Mengenal Suku Mandar: Asal Usul, Budaya hingga Kehebatannya di Lautan

Jumat, September 02, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Laki-laki suku Mandar. (Foto: Abdy Febriady/detikSulsel)

Makassar - Suku Mandar adalah salah satu kelompok etnis terbesar yang menempati wilayah Sulawesi Barat. Suku ini dulunya tergabung dalam suku-suku utama di Sulawesi Selatan seperti Bugis, Makassar dan Toraja, hingga Sulawesi Barat berdiri sebagai provinsi pada tahun 2004.

Di daratan Pulau Sulawesi, suku Mandar merupakan etnis terbesar kedua setelah Bugis. Tidak hanya di Sulawesi Barat, suku Mandar juga terdapat di beberapa daerah lain termasuk Kalimantan.

Suku Mandar memiliki sejarah dan adat budaya yang menarik untuk diketahui. Berikut ulasan tentang suku Mandar seperti yang dihimpun oleh detikSulsel dari berbagai sumber:

Asal-Usul Suku Mandar
Melansir buku yang berjudul "Polewali Mandar, Alam. Budaya. Manusia" yang diterbitkan oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Polewali Mandar, disebutkan bahwa suku Mandar terbentuk sejak abad XVI. Pembentukan ini terjadi setelah adanya persekutuan antara 7 kerajaan di pesisir atau disebut pitu baqbana binanga dengan 7 kerajaan dari pegunungan atau pitu ulunna Salu.

Tujuh kerajaan pesisir meliputi kerajaan Balanipa, Sendana, Pamboang, Banggae, Tappalang, Mamuju, dan Binuang. Sementara kerajaan pegunungan meliputi kerajaan Rantebulahang, Aralle, Tabulahang, Mambi, Matangnga, Tabang, dan Bambang.

Keempat belas kerajaan tersebut kemudian sepakat untuk bersatu membentuk sebuah persekutuan suku bangsa yang saling menguatkan dan melengkapi satu sama lain. Dari situlah asal-usul terciptanya suku Mandar.

Nama 'Mandar' sendiri hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Para ilmuwan dan budayawan Sulawesi Barat belum memiliki kesepakatan akan asal usul kata 'Mandar' yang digunakan.

Sebagian menyebutkan bahwa nama 'Mandar' berasal dari kata 'Sipamandar' yang artinya saling melengkapi. Kata ini lahir dari persekutuan 14 kerajaan tersebut yang terjadi pada tahun 1580 silam.

Namun, sejumlah literatur menyebutkan bahwa kata 'Mandar' telah ada jauh sebelum persekutuan tersebut terjadi. Data ini terlihat dari peta-peta Eropa tahun 1534-1540 yang memuat kata 'Mandar' pada catatan pendaratan pertama pedagang Portugis di Pulau Sulawesi pada tahun 1530.

Pendapat lain menyebutkan kata Mandar berasal dari nama sebuah sungai di Balanipa, yaitu "Sungai Mandar" atau sungai Tinambung sekarang ini. Hal ini dilandaskan bahwa Kerajaan Balanipa adalah salah satu dari 14 kerajaan yang memiliki pengaruh politik yang cukup kuat waktu itu, sehingga nama persekutuan tersebut dikenal dengan "Mandar".

Bahasa Suku Mandar
Suku Mandar menggunakan bahasa Mandar. Penggunaan Bahasa Mandar memiliki sejumlah dialek yang berbeda.

Dialek ini dipengaruhi kawasan setempat. Adapun wilayah Sulawesi Barat yang menggunakan bahasa Mandar antara lain Majene, Polewali Mandar dan Mamuju.

Menurut pakar bahasa Mandar, Abdul Muthalib, ciri utama bahasa Mandar adalah bunyi ucapan pada huruf b, d, j, dan g. Bila huruf-huruf itu diapit dengan huruf vokal maka pelafalannya menjadi berubah.

Seperti pada kata 'pebamba' menjadi 'pevamba', kata 'dada' menjadi 'dazda'. Kemudian kata 'bija' menjadi 'bijya' dan "magara" menjadi "maghara".

Dialek bahasa Mandar yang paling banyak digunakan adalah dialek Balanipa, yaitu ujaran-ujaran, bahasa atau logat bahasa Mandar yang dipakai oleh rakyat di daerah Balanipa. Dialek Balanipa juga memiliki sejumlah varian seperti Lapeo, Pambusuang, Karama, Napo, Tandung dan Toda-todang.

Adat Budaya Suku Mandar
Suku Mandar dikenal sebagai salah satu suku yang menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya. Beberapa tradisi budaya tersebut dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari hingga sekarang.

Berikut beberapa tradisi yang masih dilestarikan oleh orang suku Mandar:

1. Sayyang Pattu'du'
Dikutip dari Jurnal Universitas Muhammadiyah Makassar yang berjudul "Nilai Sosial Tradisi Sayyang Pattu'du' dalam Masyarakat Mandar" disebutkan bahwa sayyang pattu'du' merupakan acara adat tradisional yang dilakukan untuk mensyukuri anak-anak yang khatam (tamat) Al-Quran.

Bagi suku Mandar, khatam Al-Quran adalah sesuatu yang sangat istimewa. Karena itu, bagi anak-anak yang berhasil mengkhatamkan AL-Quran akan diarak keliling kampung dengan kuda-kuda yang dihias sedemikian rupa.

Istilah Sayyang Pattu'du' sendiri diartikan sebagai kuda menari. Di mana para peserta akan duduk di atas kuda, sambil menjaga keseimbangan.

Kuda-kuda tersebut telah terlatih mengikuti irama musik rebana dan untaian pantun khas Mandar yang disebut Kalinda'da'.

Upacara adat ini biasanya diadakan sekali setahun, bertepatan dengan bulan Maulid Rabiul Awwal. Sayyang Pattu'du' ini memiliki makna edukasi motivasional bagi anak-anak agar segera mungkin mengkhatamkan Al-Quran.

2. Perahu Sandeq
Melansir dari laman resmi Pemprov Sulawesi Barat, disebutkan bahwa Perahu Sandeq adalah perahu bercadik warisan Austronesia yang kemudian berevolusi di Mandar dan kemudian disebut 'Sandeq' yang berarti tajam atau runcing. Sandeq disebut sebagai puncak kebudayaan Mandar dalam bidang kebaharian.

Perahu inilah yang digunakan masyarakat Mandar untuk berlayar hingga ke berbagai wilayah. Perahu ini memiliki kecepatan hingga 20 sampai 30 knot atau setara 50 km/jam, dan disebut sebagai salah satu perahu layar tercepat di dunia.

Sementara dalam Jurnal Universitas Muhammadiyah Makassar, yang berjudul "Kearifan Lokal Makna Simbolik Perahu Sandeq Pada Tradisi Masyarakat Mandar" dalam tradisi masyarakat Mandar, proses pembuatan perahu sandeq dilakukan dengan berbagai ritual-ritual. Terutama terkait pemilihan waktu yang tepat untuk menebang pohon yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan perahu Sandeq.

Salah satunya terkait waktu memotong pohon yang dilakukan pada hari ke-15 kalender Hijriah. Selain itu pemotongan kayu dilakukan ketika matahari menanjak naik dan ketika angin sedang berhembus.

3. Kalindaqdaq
Kalindaqdaq merupakan salah satu budaya sastra berupa puisi tradisional khas Mandar. Puisi ini biasanya dibacakan pada upacara-upacara adat dan keagamaan.

Kalindaqdaq biasa juga dibacakan pada upacara adat sayyang pattu'du', maulid nabi atau upacara perkawinan. Dalam buku "Polewali Mandar, Alam. Budaya. Manusia" disebutkan bahwa istilah kalindaqdaq konon berasal dari berbagai versi.

Salah satu versi menyebutkan kalindaqdaq berasal dari dua kata, yaitu kali yang berarti 'gali' dan daqdaq yang berarti 'dada'. Jadi kalindaqdaq artinya menggali isi dada/hati seseorang.

Beberapa kalindaqdaq yang cukup populer adalah sebagai berikut:

Usanga bittoeng raqdaq
Di pindoqna I Bolong
I kandiq pala
Mambure pecawanna

Artinya:

Ku sangka bintang yang jatuh
Di atas punggung (kuda) si hitam
Dinda kiranya
Yang menaburkan senyuman

Passambayang moqo daiq
Pallima wattu moqo
Iyamo tuqu
Pewongang di aheraq.

Artinya:

Bersembahyanglah engkau
Berlima waktu lah
Itulah dia
Bekal di akhirat.

Catatan Sejarah Orang Suku Mandar sebagai Pelaut Ulung
Suku Mandar dikenal sebagai pelaut ulung sejak zaman dahulu kala. Pengetahuan kemaritiman orang Mandar, seperti teknologi pembuatan perahu, pengetahuan kelautan dan pelayaran sudah tercatat dari sumber-sumber literatur kuno.

Jalur pelayaran orang Mandar terdahulu tertuang dalam tulisan L.J.J. Caron. Tulisan tersebut berbunyi sebagai berikut:

"De Mandarezen toch bevaren meest de route: Mandar-Singapore-Mandar-Borneo en Mandar-Singapore-Mandar-Molukken," demikian tulisan Caron dalam bahasa Belanda.

Artinya: Orang Mandar paling banyak mengarungi rute Mandar-Singapura-Mandar-Borneo dan Mandar-Singapura-Mandar-Maluku.

Sementara dalam Memorie Leijdst, Assistant Resident van Mandar (1937-1940) ditemukan catatan jalur-jalur pelayaran yang ditempuh oleh pelaut-pelaut Mandar sebelum penjajahan Belanda. Disebutkan bahwa jalur pelayaran orang Mandar tidak hanya sampai Maluku melainkan sampai ke Papua Nugini.

Sebaran Suku Mandar
Suku Mandar tidak hanya mendiami Provinsi Sulawesi Barat. Namun telah menyebar hingga ke berbagai penjuru daerah di Indonesia.

Berdasarkan jurnal berjudul "Nakodai Mara'dia Abanua Kaiyang Toilopi: Spirit Nilai Budaya Maritim dan Identitas Orang Mandar" penyebaran penduduk suku Mandar saat ini terdapat di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Populasi suku Mandar di Sulawesi Barat diperkirakan lebih dari 260.000 orang dan di Kalimantan Selatan 29.322 orang.


Sumber : kumparan.com

0 comments: