5 Tradisi Unik Perayaan Maulid Nabi di Indonesia

Selasa, Oktober 11, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Gunungan yang dibuat oleh Keraton Yogyakarta. Foto: Kumparan.
Perayaan Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awal jatuh pada Sabtu (8/6/2022) nanti. Adapun di Indonesia sendiri punya beragam tradisi unik untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Keberagaman di Indonesia turut andil dalam berbagai tradisi unik tersebut. Mengutip Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng, contoh tradisi Maulid Nabi seperti di Kendal, Jawa Tengah bernama weh-wehan—momen ketika saling menukar makanan antar tetangga.
Ada juga di Pacitan, Jawa Timur, memiliki tradisi memasak nasi suci ulam sari yang penuh dengan filosofi, berisikan nasi uduk dan ayam tukung. Tentunya, masih ada lagi tradisi lain saat Maulid Nabi.
Nah, merangkum dari situs resmi LSPT, berikut lima di antaranya tradisi unik Maulid Nabi di Indonesia.
Warga yang ikut rebutan gunungan Grebeg Maulud di Masjid Gedhe Kauman, Minggu (10/11/2019). Foto: adn.

1. Bungo Lado

Merupakan pohon hias berdaunkan uang, biasa disebut pohon uang, tradisi yang ada di Sumatra Barat saat Maulid Nabi itu jadi kesempatan warga atau perantau menyumbang untuk pembangunan rumah ibadah.

2. Grebeg Maulud

Guna merayakan Maulid Nabi, Kraton Kasultanan Yogyakarta biasa menggelar acara Grebeg Maulud. Perayaan tersebut bahkan sudah dilakukan sejak zaman kesultanan Mataram.
Diketahui, kata ‘grebeg’ berarti mengikuti, dalam hal ini mengikuti sultan dan para pembesar Keraton Maulid Nabi ke masjid. Biasanya acara itu lengkap dengan sarana upacara seperti nasi gunungan dan sebagainya. Grebeg Maulud lah kemudian jadi puncaknya.

3. Muludhen

Pulau Madura, Jawa Timur, punya tradisi Muludhen yang biasa diisi dengan pembacaan barjanji, riwayat hidup Nabi. Acara itu juga diisi ceramah keagamaan yang menceritakan kebaikan Nabi Muhammad SAW semasa hidup. Baru dilanjutkan makan tumpeng.

4. Kirab Ampyang

Awalnya kegiatan satu ini jadi media penyiaran Islam di Desa Loram Kulon, Kudus, Jawa Tengah. Tradisi tersebut ketika itu dilakukan oleh Ratu Kalinyamat dan suaminya, Sultan Hadirin.
Adapun Kirab Ampyang dilakukan dengan menyajikan makanan yang dihias ampyang—nasi dan kerupuk—diarak keliling desa menuju Masjid Wali At-Taqwa. Masing-masing partisipan kemudian menampilkan kesenian sebelum memakan nasi bersama-sama.

5. Panjang Jimat

Kali ini tradisi unik datang dari Keraton Cirebon. Panjang Jimat merupakan upacara yang dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah. Para hadirin datang memang sengaja ingin menyaksikan proses upacara yang heboh dan meriah.

Sumber : kumparan.com

0 comments: