Mengenal Tingkeban, Tradisi Sunda untuk Ibu Hamil

Kamis, September 08, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Ilustrasi upacara tujuh bulanan (Foto: Instagram: @zaskia_gotix)

Bandung - Masyarakat Sunda memiliki beragam adat tradisi dilakukan untuk menyambut atau mensyukuri sesuatu. Biasanya hal tersebut dilakukan sebagai bentuk harapan agar diberikan keselamatan dan kesejahteraan lahir dan batin.

Salah satu adat tradisi yang ada di Sunda adalah upacara daur hidup. Upacara daur hidup ini berkaitan dengan tahapan kehidupan manusia, yaitu upacara masa kehamilan, masa kelahiran, masa anak-anak, masa perkawinan, dan kematian.


Dari masing-masing tahapan kehidupan masyarakat Sunda pun terdapat bermacam-macam upacara tradisi yang berbeda. Seperti halnya dalam masa kehamilan yang umumnya terdapat tiga upacara tradisi, yaitu Upacara Mengandung Empat Bulan, Upacara Mengandung Tujuh Bulan atau Tingkeban, dan Upacara Mengandung Sembilan Bulan.

Pada kesempatan kali ini, detikJabar akan membahas mengenai upacara tradisi mengandung tujuh bulan atau biasa disebut dengan Tingkeban. Tingkeban merupakan salah satu upacara tradisi masa kehamilan yang memiliki proses lebih panjang dibanding dua upacara lainnya.

Berikut adalah penjelasan singkat mengenai Upacara Tradisi Tingkeban berdasarkan buku "Analisis Konteks Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Berbasis Muatan Lokal di Jawa Barat" oleh Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud tahun 2016.

Upacara Tradisi Tingkeban

Tingkeban ini merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu hamil menginjak masa kehamilan tujuh bulan. Tingkeban merupakan upacara kedua yang bisa dilakukan seorang ibu hamil setelah sebelumnya melakukan Upacara Mengandung Empat Bulan dan dapat dilanjutkan dengan Upacara Mengandung Sembilan Bulan.

Tingkeban berasal dari kata Bahasa Sunda, yaitu tingkeb yang berarti tutup. Maksud dari kata Tingkeban adalah seorang ibu hamil yang mengandung selama tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalinan.

Dalam tradisi ini juga seorang ibu hamil dilarang untuk bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah cukup besar. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari risiko pada ibu hamil. Dengan kata lain, Tingkeban ini memiliki tujuan dan harapan agar ibu hamil dan bayi yang dikandungnya selamat.

Upacara ini biasanya dilakukan dengan cara pengajian yang membaca ayat suci Al-Qur'an, yaitu surat Yusuf, surat Lukman, dan juga surat Maryam. Kemudian terdapat juga upacara pemandian ibu hamil yang dilakukan oleh tujuh orang keluarga terdekat.

Upacara pemandian tersebut dipimpin oleh seorang paraji yang secara bergantian dengan menggunakan tujuh lembar kain batik yang juga dipakai bergantian setiap guyuran. Upacara ini juga menggunakan air kembang tujuh rupa.

Pada guyuran ketujuh, dimasukan belut yang mengenai perut ibu hamil. Hal tersebut bertujuan untuk agar bayi yang dilahirkan dapat berjalan dengan lancar atau licin seperti belut.

Kemudian bersamaan dengan jatuhnya belut, suami dari ibu hamil membelah kelapa gading yang sebelumnya sudah digambari tokoh wayang. Hal tersebut bertujuan agar orang tua beserta bayi yang dikandungnya dapat berbuat baik lahir dan batin. Sama seperti keadaan kelapa gading yang memiliki warna elok dan saat dibelah memiliki air yang manis dan bersih.

Setelah ibu hamil selesai dimandikan dan dirias, ibu hamil dibawa ke tempat selanjutnya untuk melaksanakan upacara rujak kanistren. Rujak kanistren merupakan rujak buah yang terdiri dari tujuh macam buah-buahan.

Ibu hamil menjual rujak kanistren tersebut kepada anak-anak dan para tamu yang menghadiri upacara Tingkeban. Para tamu tersebut dapat membeli rujak kanistren dengan menggunakan talawengkar atau genteng yang dibentuk bundar seperti koin.

Bersamaan dengan ibu hamil yang menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan upacara pemandian, seperti air sisa dalam jajambaran, bunga, dan belut. Peralatan tersebut harus dibuang di jalan simpang tiga atau simpang empat.

Setelah rujak kanistren habis terjual, maka upacara Tingkeban pun selesai.



Sumber : detik.com

0 comments: