Tradisi Sunatan Karia'a Lambe di Wakatobi, Mengarak Perempuan dengan Tandu

Senin, September 05, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Tradisi Karia'a Lambe di Wakatobi (Foto: dok. Istimewa)

Wakatobi - Masyarakat di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) mempunyai satu tradisi unik bernama Karia'a Lambe. Tradisi ini merupakan upacara adat khusus bagi anak remaja yang mulai beranjak dewasa.

Tradisi Kari'a dilakukan dengan mengarak anak perempuan menggunakan tandu mengelilingi desa, sementara anak laki-laki berada di bagian depan dan berjalan kaki. Masyarakat setempat menggelar tradisi ini sebagai upacara sunatan khusus bagi anak laki-laki dan perempuan di Wakatobi.


"Yang dikhususkan untuk ditandu itu hanya anak perempuan saja. Yang laki-laki jalan kaki. Tapi laki-laki kan mereka jalan. Yang ditandu kan perempuan. Laki-lakinya itu mengikut pemangku adat mereka yang di depan itu," kata Mursalim, salah seorang warga yang mengikuti upacara tersebut kepada detikcom, Sabtu (3/9/2022).

Umumnya, tradisi Karia'a digelar setahun sekali oleh masyarakat Wakatobi dan dilakukan di waktu-waktu khusus. Namun tradisi ini sempat tidak terlaksana dalam beberapa tahun terakhir semenjak COVID-19.

Setelah larangan tersebut sudah dicabut, barulah pada tahun ini masyarakat Wakatobi bisa kembali menggelar tradisi Karia'a. Salah satu desa di Wakatobi yang masih melestarikan tradisi tersebut adalah masyarakat di Desa Mandati.

Dalam pelaksanaannya, upacara tersebut dipimpin oleh tokoh adat yang dituakan di desa tempat digelarnya upacara Karia'a Lambe.

"(Dipimpin) pemangku adat yang ada disini. Maksudnya tokoh adat yang ada di desa itu, yang dituakan di sini," kata Mursalim.

Mursalim menyebut, dalam tradisi Karia'a Lambe, perempuan di atas tandu akan menggunakan pakaian adat Wakatobi lalu diarak dari desa ke kota. Sementara anak laki-laki yang berjalan kaki, serta tokoh adat juga menggunakan pakaian adat.

Para anak perempuan akan dikumpulkan terlebih dahulu dalam suatu tempat, kemudian dipandu oleh orang tua masing-masing sebelum diarak keliling desa.

"Yang pertama itu dikumpul dulu sama orang tua. Kalau misalnya satu tempat toh. Istilahnya rumah yang dipercayakan untuk turun sama-sama. Habis dipandu sama orang tua. Istilahnya sara ini turun duluan. Setelah turun dia menuju ke tempat duduk masing-masing. Sara itu yang ditandu," jelas Mursalim.



Sumber : detik.com

0 comments: