Hobi Jadi Cuan, Bisnis Rindik Gede Edi Sukses Tembus Jepang-Australia

Senin, November 28, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Buleleng - I Gede Edi Budiana sukses menjalani hobinya sembari meraup pundi-pundi rupiah. Lelaki berusia 26 tahun ini merupakan seorang pebisnis muda asal Buleleng dalam bidang alat musik tradisional rindik.

Di tangan Edi, gelontongan bambu disulap menjadi rindik dengan suara yang merdu. Hasil karyanya ini bahkan telah terjual sampai ke negara Jepang hingga Australia

Pemuda ini memproduksi rindik di kediamannya yang berlokasi di Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Tepatnya di workshop miliknya bernama De Percussion.

Edi menjalankan bisnis ini sudah belasan tahun tercatat sejak ia masih duduk di bangku kuliah. Ia merupakan alumnus dari STIKOM Bali jurusan sistem informasi di tahun 2014. Sembari kuliah, ia menjalankan usaha rindik.

Diceritakan Edi, awal ia membuka bisnis bermula dari iseng semata. Tidak ada niatannya untuk membuka usaha sebab Edi memang hobi bermain rindik. Edi kemudian coba membuat satu buah rindik untuk ditaruh di kosnya yang berada di Denpasar.

Singkat cerita, salah satu temannya tertarik dan membeli rindik buatannya. Mulai saat itulah ia menjadikan hobinya sebagai sumber penghasilan.
Edi telah terampil membuat rindik sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kemampuannya itu dipelajari secara otodidak.

"Salah satu teman saya membeli rindik saya dengan harga Rp 200 ribu waktu itu, lalu saya buat lagi, kemudian saya promosikan di media sosial, dan ternyata banyak yang berminat," katanya

Proses Pembuatan Rindik

Dalam mengerjakan sebuah rindik, kata Edi biasanya membutuhkan waktu sekitar 1 bulan. Lama pengerjaan tergantung dari hiasan tambahan atau ukiran yang digunakan pada rindik.

Di mana bambu mulanya akan dipotong sedemikian rupa dengan ukuran yang berbeda. Bambu yang digunakan dibagi menjadi dua jenis bambu, di antaranya bambu hitam dan tabah.

Bambu yang sudah dipotong lalu, direndam di dalam air untuk membuat suaranya lebih bagus. Selain itu, di dalam air tersebut juga ditambahkan cairan kimia anti rayap supaya lebih awet. Setelah itu baru, ditata sesuai dengan tangga nada. Kemudian dicat agar lebih menarik.

"Proses pembuatannya itu lumayan lama sekitar 1 bulanan, makanya harus produksi banyak, kalau produksi 1 itu lama sekali butuh waktu, dari motong bambu dibentuk setengah jadi, baru di rendam di kolam biar suaranya bagus dan awet juga. Ini buatnya bersama tim, tapi Borongan," jelasnya.

Harga Rindik

Adapun harga rindik buatan Edi bervariasi. Untuk rindik mini dihargai Rp 750 ribu. Kemudian untuk rindik polos tanpa ukiran dihargai Rp 950 ribu. Sedangkan untuk rindik dengan hiasan ukiran dihargai mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.

Selain menerima pesanan dari wilayah Bali. Rindik buatan Edi juga kerap terjual hingga mancanegara. Beberapa di antaranya terjual hingga ke negara jepang, singapura dan autralia.

Sumber : detik.com

0 comments: