Suneri, Mantan TKW Asal Indramayu yang Sukses Jadi Atlet Disabilitas Cabang Panahan

Rabu, Oktober 26, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Suneri, Mantan TKW Asal Indramayu yang Sukses Jadi Atlet Disabilitas Cabang Panahan
Suneri dan medalinya yang diperoleh saat Peparnas XVI 2021 di Papua.(Foto: Muhamad Jupri/TIMES Indonesia)
TIMESINDONESIA, INDRAMAYU – Sama sekali tak terpikirkan dalam benak Suneri (30), seorang wanita asal Indramayu, Jawa Barat yang akhirnya bisa sukses menjadi seorang atlet. Padahal, dia merupakan mantan seorang TKW, yang hanya tamatan SD

Suneri merupakan atlet disabilitas dari cabang olahraga panahan. Dia berhasil membawa nama Indramayu dalam ajang Pekan Paralympic Daerah (Peparda) Jawa Barat tahun 2018 lalu di Bogor, dengan menyumbang emas.

Selain itu, dia juga mewakili Jawa Barat dalam cabang olahraga panahan, untuk bertanding dalam Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) di Papua tahun 2021 ini, dan berhasil membawa pulang medali perak dan perungu.

Wanita kelahiran 22 September 1991 ini menceritakan, sebagai ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Cidempet Kecamatan Arahan Kabupaten Indramayu, dirinya berkeinginan untuk meningkatkan taraf hidup ekonomi keluarga. Akhirnya, dipilihlah jalan sebagai TKW, dengan bekerja di Oman pada tahun 2012.

Di Oman, Suneri hanya bertahan selama 18 bulan saja. Karena saat itu, dia mengalami musibah, yakni terjatuh di kamar mandi. Akibatnya, dia sempat kena sakit selama satu bulan. Hal tersebut membuat Suneri memilih untuk pulang ke kampung halaman di Indramayu.

Ketika di Indramayu, Suneri memeriksakan kondisi kakinya ke dokter. Dan tak disangka, ternyata kakinya terkena kanker tulang. Kanker tersebut rupanya menggerogoti tulang kaki kanan Suneri yang terjatuh. Hingga akhirnya, kakinya harus diamputasi.

"Saya didiagnosa kena kanker tulang. Akhirnya kaki kanan saya diamputasi," jelasnya kepada TIMES Indonesia

Selama awal-awal menjalani hidup dengan hanya satu kaki saja, merupakan cobaan yang berat bagi Suneri. Apapun yang dia lakukan, pasti akan dicemooh oleh tetangganya. Contohnya, saat dia memilih untuk berjualan kecil-kecilan di rumahnya, tetangganya berpandangan jelek.

Padahal sebelum dia pergi ke Oman untuk bekerja, dia sempat berjualan juga di rumahnya. Namun, hal berbeda ketika dia sudah menjalani amputasi. Bahkan yang lebih miris, ada yang mengatakan bahwa Suneri lebih baik pergi ke Jakarta untuk mengemis, karena dengan kondisinya, akan banyak yang mengasihani dan memberinya uang.

Dari situ, Suneri menjadi serba salah. Ditambah, dia tidak ingin melihat kedua anaknya di-bully oleh teman-temannya, hanya karena mempunyai seorang ibu yang berkaki satu.

Suneri akhirnya bertemu dengan Darwinah pada tahun 2014, seorang pengusaha sekaligus pembimbing bagi masyarakat yang memang membutuhkan. Dari Darwinah, Suneri mendapatkan ilmu berwirausaha. Namun tetap saja, pandangan jelek dari tetangganya masih ada.

Suneri Atlet Disabilitas 3

"Orang-orang tetap berpandangan jelek. Saya jualan dikiranya hanya cuma topeng saja, supaya banyak orang yang kasihan," terangnya.

Suneri akhirnya meminta bantuan Darwinah, untuk mencoba menjadi atlet disabilitas. Hal tersebut dipilihnya, lantaran saat itu para atlet disabilitas sedang naik pamor. Para atlet bisa mendapatkan kesetaraan dengan atlet normal, dan sudah mempunyai ajang olahraga sendiri.

Suneri pun akhirnya mendapatkan kesempatan untuk diperkenalkan dunia olahraga khusus disabilitas. Dia diminta untuk mencoba semua cabang olahraga, untuk melihat di mana potensinya. Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, Suneri tak pantang menyerah untuk bisa membuktikan kemampuan diri.

Hingga akhirnya, Suneri dipilih untuk menjadi atlet panahan, karena dia mempunyai potensi di situ dan cocok. Dia pun lantas masuk National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) atau Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (KPNI) Indramayu, sebuah lembaga atau organisasi yang menaungi para atlet disabilitas. Dari situ, dia pun mulai menekuni pelatihan.

Di awal-awal latihan, Suneri merasa gugup dan kaku. Apalagi, alat panahan seperti busur yang digunakan, tidaklah murah, yakni sekitar Rp 60 juta. Suneri dipinjamkan busur panah dari kantor, untuk digunakan selama latihan dan juga bertanding.

Di samping itu, kesulitan olahraga panahan adalah harus bisa memusatkan pikiran yang fokus, sehingga tidak bisa dilakukan jika pikirannya sedang kacau. Meskipun begitu, Suneri tetap mengasah kemampuan memanahnya.

Berkat ketekunan dan tekad kuat Suneri, dia akhirnya bisa mewakili Indramayu dalam ajang Peparda Jawa Barat tahun 2018 lalu di Bogor, dan berhasil membawa pulang medali emas. Keberhasilan tersebut rupanya menjadi tiket eksklusif baginya, yang bisa membawanya langsung menjadi kontingen Jawa Barat, untuk bertanding di Peparnas XVI Papua 2021.

Meskipun hanya bisa membawa pulang medali perak dan perungu dalam ajang Peparnas tersebut, Suneri mengaku bangga karena bisa mengharumkan nama kampung halamannya, yakni Indramayu, di kancah nasional.

"Alhamdulillah jalannya dipermudah, bisa membawa nama Indramayu," tuturnya.

Setelah mengikuti Peparda maupun Peparnas, kini kondisi keluarganya mengalami perubahan. Di samping bisa membawa prestasi yang membanggakan karena bisa mengangkat nama Indramayu, keadaan perekonomiannya pun ada peningkatan.

Bonus yang diterimanya saat meraih medali emas dalam Peparda 2018 lalu, bahkan bisa digunakannya untuk membeli busur panah sendiri seharga Rp 60 juta. Dia tidak perlu lagi meminjam peralatan ke kantor untuk latihan maupun bertanding.

Kini, Suneri akan fokus untuk persiapan Peparda Jawa Barat tahun 2022 mendatang, yang rencananya akan dilaksanakan di Bekasi. Dia pun tak menampik, jika nantinya ada tawaran untuk mengikuti pelatihan nasional (Pelatnas) untuk bisa membawa nama Indonesia di kancah internasional.

"Saya ada cita-cita masuk pelatnas, supaya bisa membawa nama Indonesia dan juga Indramayu di internasional," harap Suneriatlet disabilitas asal Indramayu yang memiiki prestasi nasional.

Sumber : timesIndonesia

0 comments: