Keragaman Suku Bali dan Nusa Tenggara Beserta Sejarahnya

Sabtu, Oktober 29, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Indonesia merupakan negara yang terkenal memiliki banyak suku bangsa. Secara umum, suku diartikan sebagai kelompok sosial yang ciri-cirinya berkaitan dengan asal-usul suatu daerah atau wilayah, dan kebudayaannya.

Masyarakat region budaya Bali di Pulau Bali, menyebar sampai Kepulauan Nusa Tenggara. Dalam artikel ini kita kan membahas suku apa saja yang terdapat di Pulau Bali dan Nusa Tenggara. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan di bawah ini!

Daftar Suku Bali dan Nusa Tenggara
Suku Bali
Dikutip dari e-book Suku Bangsa Dunia dan Kebudayaannya oleh Pram, Suku Bali adalah kelompok masyarakat yang mendiami pulau Bali. Suku yang mendiami Pulau Bali terdiri dari suku asli Bali dan pendatang.

Suku Bali pendatang berasal dari adanya penyebaran masyarakat atau migrasi-migrasi ke Pulau Bali. Gamal Komandoko dalam e-book Ensiklopedia Pelajar dan Umum, menuliskan penduduk pendatang Bali itu kebanyakan berasal dari Jawa, Melayu, Sasak, Madura, Tionghoa, dan lain-lain.

Dalam buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan oleh Sri Nurhayati, Spd., M.Pd. dan Iwan Mharji, Spd., M.Pd., gelombang migrasi pertama di Pulau Bali terjadi saat zaman pra-sejarah. Migrasi kedua berlangsung pada masa perkembangan agama Hindu di wilayah Nusantara.

Gelombang migrasi ketiga berasal dari Jawa saat era Majapahit runtuh sekitar abad ke-15, yang dilanjutkan dengan proses penyebaran Islamisasi yang terjadi di Pulau Jawa. Sejumlah rakyat Majapahit memilih untuk melestarikan kebudayan Jawa Klasik dengan tradisi asli Bali.

1. Suku Bali Aga
Pulau Bali memiliki beberapa suku, salah satunya yaitu suku Aga atau Bali Mula. Suku Aga muncul dari gelombang migrasi Bali pertama.

Dikutip dari disbud.bulelengkab.go.id, Suku Aga adalah salah satu penduduk asli suku Bali, yang bermukim di pegunungan Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Namun, Suku Bali Aga juga ada yang tinggal di Desa Tenganan di Kabupaten Karangasem.

Tinggal di daerah pedalaman gunung yang terpencil, membuat masyarakat suku Aga belum terjamah oleh teknologi. Selain itu, suku Bali Aga terbiasa dengan aturan adat yang kental.

Tradisi dari Desa Trunyan yang terkenal adalah proses pemakamannya. Pemakaman di Desa Trunyan Bali dilakukan tidak dengan cara dikubur atau dikremasi, melainkan mayatnya di bawah pohon tua di sana.

Penduduk suku Bali ini juga cenderung menutup diri. Sehingga, orang-orang suku Bali Aga kerap dianggap sebagai masyarakat gunung yang bodoh.

2. Suku Bali Majapahit
Suku Bali Majapahit adalah orang-orang yang keturunan Kerajaan Majapahit, dari para pendatang dari Pulau Jawa. Sebagian besar dari mereka tinggal di dataran rendah Bali.
Dahulunya, Bali adalah negara bawahan kerajaan majapahit. Sehingga, tak heran bahwa Suku Bali Majapahit menjadi salah satu pengaruh dari sejarah suku Bali.

3. Suku Nyama Selam
Suku Nyama Selam merupakan suku yang terdapat di Pulau Bali. Dalam laman p2k.stekom.ac.id, secara bahasa, Nyama artinya saudara, sedangkan Selam berarti Islam.

Orang-orang suku Nyama Selam adalah penganut agama Islam, yang dalam kehidupan sehari-harinya mereka turut menjalankan tradisi Bali.

Keberadaan suku Nyama Selam erat kaitanya dari sejarah perkembangan wilayah Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng, Bali. Di Desa tersebut memang sudah ratusan tahun, ditinggali oleh komunitas Muslim.

Di mana komunitas Muslim itu menampilkan campuran antara budaya Bali, Jawa, dan Bugis. Namun, untuk komunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Bali. Dari wilayah Buleleng itulah kemudian penduduknya menyebar hingga ke daerah lainnya, sehingga muncul Nyama Selam.

Namun, da juga versi lain dari asal-usul Nyama Selam, bahwa penyebar Islam yang pertama di Bali bermula saat raja pertama Gelgel, Ketut Dalem Klesir, mengunjungi Majapahit yang pulang dengan dikawal 40 prajurit Majapahit.

Di mana, sebagian prajurit tidak kembali lagi ke wilayah Majapahit. Alhasil mereka menetap di Klungkung lalu mendirikan masjid.

Keberadaan masyarakat Nyama Selam memang terlihat kontras dengan demografi masyarakat Bali. Namun, suku Nyama Selam bisa hidup rukun dengan masyarakat Bali yang beragama Hindu yang merupakan mayoritas di sana.

4. Suku Loloan
Suku Loloan adalah suku Bali yang berasal dari kedatangan masyarakat Melayu, yang diperkirakan sudah ada di Bali sejak abad ke-17. Suku Loloan bertempat di Kabupaten Jembrana, Bali, tepatnya di daerah Loloan Barat dan Loloan Timur.

Sejarahnya, kedatangan orang Melayu di Pulau Bali bermula dari 4 ulama dan pengikutnya yang memiliki misi untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Jembrana.

Keempat ulama itu ialah Dawan Sirajuddin dari Sarawak, Kekaisaran Brunei Syeikh Basir dari Yaman, Kesultanan Utsmaniyah Mohammad Yasin dari Makassar, serta Syihabudin dari Makassar.

Misi tersebut pun diizinkan oleh Raja Jembrana I Gusti Arya Pancoran. Di mana hal tersebut menjadi asal muasal suku ini.

Suku Nusa Tenggara
Kepulauan Nusa Tenggara terdiri dari 2 provinsi, yakni yaitu Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Provinsi NNT memiliki pulau-pulau besar, seperti Pulau Sumba, Pulau Folders, Alor, dan Lembata.

Provinsi NTB terdiri dari pulau besar, yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Kita juga akan mengenal istilah Sasambo singkatan dari Sasak, Samawa, dan Mbojo, yang termasuk suku asli NTB.

1. Suku Sasak
Suku Sasak merupakan suku Bali yang mendiami Pulau Lombok, NTB. Sistem budaya Suku Sasak terdokumentasikan dalam Kitab Negara Kertagama karangan Empu Nala dari kerajaan Majapahit.

Dalam Kitab Negara Kertagama kata Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok, yaitu Lombok Sasak Mirah Adhi. Warga setempat mempercayai nama Sasak berasal dari kata sa-sak yang artinya satu, dan kata Lombok berarti lurus. Sehingga, suku Sasak ini diterjemahkan sebagai suku dengan jalan yang lurus.

Mayoritas masyarakat Suku Sasak beragama Islam. Suku Sasak sangat teguh tradisi leluhur, maka sebagian dari masyarakatnya juga menyembah roh-roh leluhur.

Salah satu tradisi masyarakat Suku Sasak adalah prosesi pernikahan unik. Di mana, calon pengantin perempuan akan dibawa kabur oleh pihak pria sebelum pernikahan. Kemudian, orang tua perempuan itu akan menebus dan membicarakan lebih lanjut untuk proses menuju pernikahan.

2. Suku Bayan
Suku Bayan adalah suku yang juga bagian dari masyarakat Suku Sasak. Masyarakat Bayan tinggal di Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, NTB.

Suku Bayan dikenal kental dengan adat istiadat, seperti sistem kepercayaannya (religi). Sekelompok suku Suku Bayan di beberapa desa menganut keyakinan Islam Wetu Telu (Islam Waktu Tiga), yang berbeda dengan ajaran Islam murni dengan "Islam Waktu Lima".

3. Suku Sumbawa
Suku Sumbawa disebut juga sukus Samawa, yang merupakan suku asli dari NTB. Suku Sumbawa menempati Pulau Sumbawa tepatnya bagian Barat dan Tengah, di mana masyarakatnya menganut ajaran islam sama seperti suku Sasak.

4. Suku Mbojo
Suku Mbojo merupakan suku yang mendiami bagian Timur, Pulau Sumbawa. Saat ini, bagian Timur ini sudah terbagi menjadi 3 bagian, yakni Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu. Suku Mbojo terbagi lagi menjadi dua kelompok suku, yakni suku Duo Donggo dan Duo Mbojo (mendiami kawasan pesisir pantai)

5. Suku Donggo
Suku Donggo adalah bagian dari Suku Mbojo yang mendiami wilayah gunung dan lebih di wilayah Pulau Sumbawa. Bahasa sehari-hari masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan menggunakan bahasa Donggo.

6. Suku Bima
Suku Bima adalah suku yang terdapat di Pulau Nusa Tenggara, Kota Bima di Pulau Sumbawa bagian Timur. Masyarakatnya menggunakan bahasa Bima sebagai bahasa ibu mereka. Bahasa Bima sendiri terdiri dari 3 tingkatan, yaitu tingkat halus (bahasa istana), tingkat menengah (bahasa sehari-hari), dan tingkat rendah (bahasa yang kasar).

7. Suku Dompu
Suku Dompu adalah suku yang mendiami daerah perbukitan di wilayah Kabupaten Dompu di bagian Timur Pulau Sumbawa. Di mana, masyarakat suku Dompu juga hidup berdampingan dengan masyarakat Suku Donggo, Bima, Sasak, Melayu, dan lain-lain.

Masyarakat Suku Dompu berkomunikasi dengan bahasa Mbojo yang disebut juga bahasa Bima Nggahi Mbojo. Selain itu, komunikasi mereka juga dilakukan dengan bahasa Bali, Sasak, maupun Melayu.

8. Suku Sabu
Suku Sabu adalah suku yang mendiami Pulau Sabu dan Raijua di Pulau Sumba. Masyarakatnya menyebut Pulau yang mereka tempati dengan Rai Hawu.

Semantara, orang Sabu sendiri menyebut diri mereka dengan Do Hawu. Sebutan tersebut berasal dari Hawu Ga yang merupakan nama salah satu leluhur yang mendatangi Pulau tersebut.

9. Suku Alor
Dikutip dari ipaper dalam academia.edu yang diunggah Anita Tri, Suku Alor adalah suku yang menempati Pulau Alor, di Kabupaten Alor, NTT. Suku Alor juga dikenal dengan sebutan Suku Abui.

Suku ini merupakan suku tertua pendiri kerajaan di Alor yang dibangun di pedalaman pegunungan Alor. Namun, sekarang kerajaan itu sudah tidak ada tapi keberadaan Suku Alor masih tetap eksis. Mayoritas masyarakat Suku Alor menganut kepercayaan Kristen Protestan dan Katolik.

10. Suku Manggarai
Mengutip e-book Bahan Ajar Sd/MI Kelas IV Keragaman Suku Bangsa dan Agama di Negaraku karya Suryadin, Hasyda, S.Pd., M.Pd., Suku Manggarai adalah suku yang mendiami Pulau Flores bagian Barat, NTT. Bahasa suku Manggarai terdiri dari beberapa dialek. Mulai dari dialek Mabai, Pae, Rejong, Pota dan lain-lain.

11. Suku Rote
Suku Rote mendiami Kabupaten Rote di NTT. Para wanita Suku Rote terkenal dengan kerajinan tenun tradisional dan anyaman pandan. Masyarakatnya bermata pencaharian dengan berladang, beternak hingga menangkap ikan.

12. Suku Ngada
Suku Ngada mendiami daerah Kabupaten Ngada, Pulau Flores, NTT. Sejatinya, orang-orang suku ini juga terdiri dari beberapa suku lagi, yakni suku Maung, Riung Rongga, Nagekeo, dan Bajawa.

Sub suku bangsa itu memiliki perbedaan dari dialek yang mereka pakai. Mata pencaharian masyarakatnya yaitu berladang serta berternak (sapi, kerbau, dan kuda).

13. Suku Ende
Suku Ende merupakan masyarakat yang mendiami Kabupaten Ende, di Pulau Flores. Suku ini hidup bersama dengan suku Lio yang juga menempati daerah tersebut. Namun, Suku ende menjadi mayoritas di daerah Kabupaten Ende.

14. Suku Lamaholot
Suku yang terdapat di Nusa Tenggara selanjutnya yaitu Suku Lamaholot atau ada juga yang menyebutnya Lamholot, Solor, Larantuka. Suku ini mendiami Kabupaten Flores Timur, mulai dari Pulau Solor, Pulau Lembata, dan Pulau Adonara.

Bahasa Suku Lamaholot terbagi ke tiga kelompok dialek, yakni dialek Lamaholot Barat, Tengah, dan Timur. Bahasa dialeknya termasuk rumpun bahasa Austronesia atau dikenal bahasa Melayu umum.

15. Suku Sumba
Mengutip e-journal.uajy.ac.id oleh M Oly, Suku Sumba adalah Suku yang mendiami Kabupaten Sumba Barat dan Tumur, NTT. Sistem kepercayaan lama Suku Sumba merupakan pemujaan kepada arwah nenek moyang yang disebut Marapu.

Pemujaan Marapu merupakan kepercayaan dianggap mempunyai kekuatan berada diluar jiwa manusia. Maka tak heran, ciri khas desa-desa di Pulau Sumba memiliki area pekuburan yang berbaur dengan lingkungan sekitar rumah masyarakatnya.

16. Suku Rongga
Dikutip dari Ensiklopedi Suku Bansa di Indonesia oleh Zulyani Hidayah, Suku Rongga merupakan suku yang mendiami Pulau flores bagian Tengah dan Selatan, di antara wilayah Suku Manggarai dan Suku Ngada. Bahasa yang digunakan termasuk bahasa Austronesia.

Selain suku-suku di atas, ada beberapa suku di Nusa Tenggara lainnya seperti Suku Sasambo, Suku Atoni, Suku Bajawa, Suku Boti, Suku Kedang, Suku Kemak, Suku Kemang, Suku Sika, dan juga suku pendatang yang dari keturunan Cina, Makassar, Bugis, Buron, Jawa, dan beberapa suku lainnya.

Demikian penjelasan dari nama-nama suku di Bali dan Nusa Tenggara. Detikers jadi tahu bukan, suku apa saja yang terdapat di Pulau Bali dan Nusa Tenggara?






Sumber : detik.com

0 comments: