Warganya Banyak yang Tak Mau Nikah dan Punya Anak, Jepang Kritis Penduduk

Rabu, November 30, 2022 Majalah Holiday 0 Comments


Baru-baru ini Juru Bicara Pemerintah Jepang menyatakan Negeri Sakura di tahun 2022 berada dalam situasi kritis. Mengapa? Sebab, jumlah bayi yang lahir di Jepang lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Sekretaris Kabinet, Hirokazu Matsuno, menjanjikan langkah-langkah komprehensif untuk mendorong lebih banyak pernikahan dan kelahiran.
Dilansir AP News, setidaknya pada periode Januari-September 2022 total kelahiran bayi di Jepang adalah 599.636. Ini artinya angka tersebut mencapai 4,9 persen di bawah angka kelahiran tahun lalu yang mencapai angka 811 ribu bayi.
Jepang merupakan pusat ekonomi terbesar ketiga di dunia, tetapi biaya hidup tinggi dan kenaikan upah lambat. Pemerintahnya sendiri telah tertinggal dalam membuat masyarakat lebih inklusif bagi anak-anak, perempuan, dan minoritas.

Sejauh ini, upaya pemerintah untuk mendorong masyarakat agar memiliki lebih banyak bayi berdampak terbatas, meskipun telah dilakukan pembayaran subsidi untuk kehamilan, persalinan, dan perawatan anak.
“Kecepatannya bahkan lebih lambat dari tahun lalu. Saya mengerti bahwa ini adalah situasi kritis,” kata Matsuno.
Banyak anak muda Jepang yang menolak keras untuk menikah atau memiliki keluarga, berkecil hati karena prospek pekerjaan yang suram, perjalanan yang berat, dan budaya perusahaan yang tidak sesuai untuk kedua orang tua yang bekerja.

Jumlah kelahiran telah menurun sejak tahun 1973, ketika mencapai puncaknya sekitar 2,1 juta bayi. Jumlah ini diproyeksikan akan turun menjadi 740.000 pada tahun 2040.
Saat ini populasi Jepang lebih dari 125 juta dan telah menurun selama 14 tahun. Pada 2060, jumlah penduduk Jepang diproyeksikan turun menjadi 86,7 juta. Populasi yang menyusut dan menua memiliki implikasi besar bagi ekonomi dan keamanan nasional.


Sumber : kumparan.com

0 comments: