ada di negara-negara lain. Kalau nikah sedarah pasti cacat kan, kalau di Polahi itu tidak ada (yang cacat)," kata Yowan.

Menurutnya dari kacamata antropologi, bisa saja ada ritual khusus yang dilakukan masyarakat suku Polahi. Seperti mengonsumsi tumbuhan tertentu yang terdapat di dalam hutan.

Meski begitu, Yowan mengatakan belum ada yang bisa memecahkan misteri tersebut. Pasalnya belum ada peneliti yang mampu meneliti terkait keunikan tersebut secara keilmuan.


Sumber : kumparan.com

0 comments: