Mengenal Rebo Wekasan, Hari yang Kerap Dikaitkan dengan Marabahaya

Rabu, September 21, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Among-among Budaya Memaknai Bencana Melalui Perspektif Budaya: Pengetan Rebo Wekasan dari sisi tradisi, sejarah, dan upaya pengurangan risiko bencana di Balairung UGM, Selasa (20/9/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Rebo Wekasan disebut-sebut sebagai hari yang kerap dikaitkan dengan marabahaya atau bencana. Apakah Rebo Wekasan itu sebenarnya?
Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Muhammad Anggri Setiawan menjelaskan bahwa Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir di bulan Safar. Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Islam.
"Rebo Wekasan itu Rebo terakhir di bulan Safar. Tahun ini bulan Safar jatuh di tanggal 21 September besok," kata Anggri usai acara diskusi Among-among Budaya Memaknai Bencana Melalui Perspektif Budaya di Balairung UGM, Sleman, Selasa (20/9).
Among-among Budaya di UGM ini mengusung tema Pengetan Rebo Wekasan dari sisi tradisi, sejarah, dan upaya pengurangan risiko bencana.
Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Anggri Setiawan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Anggri menjelaskan bahwa sejak masa lampau, Rebo Wekasan ini kerap dikaitkan dengan turunnya marabahaya sehingga sudah sepatutnya sebagai manusia kita semua harus tetap mawas diri.
"Rebo Wekasan ini di mana di situ Gusti Pangeran (Allah SWT)... itu para ulama, para leluhur kita, mengingatkan bahwa di hari itu akan diturunkan marabahaya yang jumlahnya ratusan ribu," katanya.
"Kita sebagai manusia yang awam, ya, sudah sepatutnya kalau para ulama, para leluhur yang adiluhung, ya kita uri-uri [lestarikan] semuanya dengan bentuk taklim seperti ini, sedekah, kemudian doa bersama sebagai wujud rasa syukur kita masih diberikan keamanan sampai sekarang," katanya.

Semua Bulan Baik

Anggri meluruskan bahwa tidak tepat jika Rebo Wekasan diartikan secara sempit soal adanya marabahaya. Menurutnya, Rebo Wekasan merupakan pengingat bagi manusia untuk sadar akan adanya bencana dan musibah.
Among-among Budaya Memaknai Bencana Melalui Perspektif Budaya: Pengetan Rebo Wekasan dari sisi tradisi, sejarah, dan upaya pengurangan risiko bencana di Balairung UGM, Selasa (20/9/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Bukan satu bulan yang dianggap satu bulan kesialan, bukan ya, itu harus dihapus istilah bulan pembawa sial itu tidak ada, semua bulan itu baik.
-Dr Muhammad Anggri Setiawan
"Tetapi di momen seperti ini, kan, kita ada Hari Air Sedunia, Hari Lingkungan Sedunia. Ini memang (Rebo Wekasan) hari yang sudah ada tuntunannya kita sebagai ilmuan harus bisa lebih memperkaya di baliknya. (Hari) pengingat harus sadar setiap saat. Eling lan waspada," katanya.
Sementara soal amalan, Anggri mengatakan bahwa manusia harus lebih mengingat Sang Pencipta. Amalan bisa bermacam-macam seperti salat, puasa, maupun sedekah.
"(Rebo Wekasan) sudah ada sejak dari Kraton Kasultanan pun sudah ada. Sudah ada sejak zaman Wali Songo dulu juga sudah ada," ujarnya.

Bersyukur Akan Tambah Energi

Kepala Pusat Studi Budaya UGM Dr Sri Ratna Saktimulya menjelaskan bahwa Rebo Wekasan menjadi momen kepedulian pada lingkungan.
"(Dimaknai) dengan kepedulian lingkungan tentunya. Kalau sebetulnya Rebo Wekasan, kan, besok, kalau hitungan Jawa ini termasuk bagian awal-awal Rabu. Jadi bentuk kepedulian itulah dengan cara kalau kita peduli lingkungan, peduli pada diri dan sesama. Bahwa keselamatan untuk mempercantik bumi ciptaan Tuhan itu dilaksanakan dengan dilakukan oleh manusia," kata Sakti.
Sakti mengatakan bahwa rasa syukur ini harus senantiasa ditumbuhkan untuk menjadi kekuatan bagi manusia.
"Tanpa ada rasa syukur kita menjadi sangat lemah. Ketika kita bersyukur energi itu akan tumbuh," pungkasnya.

Sumber : kumparan.com

0 comments: