Wae Rebo, Desa Adat dan Budaya Terakhir di Flores

Selasa, November 08, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam mendaki, kita akan diperlihatkan pemandangan yang membuat Anda takjub. Tujuh Mbaru Niang di Wae Rebo tersusun indah yang dibangun dengan setengah lingkaran di dataran tinggi Flores. Mbaru Niang yang indah ini dikelilingi di semua sisi oleh perbukitan yang berlatar belakang puncak puncak yang lebih tinggi dan menjulang ke langit. Sungguh ini adalah mahakarya yang sangat indah.
Flores sendiri adalah pulau yang terdiri atas keberagaman sehingga wajar variasi budaya banyak berkembang di sini. Setidaknya terdapat enam bahasa lokal yang digunakan di Flores. Sedangkan Wae Rebo sendiri merupakan sebuah desa dari suku Manggarai. Suku ini bermukim di Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Verheijen JAJ dalam Tulisan Manggarai dan Wujud Tertinggi (1991), mengatakan bahwa Suku Manggarai sedikit mencampurkan agama Kristen yang disederhanakan dengan kepercayaan animisme dan menyebut nama tuhan dengan panggilan Mori Kraeng, mereka juga terkenal dengan seni bela diri tradisional mereka, yang disebut Caci. Caci sendiri diadakan di sekitar kota pelabuhan Labuan Bajo dan merupakan objek wisata yang populer. Namun jika Anda benar-benar ingin benar-benar merasakan pengalaman budaya Manggarai, dan bertualang, Wae Rebo adalah tempat yang paling tepat untuk dikunjungi.

Desa di atas awan

Wae Rebo yang mendapatkan Top Award of Excellence dari UNESCO pada tahun 2012 sendiri menempati posisi yang bisa dibilang sangat strategis letaknya berada dekat puncak bukit yang tinggi, di ketinggian 1100 mdpl. Sampai saat ini, tidak ada cara lain untuk mencapai desa selain hiking. Rumah dan lahan pertanian kopi adalah yang paling umum tersebar di lereng di atas gugusan Mbaru Niang, dan pemandangan panorama saat matahari terbit atau terbenam akan membuat wisatawan atau turis yang datang sibuk untuk mengabadikannya dengan kameranya dalam waktu yang cukup lama.

Lintasan Sejarah Wae Rebo

Foto Tetua Adat Wae Rebo bersama Tim. Kredit foto: Luthfi Ridzki Fakhrian/pribadi
Dalam penjelasan tradisi sejarah lisan dari Tetua Adat di Wae Rebo (2022), dia menceritakan bahwa dahulu di Wae Rebo telah menetap 18 generasi. Seorang sesepuh dari satu komunitas memiliki visi dan mimpi. Dialah yang akhirnya memimpin sukunya ke dataran tinggi Flores di mana mereka menetap di bawah perlindungan roh yang bersahabat dan membangun Mbaru Niang.
Pada tahun 1997 pemerintah Nusa Tenggara Timur sempat mengambil langkah pertama dalam mendukung pengembangan Wae Rebo sebagai tujuan dari destinasi wisata. Mereka berinvestasi dalam pembangunan dua Mbaru Niang. Pada tahun 2008, kelompok 15 arsitek yang berbasis di Jakarta, dengan dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat, untuk merenovasi sisa Mbaru Niang.

Wae Rebo Sebagai Tempat Wisata Sejarah dan Budaya

Wae Rebo merupakan salah satu tempat wisata yang sangat terkenal di Flores Barat. Wae Rebo adalah tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi dan berbeda dari banyak “desa sejarah dan budaya” yang mungkin pernah kalian kunjungi di seluruh Indonesia. Dan banyak di negara lainnya.
Salah satu hal yang istimewa tentang desa ini adalah betapa sangat terpencilnya desa budaya itu. Adanya pembatasan jumlah wisatawan yang datang ke Wae Rebo juga semakin membuat perjalanan ke desa ini akan membuat siapa pun yang datang merasakan kenyamanan dan pengalaman yang luar biasa.
Pada siang hari wisatawan dapat menjelajahi lembah, berinteraksi dengan penduduk desa yang sangat ramah terhadap wisatawan dan teman perjalanan Anda atau hanya sekadar membaca buku. Ini benar-benar terserah kalian. Pada malam hari, langit Wae Rebo akan dipenuhi dengan bintang, yang menjadikannya tempat yang bagus untuk fotografi malam. Dan Anda akan tidur di salah satu rumah Mbaru Niang. Rumah Mbaru Niang, bila diterjemahkan memiliki arti sebagai "rumah gendang", yang merupakan bangunan komunal. Dibangun dengan tiang tengah, penyangga balok bambu dan atap jerami. Rumah-rumah tersebut berdiri setinggi 5 lantai dan dapat menampung hingga 8 keluarga, hasil panen dan makanan mereka.

Budaya Lokal Suku Manggarai dan Konservasi Hutan Flores

Nugraha dan Murtijo dalam Buku Antropologi Kehutanan (2005), mengatakan bahwa Hutan secara keseluruhan merupakan lingkungan budaya yang menjadi tumpuan sistem kehidupan yang menopang kehidupan masyarakat hutan. Budaya tersebut terbentuk dari hubungan timbal balik yang berkesinambungan dengan lingkungan sumber daya hutan.
Budaya yang ada di sekitar hutan memang bersifat unik dan spesifik karena beradaptasi dengan perubahan selama ratusan tahun sehingga sesuai dengan karakteristik hutan. Pelaksanaan program konservasi perlu mempertimbangkan budaya etnik lokal yang sesuai dengan karakteristik hutan.
Chennells R. dalam Jurnal Traditional knowledge and benefit sharing after the nagoya protocol: three cases from South Africa (165-183: 2013). Menuturkan bahwa Idiom merupakan bagian dari sistem kepercayaan masyarakat yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku yang kemudian diwujudkan dalam tindakan konservasi. Idiom adalah pola pikir masyarakat lokal, yang berakar dari kepercayaan tradisional dan spiritual.
Dari situ kita dapat melihat bahwa hutan dan kehidupan telah memberikan kearifan kepada masyarakat adat Manggarai di Wae Rebo untuk memiliki kata-kata bijak mengenai konservasi misalnya “mbau eta temek wa, tela galang pe'ang kete api” yang artinya “ketika di puncak gunung di bawah hijau maka banyak air, dalam tungku memiliki kayu bakar yang cukup, di atas makanan yang cukup untuk dimasak” dan sebenarnya memiliki makna yang sama dengan istilah konservasi yaitu penggunaan hutan yang berkelanjutan.

Dan pada akhirnya kita dapat melihat bahwa Masyarakat Suku Manggarai di Wae Rebo telah melakukan konservasi hutan berdasarkan kepercayaan, nilai, norma, dan tradisi yang diwariskan. Maka Pemerintah seharusnya dapat melaksanakan pengelolaan hutan lestari dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai subyek yang berpartisipasi aktif dalam pengelolaan hutan.
Keterlibatan aktif masyarakat lokal berdasarkan nilai, norma, dan tradisi konservasi lokal yang ada di hutan akan menjamin pengelolaan kelestarian sumber daya hutan dalam jangka yang panjang. Pergeseran paradigma dengan melibatkan secara total masyarakat adat dalam pengelolaan hutan seperti itu tentu akan membutuhkan perubahan dan tindakan yang berani dari pemerintah dalam peraturan kebijakan kehutanan nasional, karena hal itu sangat berguna untuk implementasi konservasi hutan yang efektif di masa depan.

Sumber : kumparan.com

0 comments: