Sejarah Berdirinya Negara Singapura, Pos Perdagangan yang Diincar Raffles

Kamis, November 10, 2022 Majalah Holiday 0 Comments

Negara Singapura (Foto: Reuters)

 Singapura merupakan negara yang terletak di Asia Tenggara atau lebih tepatnya di Semenanjung Malaysia. Negara ini dulu sering disebut sebagai "Pu-luo-chung" atau "Pulau Ujong" yang berarti "pulau di ujung semenanjung" dalam bahasa Melayu.

Melansir dari Britannica, Singapura awalnya dihuni oleh banyak nelayan dan bajak laut serta berfungsi sebagai pos terdepan untuk Kerajaan Sriwijaya. Pada prasasti Jawa dan catatan Cina yang berasal dari abad ke-14, nama Pulau Singapura disebut sebagai Tumasik atau Temasek. Kata tersebut berasal dari bahasa Jawa "tasek" yang artinya laut.

Lantas, bagaimana sejarah negara Singapura bisa berdiri hingga sekarang ini? Melansir dari Visit Singapore, berikut penjelasannya.

  • Masa Penjajahan Inggris

Singapura modern didirikan pada abad 19 berkat politik, perdagangan, dan seorang pria yang dikenal sebagai Sir Thomas Stamford Raffles.

Selama masa penjajahannya, kerajaan Inggris sedang mengincar pelabuhan singgah di kawasan ini untuk dijadikan pangkalan armada niaganya, dan demi mencegah setiap kemajuan yang dibuat Belanda. Singapura, yang saat itu sudah menjadi pos perdagangan baru di sepanjang Selat Malaka, tampak sesuai.

Raffles, yang saat itu menjabat Letnan Gubernur Bencoolen (sekarang Bengkulu) di Sumatera, mendarat di Singapura pada 29 Januari 1819. Menyadari besarnya potensi pulau yang tertutup rawa ini, ia pun membantu untuk melakukan perundingan dengan penguasa setempat dan menjadikan Singapura sebagai pos perdagangan. Tak lama, kota ini pun berkembang sebagai pusat perdagangan dan tempat penyaluran barang, menarik imigran dari Tiongkok, India, Kepulauan Malaysia, dan lainnya.

Pada 1822, Raffles mencanangkan Raffles Town Plan, yang juga dikenal sebagai Jackson Plan, untuk mengatasi masalah ketidakteraturan yang makin parah di koloni. Daerah pemukiman etnis dipisahkan menjadi empat wilayah. European Town dihuni oleh pedagang Eropa, Eurasia, dan orang Asia yang kaya-raya, sedangkan etnis Tionghoa diletakkan di Chinatown hari ini dan di sisi tenggara Singapore River. Etnik India bermukim di Chulia Kampong di utara Chinatown, dan Kampong Gelam menampung warga Muslim, etnik Melayu, dan Arab yang bermigrasi ke Singapura. Singapura terus berkembang sebagai pos perdagangan, dengan berdirinya beberapa bank utama, asosiasi komersial, dan Chambers of Commerce. Pada 1924, sebuah jalur lintasan yang menghubungkan bagian utara Singapura dengan Johor Bahru dibuka.

  • Perang dan Perdamaian

Kemakmuran Singapura mengalami pukulan besar selama Perang Dunia II, ketika pulau ini diserang oleh Jepang pada 8 Desember 1941. Penjajah tiba dari utara, mengacaukan para komandan militer Inggris yang mengira serangan laut akan dilancarkan dari sisi selatan. Meskipun menang jumlah, pasukan Sekutu menyerah kepada Jepang pada Tahun Baru Imlek, 15 Februari 1942. Ini merupakan tindakan menyerah terbesar dari pasukan Inggris dalam catatan sejarah. Pulau ini, yang dulu dielu-elukan sebagai "benteng yang tak tertembus", diganti namanya menjadi Syonan-to (atau "Cahaya dari Pulau Selatan" dalam bahasa Jepang).

Ketika Jepang menyerah pada 1945, pulau ini diserahkan kepada Pemerintahan Militer Inggris, yang tetap berkuasa hingga Negeri-Negeri Selat yang terdiri atas Penang, Melaka, dan Singapura dibubarkan. Pada April 1946, Singapura menjadi negara Koloni Kerajaan Inggris.

  • Menuju Kemerdekaan

Pada 1959, tumbuhnya jiwa nasionalisme mengarah pada pemerintahan mandiri dan pemilihan umum pertama yang diadakan di Singapura. People’s Action Party (PAP) memenangkan sebagian besar dari 43 kursi dan Lee Kuan Yew menjadi perdana menteri pertama Singapura.

Lalu pada 1963, terbentuk Negara Federasi Malaysia yang terdiri dari Malaya, Singapura, Sarawak, dan Kalimantan Utara (sekarang Sabah). Gerakan itu dimaksudkan untuk mendorong hubungan yang lebih dekat. Namun, penyatuan Singapura dengan negara lainnya terbukti gagal, dan kurang dari dua tahun kemudian, pada 9 Agustus 1965, Singapura meninggalkan Malaysia untuk menjadi negara demokratis yang merdeka dan berdaulat.


Sumber : okezone.com

0 comments: