Jenis Rumah Adat Osing di Banyuwangi Serta Filosofinya

Kamis, Agustus 25, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Rumah adat suku Osing Banyuwangi/ Foto: Ardian Fanani/detikJatim/file

Surabaya - Suku Using atau Suku Osing Banyuwangi memiliki beragam budaya yang masih dilestarikan hingga kini. Salah satunya rumah adat Osing. Rumah adat ini memiliki jenis, filosofi, dan keunikan tersendiri.

Meski berlokasi di Pulau Jawa, rumah adat Osing memiliki konsep yang berbeda dengan rumah adat Jawa. Baik orientasi bangunan, pola ruang, bentuk arsitektur, maupun material bangunan yang dipakai.

Anda pun bisa menemukan berbagai rumah Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Bahkan, wilayah ini disebut Kampung Osing karena penduduknya masih melestarikan adat dan budaya suku using.


"Kalau melihat sekilas mungkin sama. Tapi rumah adat Osing ini jelas beda dengan rumah-rumah Jawa atau Bali," ujar tokoh muda di Desa Kemiren, Haidi Bing Selamet kepada detikJatim, Senin (4/4/2022).

Menurut dia, rumah adat Osing adalah rumah yang sepenuhnya terbuat dari kayu. Biasanya, kayu yang dipakai dari pohon Bendo, Cempaka, Tanjang, Potat, dan kayu Mangir. Sebab, kayu-kayu itu memiliki tekstur ringan dan bisa bertahan puluhan tahun.

Untuk mengetahui jenis, filosofi, dan keunikan Rumah Adat Osing, simak penjelasan yang telah dirangkum detikJatim berikut ini.

Jenis Rumah Adat Osing
Menurut bentuk atapnya, rumah adat Osing dibedakan menjadi tiga jenis. Yakni cerocogan, tikel balung, dan baresan.

Cerocogan adalah rumah Osing dengan satu atap saja dan dihuni oleh satu keluarga dengan ekonomi rendah. Namun begitu, Haidi memastikan bahwa saat ini sudah jarang ditemukan rumah tipe cerocogan di Desa Kemiren. Sebab, kemajuan Banyuwangi di sektor pariwisata telah berdampak luar biasa terhadap perekonomian.

"Jika pun ada rumah jenis cerocogan itu sengaja dibangun untuk kepentingan home stay bagi wisatawan. Bangunannya pun sudah sangat bagus dibandingkan zaman dulu," katanya.

Baresan adalah rumah Osing dengan tiga sisi atap, sehingga memiliki satu ruangan tambahan di sebelah kanan atau kiri. Rumah Osing baresan dihuni oleh keluarga dengan ekonomi menengah. Jenis itu memiliki 3 rab dengan 4 soko dan 2 songgo tepas.

Sedangkan rumah Osing tikel balung terdiri dari 4 buah sisi atap, sehingga memiliki ruang tambahan di kanan dan kiri rumah. Rumah tikel balung biasanya dihuni oleh keluarga kaya dan terpandang. Jenis atap tikel balung adalah bentuk paling sempurna dari rumah adat Suku Osing.

"Rumah jenis ini biasanya dihuni keluarga mapan. Baik secara ekonomi atau memang dari golongan kasta yang tinggi pada zaman dulu," jelas Haidi.

Filosofi Rumah Adat Osing
Dalam membangun sebuah rumah, masyarakat suku Osing juga tetap mempertahankan filosofi leluhurnya. Ada beragam aturan dan kepercayaan dalam filosofi tersebut.

"Misalnya kepercayaan menentukan arah rumah dari hari kelahiran atau hitungan berdasarkan weton. Ada yang masih menggunakan pertimbangan seperti itu," tutur Haidi.

Sebuah jurnal penelitian menyebutkan bahwa susunan permukiman Suku Using dipengaruhi faktor kekeluargaan. Dalam satu lokasi kebanyakan ada beberapa rumah yang memiliki hubungan saudara yang tinggal berdekatan. Dengan demikian, lahan hunian suku Using mampu berkesinambungan tiap generasi keturunannya.

Sebagian konsep dasar bangunan rumah adat suku Osing ini juga bersumber dari alam yang mengadopsi nilai-nilai luhur sejarah masyarakat asli Kerajaan Blambangan di zaman dahulu.

"Memang sebagian rumah sudah beradaptasi dengan arsitek moderen, seperti lantai yang sudah keramik. Namun, untuk struktur bangunan utama harus sesuai dengan adat dan budaya Using," jelasnya.

Haidi menyebut, rumah adat suku Using ini tidak boleh lepas dari beberapa struktur bangunannya. Pertama, adalah Soko. Yakni 4 tiang besar yang menjadi pilar penyangga utama rumah.

Kedua adalah Songgo Tepas. Itu adalah tiang berukuran lebih kecil dari Soko yang berfungsi sebagai penyangga dua atap yang berada di samping.

"Kemudian ada namanya Ander. Ini adalah kayu besar yang dipasang di tengah dan tegak lurus dengan Lambang (bagian kayu yang terletak di ujung)," katanya.

Selanjutnya ada Penglari yang merupakan bagian terpanjang dari di sekitar atap yang terletak di atas Jait Dhowo (kayu yang berada di bawah Penglari). Letaknya yang menjorok keluar bidang atap sehingga dapat dilihat dari luar rumah. Lebar permukaan, Jait dhowo tidak lebih besar dari Penglari.

Keunikan Rumah Adat Osing
Dalam situs Perumahan dan Kawasan Permukiman disebutkan bahwa keunikan rumah adat Osing adalah arah menghadapnya rumah ditentukan oleh hari kematian orang tua. Jika orangtua meninggal pada hari Senin, maka rumah akan menghadap ke barat. Jika meninggal pada hari Selasa, maka rumah harus menghadap ke timur.

Jika meninggal pada hari Rabu, maka rumah harus menghadap ke selatan. Jika meninggal pada hari Kamis, maka rumah harus menghadap ke utara.

Sementara, jika meninggal pada hari Minggu, rumah harus menghadap ke barat. Aturan adat tersebut membuat pola perumahan Rumah Osing tidak beraturan. Bagian depan rumah Osing tidak selalu menghadap ke jalan seperti pada rumah-rumah pada umumnya.

Nah, itu tadi ulasan Rumah Adat Osing Banyuwangi. Semoga bermanfaat ya.


Sumber : detik.com

0 comments: