Tradisi Unik Malam Pengantin di Kaukasus: Menguping dan Pamer Seprai di Pagi Hari

Selasa, Agustus 30, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Memamerkan seprai di pagi hari sesudah malam pengantin adalah tradisi umum di Kaukasus. Adanya darah di situ memperlihatkan adanya hubungan intim antara suami-istri yang baru menikah.

Daerah Kaukaus mencakup Armenia, Azerbaijan, Georgia dan sebagian Rusia.

Biasanya, ada saudara jauh yang hadir di kamar sebelah menjalankan peran "engi", seorang perempuan yang pergi ke rumah bersama pasangan yang baru menikah segera sesudah pernikahan, dan ikut duduk di ruangan di sebelah kamar tidur.

Salah satu tugasnya adalah memberi konsultasi mengingat pengantin perempuan tidak punya pengalaman seks dan bisa lari dari kamar tidur meminta nasehat dari perempuan yang lebih tua.

Satu lagi tanggung jawab engi adalah mengambil seprai yang dipakai di malam pengantin.

Keluarga akan memberi selamat ketika melihat noda darah dan hanya dengan ini upacara pernikahan dianggap komplet.

"Inilah mengapa malam pengantin terselubung misteri - apa yang akan ditampilkan oleh seprai di pagi harinya," kata Shakhla Ismail, yang mempelajari hak-hak perempuan di Azerbaijan.

Jika tak ada noda darah, pengantin perempuan bisa dikucilkan dan dikembalikan ke orang tuanya, dianggap "cacat". Kemudian jika ia bercerai, akan sulit baginya menikah kembali. Ia juga bisa dirundung di rumah orang tuanya.

Terkadang sebelum pernikahan, calon pengantin perempuan diperiksa oleh "spesialis" yang memastikan keperawanannya. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah meminta agar praktek ini dihentikan, tapi masih saja dijalankan hingga kini di 20 negara.

"Tradisi ini mendatangkan trauma tersendiri bagi perempuan," kata psikolog Ellada Gorina dilansir dari BBC.

Di zaman modern, orang menikah di usia lebih lanjut dan punya pengalaman seks sebelum menikah. Peran para saksi ini tak lagi untuk memberi nasehat melainkan untuk memastikan keperawanan si perempuan.

"Hingga kini banyak perempuan menganggap engi itu sesuatu yang normal," kata Gorina.

"Trauma, konflik dan penderitaan terjadi ketika generasi baru rumbuh lebih progresif ketimbang orang tua mereka," kata dia.


Sumber : okezone.com

0 comments: