Betoh Labeng, Tempat Warga Bondowoso Mengintip Datangnya Kemarau

Senin, September 19, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Betoh Labeng di Desa Banyuputih, Wringin, Bondowoso/Foto: Chuk Shatu Widarsha/detikJatim

Bondowoso - Sebongkah batu di Bondowoso dipercaya masyarakat dapat digunakan untuk melihat datangnya musim kemarau. Caranya cukup dengan mengintip di celah batu.

Batu ini terletak di Desa Banyuputih, Wringin. Batu ini bentuknya unik, memiliki panjang sekitar 8 meter dan lebarnya 5 meter. Sementara tingginya sekitar 8 meter.

Warga sekitar menyebutnya Betoh Labeng. Berasal dari bahasa lokal (Madura) yang artinya batu yang ada pintunya.

Betoh Labeng juga dikenal dengan nama Batu Eppian yang bermakna batu tempat menyepi atau semedi. Sebab, zaman dulu batu tersebut kerap dijadikan tempat bertapa oleh orang-orang.

Disebut Betoh Labeng karena sepintas batu ini di bagian tengahnya tampak ada celah selebar setengah meter. Celah itu tembus hingga bagian di baliknya. Sehingga dari celah setinggi 3 meter ini dapat melihat sesuatu di balik batu.

Celah tersebut dipercaya dapat digunakan untuk melihat datangnya musim kemarau. Yakni dengan berdiri di depan batu itu pada pagi hari. Ketika dari celah itu sudah dapat melihat matahari, berarti bisa dipastikan musim kemarau sudah tiba.

"Itu sudah turun-temurun, Mas. Pada bulan-bulan tertentu warga berdiri persis di depan batu," jelas warga setempat, Pak Su (57), saat ditemui detikJatim, Senin (19/9/2022).

"Warga desa kebanyakan memang petani tembakau. Jika dari celah batu itu sudah dapat melihat matahari, maka segera memulai tanam tembakau. Karena diyakini sudah tak mungkin ada hujan," tutur warga yang rumahnya tak jauh dari batu itu.

Kasi Sejarah dan Cagar Budaya Disparbudpora Bondowoso, Heri Kusdariyanto menyebutkan, Betoh Labeng sejatinya merupakan situs purbakala peninggalan era megalitikum berbentuk menhir.

Menhir adalah batu tunggal atau berkelompok berukuran besar, lalu ditata sehingga berbentuk tugu. Biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah.

"Di era megalitikum menhir berfungsi sebagai sarana pemujaan, tanda kubur, atau sebagai penanda wilayah," terang arkeolog alumnus Universitas Udayana (Unud), Bali ini.

Menhir Betoh Labeng konstruksinya terdiri atas batu besar yang disusun secara vertikal. Sehingga berbentuk seperti daun pintu yang berdiri tegak dengan lubang bagian tengahnya.

"Selain menhir Betoh Labeng, di kawasan itu juga banyak terdapat gerabah peninggalan megalitik. Termasuk dolmen, sarkofagus, dan lainnya," pungkas Heri.


Sumber : detik.com

0 comments: