Presiden Tsai Ing Wen Janji Pertahankan Demokrasi Taiwan dari Ancaman China

Selasa, Oktober 11, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyambut Presiden Palau, Surangel Whipps dalam sebuah upacara di Taipei, Taiwan, Kamis (6/10/2022). Foto: Ann Wang/REUTERS
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menegaskan nilai demokrasi dan kebebasan menjadi hal yang tidak dapat dilepaskan dari Taiwan. Pernyataan itu ditegaskan Tsai di tengah gempuran tekanan militer dan politik dari China.
Saat berpidato pada hari nasional Taiwan, Senin (10/10), Tsai menegaskan 23 juta warga Taiwan terus hidup dalam intimidasi, ancaman dan represi Partai Komunis China. Ia pun menyamakan kondisi Taiwan dengan Ukraina yang tengah digempur Rusia.
Oleh sebab itu, Tsai tidak memungkiri situasi di Ukraina bisa terjadi di Taiwan. Gempuran tersebut akan datang dari China yang menganggap Taiwan bagian negaranya.
CM-11 Brave Tiger menembak saat latihan militer live-fire di Pingtung, Taiwan. Foto: Ann Wang/REUTERS
“Kami benar-benar tidak dapat mengabaikan tantangan yang ditimbulkan oleh ekspansi militer ini terhadap tatanan dunia yang bebas dan demokratis,” kata Presiden Tsai melalui pidatonya yang dikutip oleh AFP pada Senin (10/10).
“Penghancuran demokrasi dan kebebasan Taiwan akan menjadi kekalahan besar bagi demokrasi dunia,” tambah Tsai.
Dikutip dari Al Jazeera, Presiden Tsai mengungkapkan kekhawatirannya dengan agresi yang akan dilakukan China. Mengingat beberapa saat lalu, China menggelar latihan perang menyusul kunjungan Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, pada akhir Agustus lalu.
Menurutnya, China harus berhenti berharap atas kemungkinan terjadinya kompromi nilai demokrasi dan kebebasan di Taiwan lewat intimidasi dan ancaman, yang turut mempengaruhi stabilitas di kawasan.
“Selama 73 tahun terakhir, orang-orang Taiwan telah hidup dan tumbuh bersama di tanah ini, dan telah membentuk rasa identitas dan kepemilikan kami yang kuat,” kata Presiden Tsai.
“Konsensus terluas di antara rakyat Taiwan dan berbagai partai politik kita adalah bahwa kita harus mempertahankan kedaulatan nasional kita dan cara hidup kita yang bebas dan demokratis. Pada titik ini, kami tidak memiliki ruang untuk kompromi.” tambahnya.
Lebih lanjut, Presiden Tsai berpendapat konflik China-Taiwan hanya akan memperburuk keamanan di dunia di tengah melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia, perang Rusia-Ukraina, dan pandemi COVID-19.
Di bawah kepemimpinan Tsai, hubungan China dan Taiwan berada di titik nadir. China bahkan menuduh Tsai sebagai separatis pascaterpilih kembali pada 2020.
Al Jazeera melaporkan pernyataan seorang pejabat Taipei bahwa pidato Presiden Tsai meneguhkan status negara tersebut dalam status quo dan stabilitas di kawasan.
Menanggapi latihan militer yang dilakukan China, Tsai telah penguatan pertahanan Taiwan sebagai prioritas pemerintahannya. Ia juga menganggarkan Rp 8 triliun atau sekitar 15 persen dari total pengeluaran pemerintah untuk pertahanan keamanan.
“Kami sedang meningkatkan produksi massal rudal presisi dan kapal angkatan laut berkinerja tinggi,” jelas Presiden Tsai.
“Selain itu, kami bekerja untuk memperoleh berbagai senjata presisi kecil yang sangat mobile yang akan membantu kami mengembangkan kemampuan perang asimetris yang komprehensif, memastikan bahwa Taiwan sepenuhnya siap untuk menanggapi ancaman militer eksternal,” tambahnya.
Tsai juga menegaskan perlunya memobilisasi dan melatih lebih banyak warga sipil untuk bekerja dengan militer, sebuah strategi yang berhasil diadopsi Ukraina setelah invasi Rusia.
“Setiap warga negara adalah penjaga bangsa kita,”pungkasnya.

Sumber : kumparan.com

0 comments: