Unik, di Yunani Ada Biara bak 'Menggantung' di Udara

Selasa, Oktober 04, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Setiap tempat wisata di dunia ini bisa dibilang banyak yang berhasil membuat orang-orang kagum. Salah satunya adalah sebuah biara yang berada di puncak tebing Meteora. Sebuah tempat yang berdiri di puncak batu pasir yang berada di luar Kota Kalambaka, Yunani.
Biara ini merupakan tempat di mana para biarawan tinggal pada abad ke-11. Tentu tempat ini memiliki pemandangan yang sangat luar biasa indah.
Bagaimana tempat tersebut bisa berada di sana? Karena dilihat dari mata normal, rasanya itu sangat sulit untuk dikunjungi oleh orang-orang.

Sejarah Biara di Puncak Tebing Meteora, Yunani

Dilansir The Culture Trip, Meteora memiliki arti digantung di udara. Di sana terkenal dengan biara-biara yang berdiri kokoh di puncaknya.
Tidak banyak yang tahu, sebelum pembangunannya dilakukan pada abad ke-14, para biksu memanjat batu-batu yang menjulang tinggi untuk menetap di gua.
Saat bertapa, mereka menyendiri dan terisolasi, tetapi menurut legenda, mereka akan turun pada hari Minggu untuk misa, yang diadakan di Doupiani.
Pada abad ke-12, Meteora adalah rumah bagi komunitas pertapa yang berkembang pesat. Dan akhir abad ke-14, kekuasaan 800 tahun Kekaisaran Bizantium perlahan-lahan berakhir ketika komunitas monastik di semenanjung Athos semakin dikepung oleh perampok Turki.
Ada tiga biarawan Musa, Gregory, dan Athanasios yang merupakan Biara Iviron, mereka memutuskan untuk meninggalkan semenanjung semi mencari rumah baru, setelah berhadapan dengan perampok.
Karena mereka telah mendengar tentang 'keajaiban' yang terjadi di dataran Thessaly, kemudian menetap di atas batu yang disebut Stylos (Pilar).
Singkat cerita, Athanasios mendirikan sebuah biara kecil di Platys Lithos (Batu Luas) pada tahun 1344, di mana satu-satunya akses adalah melalui tangga yang akan dipindahkan oleh para biarawan ketika mereka merasa terancam.
Ketika perampok Turki memulai ekspansi mereka menuju Thessaly, para biksu pertapa, yang mencari perlindungan dari invasi Turki, dan memutuskan untuk menetap di bebatuan Meteora yang tidak dapat diakses.
Pada saat itu, lebih dari 20 biara dari semua ukuran dibangun. Tanpa langkah dan minim akses, komunitas monastik di Meteora berkembang.
Untuk datang dan pergi, para biksu biasanya akan turun melalui jaring yang dipasang di atas kail, diangkat ke atas dan ke bawah dengan tali, atau tangga yang bisa ditarik.
Mereka akan menanam anggur, jagung, dan kentang di tanah subur di bawah. Pada akhir abad ke-14, biara Grand Meteoron menjadi komunitas terbesar, dan bahkan mereka memiliki kawanan ternak.
Selama abad 17-18, Meteora telah menjadi pusat perlindungan bagi orang-orang Yunani yang melarikan diri dari kekuasaan keras penguasa Ottoman, karena itu adalah satu-satunya tempat di mana budaya Hellenic dilestarikan.
Menariknya tidak hanya umat beriman tetapi juga penyair, filsuf, dan pemikir mendalam. Beberapa orang mengatakan bahwa jika bukan karena biara Meteora, maka tradisi dan budaya Hellenic akan mati.
Tak berhenti sampai di situ, tahun 1921 ketika Ratu Marie dari Rumania mengunjungi Meteora, dia menjadi wanita pertama yang memasuki biara Great Meteoron.
Acara ini membawa aroma perubahan di komunitas rock. Situs ini dibom berat selama Perang Dunia II dan banyak harta dicuri. Saat ini, enam dari 24 biara masih aktif.
Dari jumlah tersebut, empat dihuni oleh laki-laki, dan dua oleh perempuan, sementara setiap biara memiliki kurang dari 10 penduduk. Sekarang, terutama tempat-tempat wisata, biara-biara menawarkan pandangan sekilas tentang kehidupan mereka.
Kini, untuk sampai ke sana sudah ada jalan setapak yang dibangun dan dilengkapi dengan jembatan dari dataran tinggi di dekatnya. Great Meteora adalah yang terbesar dan paling sering dikunjungi oleh wisatawan.
Sedangkan, Biara Roussanou yang terletak di atas batu yang relatif lebih kecil, menjadi spot favorit untuk berfoto. Pada 2007, Meteora resmi menjadi situs warisan dunia UNESCO.

Sumber : kumparan.com

0 comments: