10 Nama Rumah Adat Bali, Keunikan, dan Ciri Khasnya

Senin, Oktober 31, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Saat pergi liburan ke Bali, detikers akan disuguhkan oleh pemandangan alam yang indah serta beragam kuliner yang lezat. Namun tak hanya itu saja, Bali juga dikenal memiliki rumah adat yang unik.

Bagi kamu yang pernah berkunjung ke Bali, pasti pernah melihat rumah adat setempat dengan sesajen di sekitarnya. Nah, selain jadi ciri khas budaya Bali, terdapat juga sejumlah filosofi di dalamnya.

Menurut Prof Dr Ir Putu Rumawan Salain selaku Dosen di Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana, rumah adat Bali memiliki filosofi yang bernama Tri Hita Karana. Filosofi ini diterapkan agar sebuah bangunan rumah memiliki fungsi yang bermanfaat namun tetap mengandung nilai budaya.

"Filosofi rumah adat Bali disebut Tri Hita Karana, adalah harmoni antara manusia dengan manusia, harmoni dengan alam, harmoni dengan yang diyakininya atau Tuhannya. Ketiganya itu tercermin dalam pengolahan bahan, tercermin dalam penataan massa bangunan, serta tercermin dalam wujud tampak bangunan jadi sangat beretika kita di situ, dan itu semua diatur di dalam buku Quote of Balinese Architecture yang disebut dengan Asta Kosala Kosali," kata Putu saat dihubungi oleh detikcom, Senin (31/10/2022).


Sebagai informasi, Asta Kosala Kosali adalah aturan membangun rumah dalam masyarakat Bali. Dalam aturan tersebut dijelaskan bagaimana membangun rumah dengan menentukan luas dan tata letak di dalam ruangan.

Daftar Nama Rumah Adat Bali
Setelah mengetahui aspek-aspek dan filosofi dalam membangun rumah adat Bali, mari kita simak 10 rumah adat Bali beserta keunikan dan ciri khasnya dikutip dari detikTravel.

1. Aling-Aling
Aling-aling adalah bagian rumah adat Bali yang terletak di Pulau Seribu Pura. Bangunan rumah Aling-aling berfungsi sebagai pembatas antara bagian luar dan angkul-angkul.

Aling-aling memiliki makna yaitu energi positif dan baik untuk keharmonisan rumah. Ciri khas dari rumah adat ini adalah terdapat dinding pembatas berupa batur dengan tinggi sekitar 150 cm yang sering disebut penyeker.

Selain dijadikan pembatas antara bagian luar, rumah adat Aling-aling biasanya juga dijadikan pembatas antara angkul-angkul dengan tempat ibadah. Aling-aling identik sebagai privasi pemilik rumah, sebab tamu yang datang harus masuk lewat samping kiri lalu jika keluar rumah melalui samping kanan.

2. Angkul-Angkul
Daftar rumah adat Bali berikutnya adalah Angkul-angkul. Jika detikers tengah berkunjung ke pulau Dewata, kamu bisa menemukan rumah masyarakat yang bentuknya seperti Candi Bentar dan letaknya ada di depan bangunan rumah yang berfungsi sebagai pintu masuk.

Ciri khas dari rumah adat Angkul-angkul adalah memiliki atap penghubung yang terbuat dari rumput kering. Namun seiring perkembangan zaman, kini sudah banyak masyarakat yang menggantinya dengan genteng serta terdapat ukiran pada dindingnya.

3. Bale Manten
Bale Manten merupakan salah satu rumah adat Bali yang biasanya diperuntukkan untuk kepala keluarga atau anak perempuan yang belum menikah. Tujuan rumah adat ini dibangun sebagai bentuk perhatian keluarga kepada anak gadis agar kesuciannya tetap terjaga.

Ciri khas dari rumah adat Bale Manten adalah memiliki bentuk bangunan persegi panjang yang terletak di sebelah utara bangunan utama. Selain itu, rumah adat ini memiliki dua ruangan yakni bale kanan dan bale kiri.

4. Bale Dauh
Bale Dauh adalah rumah adat Bali yang digunakan untuk menerima tamu dan juga sebagai tempat tidur untuk anak remaja laki-laki. Bale Dauh terletak di bagian barat rumah utama dengan ketinggian lantai yang lebih rendah dari Bale Manten.

Keunikan dari Bale Dauh adalah jumlah tiang yang berbeda antara satu rumah dengan rumah lainnya. Selain itu, ada sebutan khusus untuk jumlah tiang tersebut.

Bila suatu rumah memiliki tiang berjumlah enam disebut sakenem, lalu kalau tiangnya ada delapan disebut sakutus atau antasari. Sementara bila tiang rumahnya ada sembilan disebut sangasari.

5. Bale Sekapat
Bale Sekapat adalah bagian dalam rumah adat Bali yang berfungsi sebagai tempat santai keluarga. Keunikan dari rumah adat Bali ini yakni terdapat empat tiang yang berfungsi sebagai penyangga, lalu bagian atapnya berbentuk pelana.

Bale Sekapat memiliki filosofi tersendiri, dengan adanya bangunan ini diharapkan sebuah keluarga memiliki hubungan yang harmonis serta lebih akrab antara satu sama lain.

6. Klumpu Jineng
Klumpu Jineng merupakan rumah adat Bali yang berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus terdapat tempat penyimpanan atau lumbung padi. Ciri khas dari Klumpu Jineng yakni memiliki struktur bangunan panggung dengan atap dan dinding di bagian luarnya tertutup jerami kering. Biasanya digunakan sebagai lumbung gabah setelah dijemur.

7. Pura Keluarga
Pura Keluarga adalah rumah adat Bali yang sering digunakan oleh pemiliknya sebagai tempat beribadah. Keberadaan bangunan ini wajib dimiliki oleh seluruh masyarakat Bali, baik itu dalam ukuran kecil maupun besar.

Letak Pura Keluarga berada di area timur laut rumah. Selain dijadikan sebagai tempat beribadah, Pura Keluarga juga disebut sebagai pamerajan atau sanggah.

8. Bale Gede
Bale Gede adalah rumah adat Bali yang memiliki ruangan berkuran paling besar di antara rumah adat Bali lainnya. Rumah adat ini berfungsi sebagai tempat perayaan upacara adat, baik untuk bersama keluarga maupun masyarakat sekitar.

9. Pawarengan
Pawarengan merupakan rumah adat Bali yang berfungsi untuk menyimpan dan mengolah makanan, atau bisa disebut sebagai dapur. Rumah adat ini terletak di sebelah selatan atau barat laut rumah.

Ciri khas dari Pawarengan adalah rumahnya dibagi menjadi dua, rumah yang pertama berfungsi untuk memasak sementara rumah yang kedua digunakan untuk menyimpan makanan, alat dapur, dan lain sebagainya.

10. Lumbung
Yang terakhir adalah Lumbung, rumah adat Bali ini digunakan untuk menyimpan bahan makanan pokok seperti beras, jagung, sayur-sayuran, dan lain sebagainya. Karena hanya digunakan sebagai tempat menyimpan makanan pokok, luas Lumbung lebih kecil daripada Bale dan rumahnya juga dipisahkan dari bangunan utama.

Ciri Khas Rumah Adat Bali
Putu menjelaskan, ciri khas dari rumah adat Bali terlihat dari pola massa yang bernama Pola Sanga Mandala atau Konsep Nata. Selain itu, masyarakat Bali sangat memperhatikan bahan bangunan yang dipakai dalam membangun rumah, ornamennya, hingga bentuk atap rumah.

"Kalau ciri khas yang pertama pola massa, menggunakan pola Sanga Mandala atau konsep nata. Lalu yang kedua bahan-bahan bangunannya menggunakan alami, cerminan arsitekturnya bisa dilihat dari segi sisi struktur, konstruksi, bahan, ornamen, dan atap. Bentuk atapnya menggunakan konsep limasan (berbentuk segitiga) sama halnya dengan orang bali pakai udeng/destar (topi khas bali) itu yang menjadi identitas," ujarnya.

"Kalau identitas bangunan itu dasarnya Tri Angga. Jadi Tri Angga itu kepala, badan, dan kaki. Kepala orang bali itu dikasih destar untuk menunjukkan kembali memperkuat identitas ke-baliannya," papar Putu.

Aturan Pemerintah Daerah dalam Membangun Rumah di Bali


Putu menjelaskan, terdapat Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang pembangunan rumah di Bali. Hal tersebut telah diatur dalam Perda Nomor 5 Tahun 2005, yang mana terdapat empat ketentuan dalam membangun rumah di Bali.

"Pertama disebut arsitektur warisan, artinya heritage architecture seperti misalkan puri, jadi itu dianggap sebagai sebuah warisan yang perlu dilindungi. Kedua ada arsitektur setempat yang ada di julang, bayung gede pola-pola linier yang namanya disebut arsitek pegunungan. Disebut dengan arsitektur setempat karena di tempat-tempat itu saja yang ada, sementara di tempat lain yang lebih luas ada di daerah dataran," ungkap Putu.

"Ketiga arsitektur tradisional Bali, adalah arsitektur yang dirancang berdasarkan Asta Kosala Kosali, jadi Asta Kosala Kosali adalah landasan untuk membangun arsitektur tradisional Bali. Keempat, arsitektur Bali untuk mengakomodasi berbagai fungsi-fungsi baru yang berkembang dan tumbuh di Bali, seperti misalnya ada rumah sakit, swalayan, supermarket itu tidak ada fungsinya. Sebab dulu yang ada dulu hanya puri, pasar, dan rumah."

"Nah, itu diberikan kesempatan untuk membangun dengan arsitektur Bali tetapi harus berlandaskan dengan arsitektur tradisional Bali. Jadi, walaupun perumahan-perumahan modern saat ini seyogyanya dia menggunakan identitas ke-baliannya agar tampak di rumah-rumah baru ini," papar Putu.

Nah itu dia detikers daftar 10 nama rumah adat Bali beserta filosofi, aturan dalam membangun, dan ciri khasnya. Kalau detikers berencana liburan ke Bali, sempatkan diri untuk berkunjung ke tempat wisata budaya sambil mempelajari rumah adat di sana.

Sumber : detik.com

0 comments: