Tradisi Unik Warga Indramayu, Suka Ambil Kulit Pohon Asem

Senin, September 12, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Tradisi unik warga Indramayu yang suka mengambil kulit pohon asem. (Foto: Sudedi Rasmadi/detikJabar)

Hampir semua pohon asem di Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, pasti terdapat lubang bekas congkelan. Bentuk persegi bekas congkelan itu hampir memenuhi bagian bawah setiap pohon asem.

Kunci Buyut Sumur, Diah (54) menceritakan kebiasaan ini. Menurutnya, tradisi mengambil kulit pohon asem itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Bahkan, hampir semua warga di Desa Sambimaya ini, menggunakan kulit pohon asem setelah melahirkan bayi.


"Sudah tradisi, congkelan itu ada yang sudah lama ada juga yang masih baru. Digunakan untuk tutup kendi yang isinya plasenta atau ari-ari. Saya juga konon kata orang tua, tutup ari-arinya pakai kulit asem itu," kata Diah, Minggu (11/9/2022).

Umumnya, warga mengambil kulit pohon asem secukupnya, atau seukuran tutup kendi. Ukurannya sekitar 20 sentimeter persegi, setebal 4 sentimeter.

Kebiasaan ini tidak terlepas dari manfaat kulit asem tersebut. Warga menganggap kulit ini mampu mencegah aroma bau busuk dari plasenta atau ari-ari saat digantungkan di dalam kendi tersebut.

"Tidak ada prosesi khusus, tapi sebagian warga ada yang sengaja menaroh uang recehan sebagai mas kawin sebelum mencongkel kulit asem tersebut," lanjutnya.

"Ada juga yang pakai kulit pohon randu, tapi tidak bertahan lama. Jadi warga lebih memilih gunakan kulit pohon asem yang bisa bertahan hingga dua bulan lebih," kata Kunci Buyut Sumur Desa Sambimaya.

Seiring waktu, banyak juga warga yang tidak lagi menggunakan kulit asem untuk tutup kendi, karena pohonnya sudah hampir punah.

"Kesepakatan warga, tidak menebang pohon asem di sekitar makam buyut sumur, buyut kobong maupun buyut candi, untuk cadangan. Congkelan ini tidak membuat pohon mati, melainkan kulit pohon akan kembali tumbuh," katanya.


Sumber : detik.com

0 comments: