ASEAN Diperkirakan Mengalami Resesi Pada 2023, Negara Mana yang Terdampak?

Rabu, Oktober 12, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Perekonomian dunia pada saat ini semakin tidak menentu dan juga dihadapkan pada kemungkinan resesi yang akan terjadi pada tahun 2023 mendatang.
Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani mengatakan bahwa kondisi perekonomian pada saat ini mengalami stagflasi. Stagflasi adalah kondisi yang kontradiktif dimana bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang melemah dan angka pengangguran yang meningkat, kondisi ini juga diikuti dengan terjadinya perlambatan atau stagnasi dari perekonomian yang disertai dengan inflasi yang cukup tinggi.
“Kondisi meningkatnya suku bunga yang semakin menekan inflasi bisa menyebabkan kinerja ekonomi global 2023 berpotensi koreksi kebawah. Inflasi yang terus meningkat serta pertumbuhan ekonomi yang terus melambat dapat menyebabkan terjadinya situasi stagflasi” papar Sri Mulyani saat rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (29/9/2022).
Dilansir dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), secara singkatnya resesi merupakan situasi dimana perekonomian suatu negara tengah memburuk, hal tersebut dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang negatif dan pengangguran yang meningkat.
Sri Mulyani juga menyebut bahwa Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) memiliki potensi akan mengalami resesi pada tahun 2023 yang akan datang.
Dalam catatannya juga ditulis bahwa Inggris sudah menaikkan suku bunga nya menjadi 200 basis poin (bps), demikian juga dengan bank sentral Amerika Serikat (AS) juga sudah menaikkan suku bunga nya menjadi 300 basis poin (bps) pada awal tahun untuk menimpali inflasi yang mencapai 8,3%.
Berikut ini adalah negara-negara yang terancam mengalami resesi 2023:
1. Eropa
Mata uang euro yang merosot ke level terendahnya terhadap dolar sejak akhir tahun 2002 membuat khawatir negara-negara Eropa terhadap resesi. Kenaikan harga gas alam juga turut menjadi pemicu ketakutan akan terjadinya resesi. Data menunjukkan bahwa melambatnya pertumbuhan bisnis pada bulan juni, juga defisit perdagangan pada mei 2022 yang disesuaikan secara musiman sebesar 1 miliar euro di jerman, hal ini berlawanan dengan ekspektasi surplus.
2. Malaysia
Begitu juga rekan negara lainnya di ASEAN. Malaysia mengalami penurunan proyeksi dari 5,4% menjadi 4,7% pada 2023.
Namun, jika dilihat secara wilayah, pertumbuhan ini lebih baik dari Singapura dan Brunei Darussalam yang masing-masing diramal akan meningkat 3% dan 3,6% pada 2023.
3. Mongolia
Lembaga Pemeringkat Internasional, Fitch Ratings memperkirakan kondisi keuangan global yang lebih ketat dan dampak geopolitik akan memperburuk profil keuangan eksternal Mongolia yang lemah. Dalam analisis Fitch menjelaskan bahwa “kami memproyeksikan defisit neraca berjalan Mongolia pada 2022 akan melebar menjadi 16,3 persen dari PDB dan beban utang luar negeri bersihnya menjadi besar pada 157% dari PDB".
4. Vietnam
ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Vietnam akan meningkat sebesar 6,7% tahun depan. ADB, dalam pernyataan terakhirnya pada bulan September, mengungkapkan bahwa ekonomi Vietnam cukup baik dalam konteks ketidakpastian ekonomi global.
"Memulihkan rantai pasokan pangan global akan meningkatkan produksi pertanian tahun ini, tetapi biaya input yang tinggi akan terus menghambat pemulihan sektor pertanian," kata laporan ADB.
Selain itu, menurut ADB permintaan global yang lemah telah memperlambat sektor manufaktur Vietnam. Namun, prospek sektor ini tetap optimis karena investasi asing langsung yang kuat di sektor ini.
5. Amerika Serikat (AS)
Pertumbuhan ekonomi AS terkontraksi 0,6 persen pada kuartal II 2022, setelah minus 1,6 persen pada kuartal I 2022.
Walaupun sudah dua kuartal berturut turut terkontraksi, namun ekonomi Amerika Serikat (AS) belum bisa dibilang mengalami resesi. Pengumuman resesi ekonomi dibuat oleh Business Cycle Dating Commutice yang terdiri dari delapan ahli ekonomi yang dipilih langsung oleh Biro Nasional Riset Ekonomi, organisasi non-profit.
Namun, hingga kini mereka masih enggan menggunakan kata resesi tersebut. Namun di sisi lain The Fed mengatakan “pasar tenaga kerja AS yang kuat memberi kami fleksibilitas untuk menjadi agresif dalam perjuangan kami melawan inflasi”.
6. Indonesia
Menurut Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani, perekonomian Indonesia tergolong masih cukup aman dari ancaman besar terjadinya resesi. Akan tetapi, masih ada risiko resesi ekonomi yang akan dialami oleh Indonesia sebesar 3%.
"Kita (Indonesia) relatif dalam situasi yang tadi disebutkan risiko (potensi resesi) 3 persen," tutur Sri Mulyani dalam konferensi pers di Nusa Dua, Rabu (13/7),
7. China
Menurut laporan Bank Dunia pada Selasa (27/9), China yang merupakan 86% dari output ekonomi kawasan 23 negara, diproyeksikan tumbuh 2,8% tahun ini. Angka ini merupakan penurunan signifikan dari perkiraan sebelumnya yang berada di angka 0,5%
Perekonomian di negara China memang menurun dalam beberapa bulan terakhir menyusul kebijakan lockdown yang diberlakukan di Negara Tirai Bambu itu. Hal tersebut turut mengganggu sektor industri, penjualan domestik, hingga aktivitas ekspor.
IMF menuliskan dalam perekonomian china Juni 2022 bahwa “kami memproyeksikan pertumbuhan PDB riil melambat tajam menjadi 4,3% pada 2022 sampai dengan 0,8 poin, presentasi lebih rendah dari yang diproyeksikan dalam pembaruan ekonomi China Desember”.

Sumber : kumparan.com

0 comments: