Pakaian Impor Bekas Ilegal Masih Marak di RI, Begini Cerita Penjual hingga soal Keuntungannya

Rabu, September 21, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

https: img.okezone.com content 2022 09 19 455 2670473 pakaian-impor-bekas-ilegal-masih-marak-di-ri-begini-cerita-penjual-hingga-soal-keuntungannya-rYPnUPvwo2.JPGMarak pakaian bekas ilegal di Indonesia. (Foto: BBC

JAKARTA - Pakaian impor bekas ilegal yang masih marak masuk ke Indonesia terus menjadi perhatian pemerintah.

Dikutip dari BBC, Kementerian Perdagangan kini gencar menyita pakaian bekas impor bernilai miliaran rupiah.

Sayangnya, hal itu masih kalah cepat dengan peredaran produk ilegal itu di pasaran.

Bahkan, jual-beli pakaian bekas impor masih marak di sejumlah daerah di Indonesia, salah satunya di Kota Bandung.

Di mana pakaian itu ada di angunan lusuh serupa gudang dengan tulisan Pasar Cimol Gedebage yang tampak sesak.

Adapun pengunjung dan pembeli berjubel, berbagi ruang dengan deretan pakaian beragam merek, dan hanya menyisakan lorong sempit untuk berlalu-lalang.

Para pedagang penuh semangat menawarkan barangnya, berteriak saling bersahutan.

”Dipilih… dipilih… dipilih," teriak mereka.

Saat ini suasana di Pasar Cimol tampak ramai, setelah hampir dua tahun ke belakang sepi akibat pandemi Covid-19.

Sehingga roda ekonomi di kawasan perdagangan itu mulai berputar dan bisnis limbah pakaian pun kembali berdenyut.

Mayoritas baju dan celana yang digantung di sana bermerek luar negeri, terutama dari Asia.

“Dari China, Korea, Jepang. China, Korea, Jepang, itu saja,” ucap pedagang di sana dengan nama samaran Nia.

Dia mengatakan tren fesyen anak muda masa kini cenderung berkiblat ke gaya busana Korsel dan Jepang, apalagi ukuran baju asal Asia sesuai dengan postur kebanyakan orang Indonesia.

Kemudian untuk jenama non-Asia, seperti Levi’s, Zara, dan Guess, dicari oleh konsumen yang mengejar gengsi.

Walaupun, mencari jenama ternama di antara tumpukan atau deretan pakaian-pakaian bekas itu diibaratkan mencari harta karun yang mengandalkan keberuntungan.

Salah satu pembeli bernama Joni Setiawan mengaku jauh-jauh datang dari Jakarta untuk mencari celana jin branded di Pasar Cimol.

Dia menyebut itu sebagai harta karun lantaran merek-merek yang diburunya sulit ditemukan, seperti True Religion, jenama dari Amerika Serikat, dan Evisu dari Jepang.

Apalagi harga jin merek-merek itu dibanderol jutaan rupiah, tapi di Pasar Cimol, kurang dari Rp300 ribu saja.

“Levi’s harga aslinya bisa sampai satu jutaan ke atas, kalau di sini paling Rp100 ribuan sampai Rp150 ribuan, tapi kan bekas. Anak-anak muda yang tahu brand, pasti cari ke sini,” ungkapnya.

Pakaian bekas dengan pos tarif HS 6309 dilarang untuk diimpor, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 51/M-DAG/PER/7/2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas dan Permendag Nomor 18 Tahun 2021 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor.

Karena produk ini dikategorikan sebagai limbah mode dan dilarang untuk diimpor masuk karena terkait dengan aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan.

Namun meski aturan menyatakan ilegal, distribusi pakaian bekas impor tetap mengalir ke Pasar Cimol.

pedagang mengaku bisa kapan pun mendapatkan barang yang diinginkan.

“Kami hampir tiap hari buka bal-balan, mau booking juga ada setiap hari,” kata Nia.

Pedagang lain bernama Yeti menyebut biasa membeli beberapa bal pakaian bekas impor dua kali sepekan.

“Kalau laku, ya, kami beli lagi. Di gudang-gudang itu, standby terus barangnya. Bahkan sekarang semakin menjamur gudangnya,” ucapnya.

Dia mengungkapkan bisnis pakaian bekas impor menggiurkan sebab keuntungannya yang relatif besar. Berdasarkan pengalamannya selama lima tahun, Yati bisa balik modal hanya dengan menjual 20% dari sekitar dua ratus helai pakaian bekas impor yang dibelinya.

Dia pun merupakan spesialis menjual jaket, mengeluarkan modal sekitar Rp6 juta untuk membeli satu bal jaket bekas.

Dia bisa balik modal dengan menjual sebanyak 40 lembar jaket.

“Dalam satu bal jaket, isinya memang 10% sudah pasti bermerek. Ada yang baru, ada yang kondisi 80%. Rata-rata dalam satu bal itu, 20% terjual, sudah balik modal," tuturnya.

Dia menerangkan alasan pakaian dalam bekas pun laku dijual di Pasar Cimol, dan pedagang merogoh modal lebih besar untuk membelinya.

“Kenapa lebih mahal dari pakaian lain, karena dalam satu bal jumlahnya bisa ribuan pieces. Di dalamnya ada celana dalam pria dan wanita, bra, long torso, atau kemben. Harga jualnya bervariasi dari Rp5.000 sampai ratusan ribu per helai, tergantung kualitas dan merek,” bebernya.

Untuk bisnis ini juga menggiurkan bagi para importir. Jika importir membeli satu pack yang isinya kurang lebih 250 bal dengan harga Rp800 juta hingga Rp900 juta per pack, lalu dijual kepada pedagang sekitar Rp10 juta per bal, keuntungannya bisa miliaran.

“Jadi kenapa mereka berani [melanggar aturan], karena memang menggiurkan bisnisnya,” ungkapnya.

Yeti juga menyebutkan pakaian bekas itu dikirim dari arah perbatasan Singapura dan Malaysia dengan kapal tongkang melalui Batam dan Kalimantan.

“Sekarang lebih canggih lagi. Istilahnya kucing-kucingan, di mana pelabuhan yang sepi di situlah mereka masuk. Jadi posnya tidak hanya satu,” katanya.

Dia meneceritakan jika barang akan dikirim langsung ke Pasar Cimol, tapi seiring dengan banyaknya kasus impor pakaian bekas yang diungkap, diketahui bongkar muat juga dilakukan di luar wilayah Gedebage.

“Kami pedagang tinggal membeli di tempat,” lanjutnya.

Kemudian, Nia ikut menceritakan kalau dia membayar Rp14 juta untuk satu bal pakaian bekas impor, yang di dalamnya ada sekitar 350 lembar baju perempuan.

Dia mengatakan dapat menjual pakaian yang kualitasnya masih bagus seharga Rp250.000, sedang kualitas rendah dan menengah dijual antara Rp15.000 hingga Rp150.000.

Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono pun buka suara soal pakaian impor ilegal ini.

Dia membenarkan bahwa impor pakaian bekas ilegal semakin marak dan sulit diberantas.

“Masih diminati oleh masyarakat karena harga yang murah,” katanya.

Dia tidak menyebut barang bermerek sebagai daya tarik, tapi kenyataan di lapangan mengukuhkan anggapan itu. Seperti yang diakui oleh Rukiahati Ginting, mantan pedagang Pasar Cimol.

Lalu, dia memaparkan pakaian bekas yang berasal dari sejumlah negara dikumpulkan dan dikirim dari negara tetangga Indonesia.

“Walaupun kami lihat [barangnya] berasal dari negara lain, tapi masuknya dari negara tetangga terdekat. Masuk dari pintu-pintu pelabuhan-pelabuhan tikus dari negara tetangga kita,” terangnya.

Untuk pelabuhan-pelabuhan tikus tersebut berada di berbagai wilayah, antara lain Sumatra, Tembilahan, Riau, dan beredar sampai ke Pulau Jawa melalui jalur darat.

Jika dilihat dari ata Badan Pusat Statistik (BPS), volume dan nilai impor pakaian bekas ke Indonesia relatif meningkat setiap tahunnya dan memuncak pada 2019. Di tahun tersebut, impor pakaian bekas mencapai volume 392 ton dengan nilai USD6,08 juta.

Pada 2021, BPS mencatat impor pakaian bekas Indonesia hanya delapan ton dengan nilai USD44 ribu dengan pos tarif HS 6309 (worn clothing and other worn articles/pakaian bekas dan produk bekas lainnya).

Menurut situs Trade Map, seperti dilaporkan oleh Kompas, data ekspor baju bekas yang dicatat negara eksportir menunjukkan, sepanjang 2021, ada 27.420 ton baju bekas yang diimpor Indonesia dengan nilai total USD31,95 juta.

Perbedaan angka ini menimbulkan kecurigaan banyaknya pakaian bekas yang masuk Indonesia melalui jalur ilegal.

Very meyakini penyelundupan pakaian bekas ini disinyalir melibatkan sindikat yang terorganisir.

“Karena ditangkap di daerah ini, muncul di daerah lain lagi. Saya tidak mengatakan sindikat besar, tapi terorganisir,” ucapnya.

Dia menambahkan bahwa sumber daya Kemendag terbatas untuk mengawasi banyaknya pelabuhan tikus di Indonesia.

Karena itu, Veri berharap ada keterlibatan lembaga serta masyarakat dalam melakukan pengawasan proses importasi pakaian bekas ini.

“Di Undang-Undang Perlindungan Konsumen ada tiga komponen yang diberikan kewenangan pengawasan, yaitu pemerintah, masyarakat, maupun LPKSM [Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat]. Ini harusnya bersama-sama, terutama masyarakat dalam memberikan informasi,” terangnya.

Sebagai informasi, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan melakukan pemusnahan ratusan bal pakaian bekas impor hasil sitaan.

Wakil Ketua DPR Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan, Rachmat Gobel juga ikut menyoroti.

“Walaupun saya sangat mengapresiasi upaya menteri perdagangan yang ingin menunjukkan kepada publik bahwa beliau tak setuju impor pakaian bekas. Karena itu secara demonstratif ia membakar pakaian bekas. Namun saya belum mendengar pelakunya ditangkap atau pelakunya berkewajiban untuk mengembalikannya,” ungkapnya.

Dia tak menapik kalau impor pakaian bekas sudah menjadi perhatian Rachmat sejak menjabat sebagai menteri perdagangan, bahkan ketika aktif sebagai pengurus Kamar Dagang Indonesia (Kadin) pada 2021.

Saat menjabat menteri perdagangan, Rachmat menerbitkan Permendag No. 51/M-DAG/PER/7/2015 Tahun 2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas.

Dalam peraturan itu disebutkan pakaian bekas impor yang masuk ke wilayah Indonesia wajib dimusnahkan dan importir dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan.

Dengan masuknya pakaian bekas yang di negara asalnya dianggap limbah, menurut Rachmat, menjadikan Indonesia sebagai negara penampung sampah.

“Jadi kita ketiban ketambahan sampah. Dan sampah tekstil itu tak mudah dimusnahkan. Karena ini sintetis dan mengandung bahan kimia,” jelasnya.

Apalagi kain butuh waktu lama untuk terurai.

Di mana itu tergantung dari bahannya, proses dekomposisi kain bisa membutuhkan bertahun-tahun - bahan sintetis seperti polyester atau lycra bahkan membutuhkan 20-200 tahun untuk terurai.

Serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung mencatat timbulan sampah pakaian bekas atau kain mencapai lebih kurang 14,46% dari total sampah 1.500 ton per hari pada 2021

Untuk sampah pakaian bekas atau kain diperkirakan berasal dari pusat perdagangan pakaian atau kain bekas, seperti Pasar Cimol Gedebage, Sentra Rajut Binong Jati, dan pusat penjualan kain di Cigondewah, Kota Bandung.

Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2021, prosentase sampah kain mencapai 2.633 ton atau 2,6% dari 29 juta ton sampah.

bekas juga melukai martabat Indonesia.

“Ya, ini soal dignity. Pertama, impor pakaian bekas itu di antaranya adalah pakaian dalam wanita. Saat saya masih menjadi menteri perdagangan, ada seorang ibu yang bercerita bahwa dirinya bangga bisa mengenakan pakaian dalam bermerek yang ia beli dari hasil impor pakaian bekas. Ini, kan, memprihatinkan," lanjutnya.

“Kedua, ini yang terpenting, bangsa kita bisa menjadi bangsa yang tidak memiliki dignity, martabat. Ini soal harkat dan martabat kita sebagai bangsa. Ini juga berarti kita menjadi bangsa yang merendahkan kreativitas sumber daya manusia,” tambahnya.

Kemudian, Koordinator Hubungan Industri Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Andrew menegaskan bahwa impor pakaian bekas menimbulkan efek berganda pada industri tekstil.

“Apabila industri hilirnya merugi, otomatis industri hulunya akan kehilangan daya beli,” ungkapnya.

Menurut Andrew, ada sekitar 2.900 industri garmen, 500.000 industri kecil menengah, 1.500 industri tekstil, 43 industri fiber, dan 254 pemintalan benang secara nasional.

“Ini akan merugi semua,” tegasnya,

Itu karena dia dengan modal Rp15.000-Rp20.000, penjual pakaian bekas impor masih dapat untung besar meski dijual dengan harga Rp35.000.

Sementara pakaian sejenis produksi IKM minimal harus dijual dengan harga Rp75- Rp100 ribu.

Pengusaha garmen dan tekstil lokal juga diwajibkan membayar PPN sebesar 11% yang tentunya akan mempengaruhi harga.

“Ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan untuk IKM dan industri dalam negeri,” bebernya.

Dia pun miris melihat pakaian bekas impor juga bebas dijual di berbagai aplikasi belanja online dengan harga terjangkau.

“Kami berharap setiap kebijakan pemerintah dapat mendorong semangat industri lokal dan IKM untuk lebih baik lagi dan mampu bersaing di pasar lokal maupun internasional,” harapnya.

Menurutnya, risiko terbesar adalah potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruh tekstil dan garmen lokal. Ini merupakan efek domino yang bisa menyebabkan industri konveksi rumahan dan UMKM gulung tikar, sebut dia.

“Impor pakaian bekas pada akhirnya membuat industri tekstil berkurang permintaan. Ini bisa mengganggu investasi dalam industri tekstil,” imbuhnya.

Pakaian impor juga bahaya kesehatan juga mengintai dari pakaian bekas impor, terutama bila langsung dipakai.

Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan Kemendag di Balai Pengujian Mutu Barang, sampel pakaian bekas impor yang telah disita terbukti mengandung jamur kapang.

Menurut Pakar Kesehatan Masyarakat, Ardini Raksanagara, jamur muncul akibat kondisi pakaian yang lembap.

Sebelum diimpor, pakaian bekas biasanya dikumpulkan dalam karung dengan jangka waktu tertentu di gudang yang memicu kelembapan dan menumbuhkan jamur.

Dala kasus ini yang paling berbahaya, kata Ardini, bila spora jamur terhirup hingga masuk ke dalam paru-paru.

“Spora jamur bisa menimbulkan pneumokoniosis [kelainan akibat penumpukan debu dalam paru yang menyebabkan reaksi jaringan terhadap debu] atau menimbulkan rasa sesak,” bebernya.

Selain jamur dan bakteri, penyakit juga bisa disebabkan oleh zat kimia atau debu, lanjut Ardini, yang menjabat Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Universitas Padjadjaran.

“Debu itu akan mempengaruhi paru-paru, terutama kalau bahan-bahannya katun. Jadi ada yang namanya bisinosis yaitu penyakit paru-paru yang disebabkan oleh debu-debu bahan katun (penyakit akibat menghirup partikel rami dan debu kapas), bisa memicu alergi,” pungkasnya.

Sejauh ini, kebijakan yang ada membatasi kewenangan pemerintah daerah untuk memberantas penyelundupan juga peredaran pakaian bekas impor di wilayahnya.

“Kewenangannya mutlak ada di Kementerian Perdagangan. Jadi kami tidak terlalu banyak terlibat,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Iendra Sofyan.

Tapi dia menyebut kalau pihaknya hanya sebatas membantu mengawasi dan melaporkan temuan.

Sumber : okezone

0 comments: