Banyuwangi Punya Kain Tenun Suku Osing yang Bernilai Fantastis

Rabu, September 14, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Kain tenun khas Suku Osing yang bernilai fantastis/Foto: Ardian Fanani/detikJatim

Banyuwangi - Banyuwangi memiliki budaya yang sangat beragam. Salah satunya dari sisi garmen. Selain batik, Banyuwangi juga memiliki tenun khas Suku Osing.

Kain tenun Osing ini dibuat oleh perajin bernama Siyami (70), warga Dusun Delik 1, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Kini, dia adalah satu-satunya penenun di Banyuwangi. Karenanya, kain tenun buatannya bisa bernilai fantastis dan diburu oleh kolektor.


Kain tenun khas Suku Osing ada beragam jenis. Namun, Siyami kini hanya bisa membuat tenun jenis Keluwung. Kain ini bermotif pelangi dengan beragam warna benang yang dipintal menjadi sebuah lembaran kain.

Dulunya, Siyami mengaku bisa membuat tenun jenis Solok dan Boto Lumut. Namun karena ketajaman mata sudah mulai berkurang, dirinya hanya bisa membuat jarit Keluwung.

"Ya Keluwung ini yang masih tersisa. Karena sudah lama mata saya tidak terlalu bisa membedakan warna," ujarnya kepada detikJatim, Minggu (11/9/2022).

Awalnya, harga kain tenun miliknya berkisar Rp 6 ribu. Harga itu meningkat seiring dengan waktu. Bahkan, kini tenun miliknya mencapai Rp 3 juta.

"Karena memang buatnya sangat rumit. Sekarang harganya telu (Rp 3 juta). Dulu emak (ibu) jualnya Rp 6 ribu. Saya sebenarnya tidak memasang harga, tapi ada yang menghargai," katanya.

Tak hanya itu, benang yang digunakan untuk membuat kain jarit diakuinya sudah jarang ditemukan di pasaran. Sehingga, dirinya harus mencari hingga beberapa kota lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

"Dulu ada di Malang. Saya selalu titip, sekarang sudah tidak ada lagi. Ada kalau mungkin di Jogja atau di Jawa Tengah," bebernya.

Proses pembuatan kain tenun cukup memakan waktu. Mulai dari pemilihan benang dari gulungan, penjemuran benang selama sehari penuh. Kemudian benang diliring atau dibentangkan.

"Setelah itu, barulah proses tenun dimulai. Proses ini membutuhkan waktu hingga seminggu lebih," katanya.

Dalam pembuatan kain tenun, Siyami mengaku bisa menyelesaikan dalam waktu satu bulan. Hal ini juga menyesuaikan dengan kondisi kesehatannya yang sudah mulai berkurang.

"Ada saja yang pesan. Cuma saya tidak bisa cepat. Ya satu bulan lah selesai," pungkasnya.


Sumber : detik.com

0 comments: