Tradisi Upacara Minum Teh di Jepang dan Indonesia

Selasa, September 27, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Upacara minum teh di Jepang biasa disebut dengan Sadou. Sadou diperkenalkan dari Cina pada abad ke-9, upacara minum teh mulai dipraktikkan di biara-biara Zen dan secara bertahap menjadi bentuk seni yang dikenal sebagai “upacara minum teh”. Di Jepang, kata "dou" digunakan untuk budaya yang telah dipelajari dalam jangka waktu yang lama, seperti kadou (rangkaian bunga), sodou (kaligrafi), dan aikidou (seni bela diri). Kata "dou" tidak hanya berarti penguasaan suatu teknik, tetapi juga perilaku yang terasah dari mereka yang telah menguasainya. Dari tindakan mengambil air dari mata air taman kecil hingga menyiapkan dan menyajikan teh dengan cermat di ruangan kecil, akrab, dan elegan dapat ditemukan esensi estetika kesempurnaan dan disiplin yang mendasari semua gerakan dalam upacara tersebut.
Sen no Rikyu mengubah upacara minum teh di abad ke-16 dengan prinsip estetika yang dikenal sebagai wabi. Wabi yaitu kontras antara kelezatan, kesederhanaan, dan kekokohan. Upacara minum teh menganjurkan penggunaan barang sehari-hari Jepang yang sederhana daripada yang diimpor dari Cina. Proporsi dan ukuran dipilih dengan cermat agar pas dengan ruangan teh yang berukuran kecil. Tidak hanya dekorasi, tetapi juga gaya bangunan, jenis minuman tehnya, ritual dan adat upacara yang selaras dengan suasana, yang tujuannya adalah untuk melengkapi keberadaan seseorang tanpa memanjakan diri sendiri. Upacara minum teh adalah inti dari cara hidup Zen, mencerminkan ide-ide kesederhanaan, kesempurnaan, disiplin dan harmoni dengan alam.

Tradisi upacara minum teh atau Sadou ini tidak sembarangan. Dalam Sadou, ada aturan dan tata cara yang harus dipatuhi dan perlu diperhatikan. Langkah-langkah Sadou adalah sebagai berikut:

1. Mengucapkan kata “Osaki Ni”

Ucapkan "Osaki ni" kepada orang yang ada di sebelah Anda dan nikmati tehnya. Sebelum itu Anda harus memastikan tehnya sudah ada di depan Anda. "Osaki ni" berarti "saya akan memilikinya terlebih dahulu" atau "saya akan menikmatinya terlebih dahulu", dan itu adalah kata yang menunjukkan rasa hormat kepada mereka yang duduk bersama Anda. "Osakini" adalah kata penting dalam upacara minum teh.

2. Minum dengan tidak menghadapkan sisi depan chawan ke arah diri sendiri

Teh disajikan dan akan disuguhkan dengan bagian depan chawan menghadap ke arah Anda. Dengan cara ini, para tamu dapat menikmati indahnya motif chawan teh sambil menunggu teh disajikan di hadapan mereka. Dalam tata krama upacara minum teh, saat minum teh, jangan minum dari bagian depan chawan agar tidak menodai pola indah pada chawan. Alih-alih meminumnya sekaligus, bagilah menjadi 3 porsi dan minum perlahan, lalu taruh kembali chawannya.
Hal ini mungkin terlihat sederhana, tetapi tradisi upacara Sadou ini membawa banyak makna hidup. Misalnya, saling menghormati dan menghargai antara tamu dan tuan rumah.
Indonesia memiliki tradisi yang hampir sama dengan upacara minum teh Sadou di Jepang. Tepatnya ada di masyarakat Sunda. Di sana, minum teh sudah menjadi identitas tersendiri dalam kehidupan sehari-hari. Urang Sunda (kata Sunda untuk orang) lebih melakukan tradisi minum teh ini pada waktu-waktu tertentu dalam setahun dalam bentuk teh panas yang baru diseduh. Teh adalah bentuk keramahan yang lebih dihargai daripada air tawar atau murni. Cara ini sudah menjadi bagian dari budaya Sunda. Kebudayaan Sunda pada umumnya adalah kebudayaan yang hidup, tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Sunda yang tinggal di Sunda (Ekadjati, 2009). Tradisi minum teh bersama pada malam hari disebut dengan tradisi Nyaneut. Nyaneut sendiri merupakan singkatan dari nyai haneut atau cai haneut yang artinya air hangat.
Dalam bahasa Sunda, nyaneut mengacu pada kegiatan bercakap-cakap dan mempererat tali silaturrahmi saat minuman dan makanan hangat dihidangkan bersama pada malam hari. Dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, orang Sunda menjunjung tinggi sistem nilai etika, tata krama dan tata cara untuk mengimbangi kesopanan antar manusia. Hal ini membuat orang Sunda terkenal dengan keramahan dan kepribadiannya. Dalam budaya melayani tamu dalam tradisi Nyaneut, orang Sunda memiliki peribahasa “someah hade ka semah” yang artinya menghormati tamu, memberikan pelayanan yang terbaik, mendidik, menjaga dan menyenangkan tamu. Prinsip ini merupakan upaya orang Sunda untuk menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan tamu.
Tradisi nyaneut bukan hanya sekedar kebiasaan minum teh dengan jajanan tradisional sunda, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan silaturahmi di antara sesama warga dan keluarga agar berjalan dengan baik dan erat. Teh, singkong dan gula menjadi simbol persatuan dalam nilai-nilai persahabatan. Keistimewaan Nyaneut, khususnya untuk orang Cigedug, terletak pada ragam teh yang ditawarkan. Teh yang disajikan adalah teh asli yang diolah masyarakat di sana sebagai teh kejek. Proses pembuatan teh kejek sangat tradisional sehingga menghasilkan cita rasa teh yang berkualitas tinggi. Pengolahan teh kejek sudah berlangsung sejak perkebunan teh pertama kali didirikan di sana.
Khusus bagi mereka yang tinggal di daerah Sunda, masyarakat Cigedug Garut menghadirkan budaya minum teh yang biasa disebut Nyaneut. Di sana, semua lapisan masyarakat berkumpul dan bersatu pada tempatnya. Tradisi nyaneut mewakili nilai-nilai kearifan lokal. Karena berjalannya waktu dan berbagai faktor, tradisi Nyaneut mulai ditinggalkan oleh masyarakat, terutama oleh generasi muda.
Berikut adalah langkah-langkah untuk melaksanakan tradisi Nyaneut:

1. Memutar gelas atau cangkir

Dalam tradisi Nyaneut, gelas atau cangkir teh harus diputar terlebih dahulu di telapak tangan. Hal ini harus dilakukan sebanyak dua kali putaran.

2. Menghirup aroma teh

Setelah memutar cangkir atau gelas teh, hirup aroma teh sebanyak tiga kali. Setelah menghirup dan menikmati aroma teh tersebut baru Anda bisa mulai meminumnya.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya tradisi Nyaneut dilestarikan sebagai bentuk budaya yang kaya akan nilai kearifan lokal. Salah satu upayanya melestarikan tradisi Nyaneut yaitu dengan diadakannya kegiatan berupa festival tahunan yang disebut Festival Nyaneut Garut.
Dari uraian Sadou dan Nyaneut di atas, jelas terlihat bahwa tradisi minum teh ini memiliki banyak kesamaan. Keduanya menunjukkan rasa hormat dan sikap saling menghargai terhadap tradisi dan tamu. Upacara minum teh untuk Sadou dan Nyaneut tidak hanya dilakukan secara asal-asalan untuk minum teh secara bersama-sama, tetapi juga memiliki banyak nilai luhur yang bisa diambil dan dipelajari. Baik Sadou maupun Nyaneut menggunakan teh khusus yang biasa digunakan. Keduanya memiliki langkah implementasi atau tata cara pelaksanaan yang perlu diperhatikan secara matang.
Cara pelaksanaan Sadou dan Nyaneut memiliki sedikit perbedaan. Pada upacara Sadou tersebut, sebelum menikmati teh harus mengucapkan "Osaki ni" dalam upacara minum teh Jepang. Tradisi nyaneut, di sisi lain, tidak memiliki slogan atau idiom tertentu. Dalam upacara minum teh Sadou, teh diminum perlahan-lahan dalam tiga kali tegukan, sedangkan di tradisi Nyaneut, aroma teh dihirup tiga kali sebelum dicicipi atau mulai dinikmati. Terlepas dari persamaan dan perbedaan antara keduanya, tradisi ini merupakan kegiatan yang sangat positif dan patut untuk dijaga serta dilestarikan dengan baik. Keduanya memiliki ciri, keunikan dan keunggulan masing-masing.


Sumber : kumparan.com

0 comments: