Mengenal Konsep Dō: Cara Hidup Masyarakat Jepang

Jumat, September 30, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Sumber: https://unsplash.com/photos/hZmieWs0wQA
Konsep Dō di Jepang
Dalam bahasa Jepang, kita dapat menemukan banyak kosa kata yang mengandung kanji (道). Kosa kata ini terdiri dari banyak macam seperti dōkyō (道教) yang berarti Taoisme, dōrou (道路) yang berarti jalan, dōraku (道楽) yang berarti hiburan, dan sebagainya. Namun, pada umumnya kanji dō digunakan untuk menggambarkan budaya kesenian tradisional Jepang baik dalam segi bela diri dan estetika. Selain itu, kata ini juga digunakan juga dalam ekspresi keagamaan, filosofi, doktrin agama, dan kosa kata dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini telah ada sejak lama dan sudah tertanam dalam pemikiran masyarakat Jepang dalam kesehariannya. Konsep ini banyak menggambarkan budaya-budaya Jepang dan memberikan pandangan yang mendalam tentang budaya tersebut.
Konsep dapat lebih jelas ditemukan di Dojo. Setelah berlatih, para murid akan duduk dalam posisi seiza dan mengatakan 道場訓 (Dojo Kun) atau aturan tentang Dojo. Dalam setiap Dojo Kun, terdapat kelimat-kalimat seperti 礼儀を重んずること (Reigi wo omonzuru koto) yang berarti menghormati orang lain dan 不撓不屈の精神を養うこと (Futo fukutsu no seishin wo yashinau koto) yang berarti tidak pernah menyerah.
Jalan setiap seniman bela diri dapat berbeda-beda tetapi semangat dan nilai kesopanan dari Dojo Kun menyatukan jalan-jalan tersebut. Tujuan akhir mereka mirip yaitu menjadi versi yang lebih baik daripada mereka dahulu dan sopan kepada semua orang terlepas dari keadaan, umur, pangkat, jenis kelamin, atau ras. Murid harus menghormati gurunya dan sebaliknya.
Sejarah Terbentuknya Dō
Asal usul konsep ini dapat ditemui dari dua ajaran yaitu Taoisme dan Buddhisme. Taoisme mempengaruhi budaya Jepang melalui pengaruh ajaran Buddhisme tentang Zen, meskipun ajaran Taoisme masuk ke Jepang mulai abad ke-6 bersama dengan ajaran lain dari Tiongkok. Diperkirakan ajaran Taoisme berasal dari ide Lao-tzu pada abad ke-5 SM. Taoisme mempengaruhi budaya Jepang sebagian besar sebagai akibat dari pengaruh formatifnya pada Buddhisme Zen.
Kata Tao dalam Taoisme di bahasa Jepang ditulis dengan dōkyō (道教). tersebut adalah inti dari pemikiran orang Tiongkok dan berarti jalan. Jalan itu harus diikuti dan menjadi aturan sikap dan doktrin seperti bushidō. Ajaran Taoisme berisi tentang hubungan manusia dengan alam dan teknik-teknik untuk menyatukan surga dan bumi melalui ritualnya. Sehingga energi kehidupan manusia dapat berjalan selaras dengan Tao atau roh universal. Pengajaran Taoisme itu juga yang memiliki pengaruh besar ke pengajaran Zen yang akhirnya menjadi salah satu faktor penting dalam berkembangnya Jepang.
Konsep dalam ajaran Buddhisme berasal dari adopsi pengajaran dari Tiongkok pada abad ke-6. Sedikit demi sedikit, Buddhisme meresapi seluruh kehidupan masyarakat Jepang mulai dari intelektual, artistik, bahkan kehidupan sosialnya hingga sekarang. Buddhisme juga yang mengubah Jepang dari masa primitive menjadi negara yang beradab.
Pengajaran Buddhisme yang paling kuat di Jepang adalah Buddhisme Zen. Pendeta penganut ajaran Zen tidak hanya berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga diplomasi dan kesenian. Seni tersebut mencangkup literatur, lukisan, arsitektur, kebun, teater seperti Noh, upacara minum teh, dan lain sebagainya. Dalam Zen, isi pengjarannya adalah untuk hidup dengan berani dan tidak ragu, seperti bushidō yang merupakan kombinasi dari ajaran Zen dan Konfusianisme.
Zen dalam versi aslinya adalah bentuk dari Buddhisme Chan, dipengaruhi banyak dari ajaran Taoisme. Dalam pengajaran Zen dan Taoisme, kebenaran adalah hal yang tidak dapat dikomunikasikan. Pencerahan dan keselamatan yang dicari berasal dari pengalaman dan kedamaian spiritual. Zen menekankan bahwa semua makhluk hidup pada awalnya memiliki natur Buddha dan hanya butuh pengalaman spiritual itu untuk mencapai pencerahan.
Nilai-Nilai dalam Konsep Dō
Pengaruh Zen dan Taoisme, yang akhirnya menghasilkan , dapat terlihat jelas di karakteristik gaya seni tradisional Jepang. karateristik ini paling sering dikaitkan dengan seni tradisional Jepang yang Bernama keishikika (formalisasi), kanzen shugi (keindahan keseluruhan yang sempurna), seishin shūyō (disiplin mental), dan tōitsu (integrasi dan hubungan yang ketat dengan keterampilan). Berikut adalah tahapannya:
  1. Pembentukan dan formalusasi pola atau bentuk (kata): seluruh tindakan menjadi hukum yang mengikat (keishikika)
  2. Pengulangan terus menerus pola atau bentuk (hampuku)
  3. Penguasaan pola atau bentuk, beserta klasifikasi kemampuan yang menghasilkan lisensi dan nilai (kyu dan dan)
  4. Penyempurnaan pola atau bentuk (kanzen shugi)
  5. Melampaui pola atau bentuk dan menjadi satu dengannya (toitsu)
Ungkapan umum dalam bahasa Jepang mencereminkan tahapan tersebut seperti berikut:
  1. Kata ni hairu (mengikuti bentuk)
  2. Kata ni jukutatsu (menyempurnakan bentuk)
  3. Kata kara nukeru (melampaui bentuk)
Latihan berlangsung dengan suasana ketenangan, ketaatan, dan rasa hormat yang menggambarkan kehormatan total dari hubungan guru-murid.
Kelebihan dan Kekurangan Konsep Dō
Pemikiran masih banyak terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Dengan budaya tradisional seperti upacara minum teh (chanoyu) yang juga disebut dengan sadō atau chadō (茶道). Dalam chadō, nilai yang dianut adalah kesederhanaan yang disebut dengan kudō (講道). Nilai tersebut juga berjalan beriringan denga nilai wabi. Ikebana atau kadō (華道) merupakan seni merangkai bunga Jepang. Seperti pengajaran nilai dalam Buddha, ikebana mengajarkan tentang keharmonisan manusia dan alam. Contoh yang ketiga adalah kyudō (弓道). Kyudō mirip dengan pemanahan dan seperti konsep lainnya olahraga ini tidak hanya berfokus pada target panah, tetapi juga keindahan dalam menahan posisi menarik panah. Selain contoh-contoh di atas masih banyak budaya tradisional Jepang yang mengandung konsep di dalamnya seperti kendō, judō, karatedō, dan lainnya.
Dengan konsep tetap dianut oleh masyarakat Jepang, terdapat juga kekurangan di dalamnya. Perubahan konsep juga telah terlihat, tetapi perubahan konsep ini tidak lagi berdasar pada nilai-nilai dasar awal konsep , tetapi ide bebas orang tersebut. Perubahan memang adalah salah satu dari konsep yang krusial, tetapi banyak orang hanya memahami secara umum dan tidak mendalam. Pemahaman yang tidak cukup ini dianggap merugikan bagi para pengusaha Jepang. Terlebih lagi, Jepang juga sedang dibanjiri dengan konsep kultur baru yang tidak hanya berasal dari negara luar, tetapi juga berasal dari orang-orang yang mengubah konsep dan pemikiran lama seperti ini. Ditakutkan nilai-nilai tradisional ini akan hilang dan terganti oleh konsep modern yang tidak mumpuni tersebut.

Sumber : kumparan.com

0 comments: