Mengenal Boyang, Rumah Adat Mandar yang Unik dan Filosofis

Sabtu, September 17, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Rumah Adat Mandar (Foto: Dinas Pariwisata Prov. Sulawesi Barat)

Polewali Mandar - Rumah Adat Mandar di Sulawesi Barat (Sulbar) biasa disebut sebagai rumah Boyang. Rumah berbentuk panggung ini terbuat dari bahan kayu terbaik dengan tiang-tiang penopang yang tinggi menjulang.

Sekilas, penampakan rumah Boyang terlihat sama dengan rumah adat lain yang ada di Sulawesi, khususnya rumah adat Bugis dan Makassar. Namun, jika ditelisik lebih dalam, rumah adat Mandar ini punya keunikannya tersendiri.


Khususnya terkait struktur arsitektur dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Bagi masyarakat suku Mandar, rumah Boyang ini memiliki nilai-nilai dan prinsip hidup yang tinggi.

Lantas seperti apa bentuk, arsitektur dan makna filosofis dari rumah adat Mandar ini?

2 Jenis Boyang, Rumah Adat Mandar
Menurut Buku Arsitektur Mandar Sulawesi barat (2018) yang diterbitkan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, disebutkan bahwa ada dua jenis rumah Boyang. Yakni rumah Boyang Adaq dan rumah Boyang Beasa.

Rumah Boyang Adaq ditempati oleh kaum bangsawan. Sementara rumah Boyang Beasa ditempati oleh masyarakat umum.

Secara arsitektur bangunan, tidak ada perbedaan mencolok antara Boyang Adaq dan Boyang Beasa. Hanya dari segi ornamen-ornamen yang ditambahkan pada rumah Boyang Adaq untuk menunjukkan status sosial penghuninya.

Ornamen tersebut berupa Tumbaq Lajar (penutup bubungan) yang terlihat pada bagian depan atap rumah. Pada rumah Boyang Adaq, Tumbaq Lajar tersebut dibuat bersusun-susun (3 hingga 7 susun) untuk menandakan tingkat kebangsawanan pemilik rumah. Makin banyak susunannya makin tinggi tingkat status sosialnya.

Selain itu, ornamen yang juga berbeda adalah anak tangga. Pada rumah Boyang Adaq, anak tangga biasanya dibuat bersusun 2. Bagian bawah terdiri dari 3 anak tangga, dan bagian atas antara 9 hingga 11 anak tangga.

Antara tingkat pertama dan kedua dibuat pararang. Semacam area lantai papan seluas kurang lebih 1x1 meter. Fungsinya untuk menyimpan alas kaki sebelum naik ke rumah. Pada rumah Boyang Beasa kedua bagian ornamen itu tidak dibuat bertingkat.

Susunan tingkat semacam ini sangat penting maknanya bagi masyarakat suku Mandar.

Konon, pada masa pemerintahan Arajang Balanipa ke-53 Hj Andi Saharibulang, masyarakat yang mendirikan rumah adat dengan menggunakan Tumbaq Lajar yang melebihi kadar kebangsawanannya, maka dipastikan rumahnya akan digusur.

Bentuk dan Arsitektur Bangunan Rumah Adat Mandar
Rumah adat Mandar memiliki gaya arsitektur dan struktur bangunan yang khas. Baik rumah Boyang Adaq maupun rumah Boyang Beasa, keduanya memiliki kesamaan bentuk dan struktur.

Secara umum, rumah adat Mandar adalah bangunan berupa rumah panggung berbentuk segi empat. Tiang-tiang yang menopangnya adalah balok-balok besar yang tingginya sekitar 2 meter. Tiang-tiang penyangga ini tidak ditancapkan ke dalam tanah, melainkan disanggah dengan batu. Hal ini dimaksudkan agar tiang tersebut tidak cepat lapuk.

Struktur bangunan rumah Boyang dari atas ke bawah terdiri dari tiga susunan. Bagian paling atas disebut Tapang (meliputi bagian atap dan loteng).

Bagian loteng ini cukup unik. Terletak di atas ruang tamu dan biasa digunakan sebagai tempat penyimpanan beras atau gabah. Pada jaman dahulu, tapang juga berfungsi untuk memingit anak gadis yang akan menjadi calon pengantin.

Bagian tengah adalah tempat yang ditempati penghuni rumah disebut Roang Boyang. Dan paling bawah atau bagian kolong rumah disebut dengan Naong Boyang.

Demikian juga dengan struktur bangunan dari depan ke belakang, terdiri dari tiga petak (tallu lotang). Yaitu samboyang (ruang depan), tangnga boyang (ruang tengah) dan bui boyang (bagian belakang).

1. Samboyang
Samboyang adalah petak bagian depan dari rumah adat Mandar. Fungsi utamanya adalah sebagai ruang tamu. Pada acara hajatan, ruang Samboyang ini digunakan oleh para pria untuk berkumpul.

Karena fungsinya itu, maka ruang ini menjadi pusat perhatian untuk dijaga kebersihannya.

Antara Samboyang dan Tangnga Boyang biasanya terdapat sekat yang disebut Passollor. Ini adalah tanda dan batas area untuk tamu. Seorang tamu dianggap kurang sopan jika melewati area Passollor ini tanpa ijin dari pemilik rumah.

2. Tangnga Boyang
Bagian Tangnga Boyang merupakan ruang keluarga. Bagian ini menjadi pusat aktivitas dan interaksi sosial antara anggota keluarga. Kegiatan seperti menonton TV atau bercengkerama lebih banyak dilakukan di ruang ini.

Di bagian Tangnga Boyang juga biasanya dibuat kamar tidur utama untuk kepala keluarga dan istrinya ataupun anak-anak yang masih kecil. Kamar-kamar tidur ini disebut songi.

3. Bui' Boyang
Bagian paling dalam dari rumah adat mandar disebut dengan Bui' Boyang. Bagian ini ditempatkan Songi (kamar-kamar) yang diperuntukkan untuk orang tua seperti nenek dan kakek.

Selain itu juga diperuntukkan untuk anak-anak gadis. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan melindungi si anak gadis tersebut. Sesuai kodratnya anak gadis membutuhkan perlindungan yang lebih baik dan terjamin.

Itulah 3 petak utama dari struktur bangunan rumah boyang. Adapun bagian lain dari yang biasanya ditambahkan pada rumah Boyang yaitu petak Paceko dan Lego-lego.

Paceko adalah petak tambahan yang diletakkan di bagian paling belakang. Biasanya dibuat menyilang dari bangunan induk. Paceko ini diperuntukkan sebagai dapur dan tempat penyimpanan alat dan bahan makanan.

Sementara petak tambahan di bagian paling depan disebut Lego-lego. Difungsikan sebagai teras.

Makna dan Filosofi Rumah Adat Mandar
Rumah adat Mandar (Rumah Boyang) memiliki banyak filosofi dan nilai-nilai budaya. Mulai dari nilai moral dan etika, nilai sosial, nilai kebangsawanan, nilai agama hingga nilai-nilai estetika.

Nilai moral misalnya tercermin dari sekat Passollor yang menandakan setiap orang harus menjaga etika di dalam rumah tersebut. Nilai kebangsawanan tercermin dalam susunan Tumbaq Lajar antara Boyang Adaq dan Boyang Beasa. Nilai estetika yang tercermin dalam ornamen-ornamen penghias rumah.

Namun filosofi terpenting dari rumah adat Boyang tercermin dari struktur bangunan rumah itu sendiri. Gambaran tiga susun dan tiga petak menunjukkan makna pada filosofi orang Mandar yang berbunyi: da'dua tassisara, tallu tammallaesang (dua tak terpisahkan, tiga saling membutuhkan).

Makna dua yang tak terpisahkan adalah hukum dan demokrasi. Dan tiga saling membutuhkan adalah ekonomi, keadilan dan persatuan.

Filosofi ini membuktikan bahwa masyarakat suku Mandar sangat mengutamakan penegakan hukum dan demokrasi, serta menjunjung tinggi nilai keadilan dan persatuan dalam kehidupan masyarakat terutama di bidang ekonomi.



Sumber : detik.com

0 comments: