Omiai: Sebagai Budaya Perjodohan di Jepang

Kamis, Oktober 13, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Hubungan antara pria dan wanita di Jepang

Sebelum membahas mengenai omiai atau perjodohan di Jepang yang harus diketahui adalah hubungan antara pria dan wanita di Jepang. Hubungan tersebut memiliki perubahan sesuai dengan sistem sosial yang mendominasi pada masa itu.
Pada masa lalu Jepang adalah masyarakat yang matrilineal dimana perempuan memiliki hak untuk berkeluarga dan wanita juga ada yang menjadi pemimpin. Pria dan wanita pada zaman ini memiliki hubungan yang setara secara sosial, politik dan ekonomi dalam kehidupan sehari hari. Kemudian pada zaman Nara pria mulai mendominasi. Periode Heian, orang orang biasa masih mempertahankan hubungan yang relative setara. Sementara itu di kalangan aristokrasi pria memiliki kekuatan yang lebih tinggi atas wanita.
Pada akhir periode Heian, hak hak wanita mulai melemah secara signifikan. Karateristik terpenting dari abad pertengahan dikenal dengan periode kamakura dan muromachi dimana negara memberikan prioritas utama sosial dan politik berada di tangan pria. Hubungan antara pria dan wanita mulai berubah pada periode Edo karena pengaruh dari Konfusianisme yang merupakan filosofi resmi dari keshogunan Tokugawa, karena banyak gagasan mengenai “pria di luar dan wanita di dalam”menjadi tersebar luas dan sikap ini menjadi lazim di masyarakat jepang saat ini. Tahap selanjutnya adalah tentang pendidikan formal bagi pria maupun wanita di era Meiji, ketika jepang mulai menyerap budaya budaya Barat.
Namun pendidikan tersebut jauh dari setara karena pendidikan wanita ditujukan untuk menciptakan ryousaikenbo yang berarti istri yang baik dan ibu yang bijaksana. Meskipun wanita di didik pada zaman Meiji namun dasar pendidikan diarahkan pada rumah tangga bahwa mereka dituntut untuk mendukung suami mereka dan bertanggung jawab mengasuh dan mendidik anak anak mereka. Setelah perang dunia ll konstitusi baru muncul yang menjamin tentang kesetaraan gender tanpa melihat jenis kelamin, selain itu undang undang mengenai kesetaraan kesempatan kerja diberlakukan pada tahun 1986 dengan tujuan menghapuskan diskriminasi kerja terhadap perempuan.
Posisi wanita dalam masyarakat berangsur angsur membaik, tetapi pada kenyataannya diskriminasi terhadap wanita tetap ada meskipun sudah diberlakukan undang undang tersebut.
Pernikahan di Jepang terbagi menjadi dua jenis yaitu pernikahan berdasarkan cinta atau pernikahan yang dijodohkan (omiai). Faktanya, banyak orang Jepang yang lebih selektif dalam memilih pasangan nikah, dan jumlahnya banyak memutuskan untuk tidak menikah beberapa alasannya adalah orang Jepang lebih dekat hubungannya dengan komunitas di kantor sehingga tidak memiliki waktu untuk mencari pasangan, kebanyakan wanita Jepang saat ini ingin mempertahankan kariernya, dan adanya pandangan yang salah mengenai pernikahan dan lain lain. Akibatnya, tingkat pernikahan di Jepang mencapai tingkat yang sangat rendah.

Apa itu omiai?

Omiai (お見合い) adalah perjodohan. Pada zaman dahulu, pernikahan adalah mura- (村 ) atau komunitas, berpusat, dan orang-orang mengutamakan ketertiban dan keuntungan seluruh desa. Akibatnya, orang pada umumnya menikahi mereka yang tinggal dekat dan yang sudah mereka kenal baik. Seiring berjalannya waktu, pernikahan menjadi ie-, atau berpusat pada keluarga, dan kepala keluarga memutuskan pilihan pasangan untuk semua yang lain anggota keluarga.
Kriteria seleksi menekankan status sosial keluarga calon pasangan, yang mempromosikan kemakmuran keluarga dalam jangka panjang. Keinginan orang-orang yang menikah paling sering diabaikan, dan terkadang pasangan bahkan tidak bertemu satu sama lain sampai hari pernikahan mereka. Saat ini, pernikahan berpusat pada individu, dan keinginan para calon mempelai dihormati, meskipun latar belakang keluarga masih menjadi pertimbangan penting dalam omiai modern.
Untuk memulai proses omiai (お見合い), seorang nakodo (perantara) membantu membuat pertukaran awal informasi antara dua individu dan keluarga. Informasi ini biasanya dipertukarkan secara tertulis dalam dokumen yang disebut tsurisho, dan foto selalu disertakan.
Kemudian, jika kedua belah pihak setuju untuk melanjutkan ke yang berikutnya nakodo memperkenalkan calon pasangan satu sama lain bersama dengan orang tua mereka. Setelah pertemuan awal inilah yang disebut omiai (お見合い), pasangan bertemu secara berkala sampai mereka memutuskan untuk menikah atau tidak, memberikan pertimbangan yang tepat untuk kesesuaian masing-masing.
Jika mereka memutuskan untuk menikah, pada waktu itu biasanya laki-laki itu mengirim hadiah, biasanya cincin pertunangan dan sejumlah uang, umumnya sebesar gaji tiga bulan, kepada calon mempelai wanita dan keluarganya. Pertunangan disebut dengan yuino.
Dalam kebanyakan kasus, beberapa bulan kemudian pernikahan berlangsung. Melakukan pernikahan dengan gaya Shinto, Buddha atau Kristen.
Dalam kebanyakan kasus, beberapa bulan kemudian pernikahan berlangsung. Melakukan pernikahan dengan gaya Shinto, Buddha atau Kristen. Sekarang ini omiai (お見合い) sudah ada aplikasinya sehingga lebih mudah dalam penggunaannya. Penggunaan omiai konvensional pada zaman modern seperti ini sangat jarang jarang ditemukan namun tetap masih digunakan oleh masyarakat Jepang. Sekarang ini omiai (お見合い) sudah ada aplikasinya sehingga lebih mudah dalam penggunaannya dan sangat mempermudah dalam akses serta banyaknya calon yang dapat dipilih sesuai kriteria.
Namun baru baru ini ada berita bahwa aplikasi omia telah diretas sehingga data data pribadi bocor di tangan seseorang yang tidak bertanggung jawab. Kasus tersebut adalah dampak negatif penggunaan sosial media yang sulit untuk dikendalikan karena tekhnologi yang semakin canggih, apapun bisa dilakukan melalui internet bahkan kejahatan di dunia Maya juga mulai membahayakan. Untuk itu menurut saya penggunaan omiai konvensional ataupun omiai aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, jika menggunakan aplikasi lebih praktis namun dapat diretas, jika menggunakan omia konvensional memakan waktu tetapi data data pribadi tersimpan aman.

Omiai memiliki sejumlah manfaat yaitu sebagai berikut:

  • Melalui omiai, orang dapat belajar secara detail tentang sejumlah besar calon suami atau calon istri.
  • Biayanya lebih sedikit untuk mencari pasangan nikah melalui omiai daripada menggunakan biro nikah.
  • Wanita yang tidak ingin menikah dengan putra tertua dan tinggal bersama mereka keluarga suami dapat menemukan pasangan lain yang cocok.
  • Omiai mengikutsertakan orang tua dalam proses seleksi, sehingga menghindari konflik nanti.
  • Orang dapat menentukan apakah calon pasangan bertemu atau tidak, dapat saling mengenal satu sama lain mengenai karakter satu dengan yang lain.
  • Orang tidak harus menanggung banyak konsekuensi negatif berkencan, seperti menemukan kesempatan untuk bertemu orang lain atau menerima penolakan secara langsung.
  • Orang Jepang sering sibuk sehingga tidak punya waktu atau tenaga untuk bertemu dan berkencan dengan berbagai calon, jadi omiai menyediakan sarana untuk mengatasi hambatan ini.
Meskipun jumlah omiai telah menurun, banyak anak muda Jepang modern masih mengikuti praktik ini menggunakan aplikasi omiai yang tersedia. Karena pandangan tradisional Jepang tentang pernikahan, yaitu masih soal ie (家) (keluarga) atau (村) mura (desa). Oleh karena itu, meskipun tingkat pernikahan semakin menurun, omiai terus menjadi metode populer untuk memilih pasangan. Adanya inovasi mengenai omiai juga menjadi penyebab masih adanya budaya ini di Jepang. Aplikasi omiai dibuat dan sampai sekarang masih digunakan walaupun beberapa waktu yang lalu sempat ada berita mengenai peretasan.

Sumber : kumparan.com

0 comments: