Mengenal Thethek Melek, Tradisi Khas Pacitan Usir Pagebluk

Rabu, Agustus 31, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Foto: Tradisi Thethek Melek di Pacitan (Purwo Sumodiharjo/detikJatim)

Pacitan - Sudah hampir sekitar 2 tahun masyarakat harus bergulat dengan wabah. tak hanya menularkan ke manusia, wabah juga menulari hewan. Untuk mengusir wabah-wabah tersebut, Masyarakat di Desa Sukoharjo, Paciran menggelar Thethek Melek.
Thethek Melek merupakan tradisi unik mengusir pagebluk. Dalam ritual itu, masyarakat membunyikan berbagai aneka instrumen dari alat-alat pertanian dan kentongan sambil keliling area persawahan desa setempat.

Pemainnya ratusan orang. Harmoni musik alam pun tercipta. Arak-arakan manusia itu menyemut. Sembari terus memainkan lagu, mereka berjalan melalui jalur sempit di antara hamparan sawah. Sementara di bagian paling depan terlihat serombongan orang membawa tumpeng berukuran raksasa.


"Kita berharap pagebluk (pendemi) segera berakhir, baik yang menjangkit warga, ataupun tanaman dan hewan," kata Kepala Desa Sukoharjo, Muhammad Anam, Rabu (31/8/2022).

Anam mengatakan tradisi ini sudah cukup lama tak digelar. Tradisi ini sendiri merupakan warisan para pendahulu. Namun seiring kegelisahan masyarakat akan masa pagebluk belakangan ini, warga pun sepakat menggelarnya lagi. Di sisi lain ini merupakan upaya melestarikan tradisi khas setempat.

"Para petani juga merasakan hasil panen sebelumnya kurang memuaskan karena banyak hama yang menyerang," papar Anam ihwal penurunan produksi beras akibat penyakit tanaman.

Pegiat budaya lokal Amin Sastropawiro menjelaskan Thethek sendiri berarti mengusir. Sedangkan Melek berarti membuka mata alias nyata. Kalimat itu bermakna harapan bahwa prosesi tersebut menjadi sarana mengusir marabahaya yang timbul di desa.

Amin pun menuturkan legenda masyarakat setempat. Konon ratusan tahun lalu seorang sesepuh desa mendapati kawasan pertanian rusak diserang hama. Usai memperoleh wangsit, sang tokoh berjalan mengelilingi desa diikuti masyarakat warga sembari memukul-mukul alat pertanian.
"Dari sana tradisi Thethek Melek tercipta dan dilakukan setiap ada pagebluk melanda," ujar budayawan berambut gondrong itu.

Amin berharap kegiatan tersebut mampu membangkitkan kembali tradisi desa di belahan timur Kecamatan Pacitan itu. Tak sekadar melestarikan budaya, namun kegiatan tersebut bakal jadi ikon budaya desa setempat.

"Kita pingin kembali berkumpul dengan masyarakat, syukuran. Apalagi selama pandemi COVID-19 kemarin kita sulit berkumpul," katanya.

Sementara itu Ketua Dewan Kesenian Khoirul Amin menilai tumbuhnya kegiatan budaya lokal jadi nilai positif. Itu dapat dimaknai masyarakat kian sadar akan pentingnya pelestarian tradisi serta aset sejarah.

Khoirul berharap intervensi dan dukungan pemerintah Pacitan guna melestarikan budaya yang ada. Terlebih, keberadaan budaya di sebuah daerah niscaya menjadi nilai lebih untuk meningkatkan pamor pariwisata alam Pacitan yang memang cukup kaya.

"Masyarakat bergerak dan sadar akan budaya mereka. Juga mau nguri-uri (menjaga) dan itu yang penting," jelasnya seraya menyarankan pentingnya kemasan seni agar layak jual dan tak dibiarkan berjalan sendiri.


Sumber : detik.com

0 comments: