Chinmoku: Budaya Diam Bangsa Jepang

Sabtu, Oktober 15, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Mengulas dari buku The Japanese Mind, Chinmoku memiliki banyak alasan tersendiri dalam cara berkomunikasi di Jepang. Penyebab dari adanya Chinmoku juga dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama yaitu dari faktor sejarah dan dominasi kesadaran kelompok dalam kehidupan Jepang. Masyarakat Jepang telah lama mengimplementasikan Chinmoku sebagai suatu kebajikan yang memiliki arti sama dengan “kebenaran”. Dalam hal ini, kata Haragei dan Ishin Denshin melambangkan sikap bangsa Jepang terhadap interaksi manusia.
Haragei merupakan cara untuk bertukar perasaan dan pemikiran dengan cara yang implisit di antara orang Jepang. Masyarakat Jepang menganggap haragei sebagai suatu bentuk komunikasi antar manusia yang terpenting. Dilihat dari kaitan haragei dengan interaksi manusia, terdapat juga idiom Ishin Denshin, yaitu memahami isi hati lawan bicara. Masyarakat Jepang percaya bahwa kebenaran hanya berada di bagian dalam diri manusia yang disimbolkan berupa hati. Bagian tubuh luar seperti wajah, mulut, kata-kata, berbanding dengan kemampuan kognitif dan kepalsuan moral. Singkatnya, apa yang penting dan apa yang benar di Jepang, akan sering ada dalam keheningan, bukan dalam ekspresi verbal.

Ada pula jenis lain dari diam yaitu enryo-sasshi, di mana seseorang memilih untuk tidak mengungkapkan segala yang ada di dalam pikiran mereka dan menghilangkan niat mereka yang sebenarnya tidak terucapkan sebagai bentuk usaha mencari cara yang baik agar berkomunikasi dengan lancar karena pada budaya Jepang konteks tinggi, ekspresi verbal secara langsung terutama bentuk komunikasi negatif seperti amarah, kebencian, penolakan, ketidaksepakatan, dan pembangkangan itu dihindari.
Chinmoku sebenarnya tidak terjadi hanya di depan umum saja tetapi juga terjadi dalam interaksi pribadi terutama dalam suatu hubungan asmara karena pasangan yang sedang jatuh cinta sulit untuk menyatakan perasaannya karena terlalu malu untuk berbicara. Pasangan suami istri di Jepang cenderung tidak menggunakan komunikasi verbal atau langsung yang terbuka, melainkan mereka mencoba untuk memahami satu sama lain dengan cara non-verbal seperti pada saat mereka mencoba mengekspresikan emosi secara lembut.

Dampak Positif dan Negatif Chinmoku

Chinmoku sendiri memiliki kedua dampak positif dan negatif. Sikap diam kerap muncul ketika seseorang tidak ingin berbicara apapun tetapi tidak sepenuhnya ia tidak memikirkan apapun. Diam atau Chinmoku berfungsi untuk menciptakan komunikasi yang lebih lancar dan dapat membantu untuk menghindari perkataan yang dapat menyakiti orang lain juga membuat suasana menjadi damai dan harmonis. Hal ini dapat membantu seseorang untuk mengatasi situasi yang sulit dengan tenang tetapi di sisi lain, Diam juga kerap menyebabkan kesalahpahaman, bahkan dalam interaksi orang Jepang. Faktanya, tidak jarang orang merasa kesal dan tidak sabar ketika mereka tidak bisa mengerti satu sama lain karena ekspresi mereka terlalu tidak langsung untuk diikuti. Tindakan diam juga sangat membutuhkan banyak waktu untuk memahami atau memecahkan situasi masalah yang terjadi karena tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh lawan bicara.
Masyarakat Jepang memang memilih diam untuk tidak memperkeruh masalah tetapi di waktu yang bersamaan juga mereka secara tidak langsung menyakiti perasaan seseorang untuk menjauhinya. Dalam suatu hubungan, ketika seseorang sedang marah, mereka cenderung akan diam saja untuk menghindari terjadinya pertengkaran dibandingkan berbicara untuk menyelesaikan masalah. Namun, hal tersebut dapat memicu terjadinya silent treatment. Silent treatment merupakan suatu perilaku di mana salah satu pasangan di dalam hubungan memilih untuk diam ketika bertengkar tanpa mencoba untuk memperjelas situasi dan menyelesaikan masalah. Meskipun terlihat sepele, pasangan yang terkena silent treatment akan membuatnya ketakutan, kebingungan, hingga frustasi.
Dampak negatif lain dari Chinmoku juga terlihat dari perundungan yang dialami oleh anak-anak. Ketika seseorang melihat temannya terkena bully, ia memilih untuk diam tanpa membantu atau melaporkan orang lain dengan alasan untuk menghindari masalah baru yang akan datang. Selain itu, diam juga dapat digunakan sebagai senjata untuk melindungi suatu posisi atau untuk menyembunyikan fakta ketika seseorang telah melakukan kesalahan atau merasa bersalah. Seperti halnya dengan seorang politisi atau pejabat yang meminta orang lain untuk diam tidak memberikan fakta yang terjadi sebenarnya dengan tujuan untuk mempertahankan jabatan mereka. Sikap ini mencerminkan pepatah Jepang yang disebut “untuk menyapu kotoran di bawah Karpet" (kusai mono niwa futa).
Seperti yang telah dijelaskan, ketika orang Jepang diam, perilaku tersebut mungkin memiliki banyak arti yang berbeda seperti rasa simpati, kesopanan, setuju, kesabaran, rasa malu, amarah, kebencian, kurangnya kemampuan, hingga sikap apatis. Chinmoku memiliki perbedaan dengan budaya Indonesia. Di mana banyak masyarakat Indonesia yang memilih untuk menyuarakan pendapat mereka secara terbuka untuk mengatasi suatu masalah yang terjadi. Dilihat dari hal tersebut, meskipun terdapat sejumlah perbedaan budaya yang penting dalam cara berkomunikasi, orang mungkin tidak sadar akan hal itu dan mereka akan menilai atau mengkritik orang lain sesuai dengan nilai atau standar komunikasi mereka sendiri. Ini bisa menjadi salah satu hambatan yang paling menyusahkan untuk pemahaman antarbudaya.

Sumber : okezone.com

0 comments: