Kesaksian Warga Horornya Jembatan Bolong Mamuju Sang Peminta Tumbal

Selasa, Oktober 25, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Mamuju - Jembatan Bolong di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) dikenal dengan cerita mistis yang kuat. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jembatan ini dikaitkan dengan permintaan tumbal.

Konon, banyak pengendara yang kerap mendapat gangguan ketika melintas di Jembatan Bolong yang berada di Desa Takandeang, Kecamatan Tappalang ini. Tidak sedikit dari mereka yang mengaku melihat makhluk halus dan tiba-tiba membuatnya kehilangan kendali.

Sosok makhluk halus itu disebut menyerupai wanita dengan pakaian serba putih dan berambut panjang. Makhluk tersebut biasanya berdiri di atas pembatas jembatan atau pepohonan pada malam hari

Salah seorang warga setempat Irfan (58) menuturkan, kepercayaan warga terhadap cerita mistis Jembatan Bolong sudah ada sejak tahun 1990-an. Warga percaya ada sosok makhluk halus penunggu jembatan itu.

"Cerita dulu itu begitu (dikenal angker) karena memang ini jembatan banyak kejadian orang dengar-dengar suara aneh," tutur Irfan saat ditemui detikcom

Pada malam hari, sosok makhluk halus itu disebut sering menampakkan diri. Banyak warga yang sudah melihat langsung penampakan sosok perempuan berambut panjang dengan pakaian serba putih itu.

"Banyak yang lihat perempuan (penampakan) kalau malam. Apalagi jalan dari dua arah kan turunan terjal baru tidak ada lampu, hutan ji saja sama air sungai di bawahnya didengar," ujar Irfan.

Kemunculan sosok makhluk halus itu bisanya terjadi pada malam Jumat. Para pengendara yang melintas sebelumnya akan diganggu dengan suara-suara aneh hingga kemunculan makhluk tersebut.

Selain itu, di sisi kanan Jembatan Bolong, terdapat satu fondasi yang dikaitkan dengan permintaan tumbal dari makhluk halus tersebut. Namun ia tak mengetahui persis asal-usul fondasi itu hingga dipercaya warga menjadi tempat mistis.

"Ada dulu semacam fondasi di ujung jembatan katanya di situ tempat tumbal. Entah hewan atau manusia. Cuman sekarang sudah tidak ada mi (fondasinya), begitu cerita-cerita terkenal dulu," jelasnya.

Rentetan kecelakaan bus di Jembatan Bolong yang menewaskan banyak penumpang membuat jembatan itu semakin dikenal angker oleh warga lokal. Kejadian itu kemudian semakin dikaitkan dengan permintaan tumbal.

Pembatas jembatan yang berada di sisi kiri dan kanan beberapa kali harus diganti akibat bus yang mengalami kecelakaan. Bus tersebut menabrak pembatas hingga bolong dan terjun ke bawah sungai.

"Dulu memang ada kecelakaan bus tahun 1990-an dan awal 2000-an kalau tidak salah dan banyak penumpang tewas. Dari situ tambah banyak warga yang percaya memang minta tumbal ini jembatan. Jembatan yang dikenal sekali angkernya di Mamuju kalau ini (Jembatan Bolong)," ujarnya.

Asal Mula Nama Jembatan Bolong
Jembatan Bolong awalnya dibuat menggunakan kayu hitam. Dari sinilah asal mula nama Jembatan Bolong diberikan yakni dengan bahasa lokal 'bolong' yang berarti hitam.

"Dulu pertama kali itu kan kayu hitam yang dipakai bangun jembatan, makanya disebut Jembatan Bolong. Bolong itu bahasa di sini (Mamuju) artinya hitam," kata Irfan.

Seiring berjalan waktu, penggunaan kayu sebagai bahan utama pembuatan jembatan mulai berganti dengan fondasi yang kokoh dilengkapi pembatas jalan. Meski berganti, cerita mistis jembatan tersebut masih kuat melekat di tengah masyarakat, terlebih bagi pengendara yang melintas.

Saat ini, ada dua Jembatan Bolong di Kabupaten Mamuju. Namun satu jembatan tersebut sudah tidak lagi digunakan karena diganti dengan jembatan baru. Di jembatan lama yang kini ditinggalkan itulah cerita horor sering didengarkan masyarakat.

Dahulu, Jembatan Bolong lama menjadi satu-satunya penghubung Jalan Trans Sulawesi Mamuju-Makassar. Setiap kendaraan yang akan keluar atau masuk ke Kabupaten Mamuju akan melewati jembatan yang penuh dengan cerita mistis itu.

Jalan menurun yang terjal dan licin dari kedua arah menuju Jembatan Bolong menjadi ciri khasnya. Belum lagi dengan ukuran jalan yang sempit membuat pengendara mesti ekstra hati-hati ketika melintas.

Sumber : detik.com

0 comments: