Kalahkan Tim Asia Tenggara, Mahasiswa UI Bikin Panel Surya dari Limbah Plastik

Senin, November 21, 2022 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments




Tim dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) gagas panel surya roll dari limbah plastik. Dinamakan Printable Alternative Solar Roll (PARASOL) karena inovasi tersebut kalahkan tim dari negara-negara di Asia Tenggara.
Anggota tim itu adalah Afra Moedya Abadi, Tiffany Liuvinia, dan Yosep Dhimas Sinaga dari Departemen Teknik Kimia FTUI, angkatan 2020. Mereka membawa desain PARASOL ke kompetisi ESG Symposium 2022 "Hacks to Heal Our Planet: ESG Idea Pitching" Regional Competition yang diselenggarakan oleh PT Siam Cement Group (SCG).

Sebelum bertanding di Asia Tenggara, tim UI terlebih dahulu mengalahkan 230 tim dari Indonesia. Lalu mereka bertanding kembali di tingkat regional dan berhasil mengalahkan lima tim lain dari beberapa negara Asia Tenggara.

Berangkat dari Indonesia sebagai Negara Penyumbang Limbah
Menurut Yosep Dhimas, latar belakang PARASOl antara lain karena Indonesia menjadi penyumbang limbah plastik terbesar di dunia. Kemudian berkaitan dengan krisis energi terutama dengan panel surya silikon yang beredar di Indonesia.

"Dari kedua latar belakang tersebut, akhirnya kami tergerak untuk membuat PARASOL. Inovasi panel surya alternatif ini kami rancang dalam bentuk plastik rol yang praktis, fleksibel, dan semi transparan. PARASOL memanfaatkan prinsip perovskite solar cell dengan nilai efisiensi yang mampu bersaing dengan panel surya konvensional," kata Yosep dalam laman UI dikutip Senin (21/11/2022).

Salah satu komponen PARASOL adalah limbah PET. PET merupakan sumber pencemaran tertinggi dari semua jenis sampah plastik. Maka, potensi untuk dimanfaatkan kembali menjadi lebih besar.

Cara Kerja PARASOL
PARASOL memiliki cara kerja yang mirip seperti panel surya silikon pada umumnya, yaitu memanfaatkan sinar matahari. Ia memiliki bentuk yang praktis dan dapat bekerja pada kondisi minim cahaya matahari.


Manufakturnya yang lebih sederhana membuat Parasol memiliki harga jauh lebih terjangkau dibandingkan panel surya konvensional. Selain itu, PARASOL merupakan panel surya yang lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah plastik PET sebagai salah satu komponennya.

"Dengan desain tersebut, PARASOL mampu menghasilkan efisiensi konversi listrik 15-20%, masa pakai sekitar 20 tahun, dan temperatur kerja maksimum lebih dari 100. Hal ini membuktikan PARASOL memiliki performa yang mampu bersaing dengan panel surya silikon," ungkap Dekan FTUI, Prof Dr Heri Hermansyah, ST, M Eng, IPU.

Saat ini, tim tengah mengembangkan prototipe PARASOL dengan tujuan komersialisasi. Dekan FT UI itu berharap, PARASOL dapat menjadi salah satu inovasi untuk memberikan keseteraan bagi seluruh warga Indonesia dalam menyediakan akses energi bersih dan terjangkau.

Sumber : detik.com

0 comments: