Kisah Penjual Gorengan yang Sukses Bikin Perusahaan Raksasa India

Selasa, November 29, 2022 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments



Tidak sedikit dari kisah sukses para pengusaha besar dunia yang berawal dari sebuah mimpi, yang akhirnya diperjuangkan hingga terwujud menjadi nyata. Itulah awal mula perjalanan dari salah satu konglomerat dunia, Dhirubhai Ambani.

Ia merupakan pendiri dari Reliance Industries Limited, raksasa petrokimia, telekomunikasi, ritel, tekstil, dan energi, yang merupakan eksportir terbesar serta perusahaan swasta India pertama yang masuk Fortune 500. Dengan tekad dan ketekunannya, pria asal India ini berhasil bangkit dari kemiskinan dan menempati puncak kejayaan.

Dilansir dari Britannica dan Up Rise High, Kamis (17/11/2022), pria dengan nama lengkap Dhirajlal Hirachand Ambani ini lahir pada 28 Desember 1932 di sebuah desa kecil bernama Chorwad (Gujarat). Dia meninggal pada 6 Juli 2002 di Mumbai.

Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara yang tumbuh di keluarga sederhana, dengan ayah seorang guru dan ibu rumah tangga. Kadang-kadang, keluarganya tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan pokok, sehingga sang ibu rela meminjam uang dari tetangganya.

Karena kondisi keuangan yang buruk, ibunya meminta ia dan Ramnikbhai (kakak laki-lakinya) untuk mencari tambahan uang. Lalu pada usia 15 tahun, Ambani mulai menjual gorengan tepung (bhajia) kepada para peziarah di Puncak Grinar. Dia bahkan mendirikan kios kentang goreng di pekan raya desa selama akhir pekan untuk membantu keuangan keluarga.

Pada 1949, di usia 17 tahun, Ambani bermigrasi ke Aden, Yaman. Ia memulai karirnya sebagai juru tulis di A. Besse & Co., yang pada tahun 1950-an merupakan perusahaan perdagangan lintas benua terbesar di timur Suez. Gaji yang ia peroleh sebesar 300 Indian rupee.


Kemudian, ia bekerja di bagian komoditas perusahaan dan akhirnya pindah ke departemen yang menangani produk minyak bumi untuk "Shell." Namun, keinginan Dhirubhai untuk memulai bisnisnya sendiri masih membara.

Di Besse, sambil melakukan pekerjaannya, Ambani mempelajari penjualan dan pembelian, pemasaran, distribusi, perdagangan komoditas, dan pengelolaan uang.

Pada tahun 1958 Ambani kembali ke India dan menetap di Bombay (sekarang Mumbai). Ia pun memulai bisnis perdagangan rempah- rempah dan mendirikan Reliance Commercial Corporation dengan sepupunya, Champaklal Damani. Investasi awalnya sebesar 15.000 indian rupee.

Pada tahun 1965, Ambani dan Champaklal Damani berpisah karena perbedaan ideologi bisnis. Ia pun masih dengan teguh memperluas bisnisnya ke komoditas lain, dengan strategi menawarkan produk berkualitas tinggi dan menerima keuntungan lebih kecil dari pesaingnya. Bisnisnya pun berkembang pesat.

Kemudian, Ambani mulai merambah ke sektor tekstil sintetis. Dia melakukan terobosan pertamanya ke arah integrasi vertikal dengan membuka pabrik tekstil Reliance pertama pada tahun 1966. Tujuannya ialah menguasai sektor dari hulu ke hilir.

Melanjutkan strategi tersebut, Ambani pun secara bertahap menjadikan Reliance sebagai raksasa petrokimia. Kemudian ia juga menambahkan produk plastik dan pembangkit listrik ke bisnis perusahaannya itu.

Pada tahun 1977 Ambani membawa Reliance go publik, setelah bank-bank India menolak untuk membiayainya. Dalam Penawaran Umum Perdana (IPO) itu, ia menerbitkan 2,8 juta saham, dikreditkan dengan melibatkan investor kecil di pasar saham dan kepemilikan saham ekuitas.

Sebanyak 58.000 investor kelas menengah berinvestasi di IPO Reliance, bahkan hingga perusahaan mengalami kelebihan permintaan sebanyak tujuh kali. Perusahaan itu kini dikenal sebagai Reliance Industries Limited.

Meski sempat ada pada kondisi ketidakpastian ekonomi yang lesu, peraturan pemerintah yang melumpuhkan, dan korupsi politik, kepercayaan investor terhadap Reliance tetap tak tergoyahkan, sebagian karena dividen besar yang ditawarkan perusahaan, serta karisma dan visi sang pendiri.

Lalu, pada pertengahan 1980-an, Ambani menyerahkan pengelolaan perusahaan itu kepada putra-putranya, Mukesh Ambani dan Anil Ambani. Kendati demikian, ia terus mengawasi perusahaan hingga sesaat sebelum kematiannya pada 2002.

Sumber : detik.com

0 comments: